Konten dari Pengguna

Menguatkan Ekonomi Syariah melalui Momentum Setelah Idul Adha

Dani Lukman Hakim

Dani Lukman Hakim

Wakil Rektor Bidang Riset dan Pengembangan Bisnis, Institut Teknologi Sains Bandung (ITSB).

·waktu baca 5 menit

comment
0
sosmed-whatsapp-white
copy-circle
more-vertical

Tulisan dari Dani Lukman Hakim tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

Ilustrasi Idul Adha. Foto: Generated by AI
zoom-in-whitePerbesar
Ilustrasi Idul Adha. Foto: Generated by AI

Takbir Idul Adha telah usai berkumandang. Jalan-jalan yang beberapa hari lalu dipenuhi aktivitas jual beli hewan kurban kini kembali normal. Namun, terdapat pertanyaan penting yang patut diajukan: Apakah semangat pengorbanan, solidaritas, dan kepedulian sosial juga ikut berlalu bersama dengan berakhirnya hari raya?

Di tengah berbagai tantangan ekonomi nasional—mulai dari tekanan daya beli masyarakat, ketidakpastian ekonomi global, hingga kesenjangan sosial yang masih nyata—momentum pasca-Idul Adha sesungguhnya menyimpan pelajaran besar tentang bagaimana ekonomi syariah dapat menjadi instrumen penting dalam membangun keadilan sosial dan memperkuat kesejahteraan masyarakat.

Selama ini, Idul Adha kerap dipahami hanya sebagai ritual keagamaan yang identik dengan penyembelihan hewan dan pembagian daging. Padahal, di balik praktik ibadah tersebut, terdapat dimensi ekonomi yang sangat kuat. Kurban bukan sekadar simbol spiritual tentang ketakwaan dan keikhlasan, melainkan juga instrumen redistribusi kesejahteraan yang memiliki dampak ekonomi luas.

Dalam satu momentum, terjadi perpindahan manfaat ekonomi dari kelompok masyarakat yang memiliki kemampuan finansial kepada masyarakat yang membutuhkan. Di sinilah kurban menunjukkan wajah ekonomi syariah yang sesungguhnya: tidak semata berorientasi pada keuntungan, tetapi juga pada kebermanfaatan, keadilan, dan pemerataan sosial.

Ilustrasi sapi untuk kurban. Foto: Anis Efizudin/ANTARA FOTO

Besarnya dampak ekonomi kurban dapat dibaca melalui data empiris yang tersedia. Pusat Kajian Strategis Badan Amil Zakat Nasional (Puskas BAZNAS) memproyeksikan bahwa potensi ekonomi kurban di Indonesia pada tahun 2025 mencapai sekitar Rp34,85 triliun.

Nilai tersebut berasal dari sekitar 3,56 juta rumah tangga pekurban dengan kebutuhan sekitar 2,8 juta ekor ternak, terdiri atas lebih dari 2,2 juta kambing dan domba serta sekitar 647 ribu ekor sapi yang diperkirakan menghasilkan hampir 240 ribu ton daging kurban. Angka ini menunjukkan bahwa Idul Adha tidak hanya menghadirkan aktivitas ibadah, tetapi juga menggerakkan ekosistem ekonomi nasional dalam skala yang sangat besar.

Perputaran ekonomi kurban tersebut melibatkan rantai usaha yang panjang dan saling terhubung. Di sektor hulu, terdapat peternak rakyat yang memelihara ternak selama berbulan-bulan, produsen pakan, tenaga kesehatan hewan, dan pedagang ternak. Pada tahap distribusi, aktivitas ekonomi melibatkan transportasi, logistik, tenaga penyembelihan, hingga jasa distribusi. Sementara di hilir, manfaat kurban diterima masyarakat melalui distribusi pangan dan peningkatan konsumsi protein hewani. Dengan demikian, kurban menghasilkan multiplier effect yang nyata, terutama bagi ekonomi rakyat.

Bagi peternak kecil di pedesaan, Idul Adha bahkan sering menjadi musim panen yang menentukan keberlanjutan usaha mereka. Tidak sedikit peternak yang menggantungkan pendapatan tahunan dari penjualan hewan kurban. Ketika masyarakat membeli dan menunaikan kurban, yang bergerak bukan hanya aktivitas keagamaan, melainkan juga denyut ekonomi lokal. Momentum ini memperlihatkan bahwa ekonomi syariah mampu menghadirkan hubungan yang harmonis antara ibadah dan pembangunan ekonomi masyarakat.

Ilustrasi ekonomi syariah. Foto: Dok. ChatGPT

Namun demikian, optimisme tersebut perlu dibaca secara kritis. Kajian Institute for Demographic and Affluence Studies (IDEAS) menunjukkan bahwa nilai ekonomi kurban tahun 2025 diperkirakan sekitar Rp27,1 triliun, lebih rendah dibandingkan tahun sebelumnya yang mencapai Rp28,3 triliun. Jumlah pekurban juga diperkirakan mengalami penurunan dari sekitar 2,16 juta menjadi 1,92 juta rumah tangga. Penurunan ini tidak dapat dipandang semata sebagai perubahan statistik ibadah, tetapi juga sebagai refleksi dari kondisi sosial-ekonomi masyarakat yang sedang menghadapi tekanan daya beli dan ketidakpastian ekonomi.

Fenomena tersebut memperlihatkan bahwa kondisi ekonomi nasional masih menyisakan tantangan serius. Di satu sisi, pertumbuhan ekonomi terus diupayakan dan sejumlah indikator makro menunjukkan pergerakan positif. Namun di sisi lain, manfaat pertumbuhan belum sepenuhnya dirasakan secara merata. Sebagian kelompok masyarakat menikmati akses ekonomi yang luas, sementara sebagian lainnya masih menghadapi keterbatasan pekerjaan layak, kerentanan pangan, dan minimnya akses terhadap sumber daya ekonomi produktif. Dengan kata lain, pertumbuhan ekonomi belum otomatis menghapus kesenjangan sosial.

Dalam konteks inilah, pesan Idul Adha menjadi sangat relevan. Kurban mengajarkan bahwa kesejahteraan tidak boleh berhenti pada akumulasi kekayaan pribadi, tetapi harus bergerak menuju distribusi manfaat yang lebih luas. Nilai tersebut sejalan dengan prinsip dasar ekonomi syariah yang menempatkan keadilan sosial sebagai orientasi utama. Islam mengenal berbagai instrumen seperti zakat, infak, sedekah, dan wakaf produktif yang bertujuan menjaga keseimbangan sosial serta mempersempit jurang ketimpangan.

Sayangnya, semangat solidaritas sering kali bersifat musiman. Kepedulian sosial meningkat menjelang Ramadan dan Idul Adha, tetapi perlahan menurun setelah momentum keagamaan berakhir. Akibatnya, energi sosial yang besar tidak selalu berubah menjadi sistem pemberdayaan yang berkelanjutan. Padahal, apabila dikelola secara lebih sistematis, ekonomi kurban dapat menjadi pintu masuk penguatan ekonomi syariah nasional yang lebih inklusif dan berdaya jangka panjang.

Ilustrasi sapi untuk kurban. Foto: ANTARA FOTO/Yusran Uccang

Bayangkan apabila rantai pasok kurban terhubung dengan koperasi syariah, peternakan binaan, pembiayaan mikro berbasis syariah, dan sistem distribusi pangan berbasis data sosial. Kurban tidak lagi dipahami sekadar sebagai kegiatan tahunan, tetapi juga berkembang menjadi ekosistem ekonomi yang memperkuat ketahanan pangan, meningkatkan kesejahteraan peternak, dan membantu mengurangi kesenjangan sosial. Bahkan, volume daging kurban yang besar memiliki potensi strategis dalam mendukung pemenuhan kebutuhan protein masyarakat serta membantu penanganan persoalan gizi dan stunting di berbagai wilayah.

Karena itu, momentum pasca-Idul Adha tidak boleh berhenti sebagai nostalgia ritual tahunan. Semangat pengorbanan perlu diterjemahkan dalam bentuk yang lebih luas, termasuk keberanian mengurangi egoisme ekonomi dan memperbesar ruang kepedulian sosial. Pengorbanan masa kini dapat hadir melalui dukungan terhadap usaha mikro dan kecil, pembukaan peluang kerja, pengembangan usaha yang berkeadilan, maupun penyisihan sebagian keuntungan untuk kegiatan sosial produktif.

Bangsa yang kuat bukanlah bangsa yang hanya menghasilkan pertumbuhan ekonomi tinggi, melainkan bangsa yang mampu memastikan bahwa pertumbuhan tersebut berjalan beriringan dengan keadilan sosial. Idul Adha telah berlalu, tetapi pesan sosial-ekonominya tidak boleh selesai.

Momentum pasca-Idul Adha seharusnya menjadi pengingat bahwa ekonomi syariah bukan sekadar identitas halal dalam transaksi, melainkan juga jalan untuk memperkuat solidaritas, memperluas kesejahteraan, dan menjembatani kesenjangan sosial yang masih membayangi Indonesia.