Konten dari Pengguna

Presiden Minta Pondok Pesantren Beri Pemahaman Soal Media Sosial ke Santri

19 Oktober 2017 12:41 WIB
clock
Diperbarui 14 Maret 2019 21:14 WIB
comment
0
sosmed-whatsapp-white
copy-link-circle
more-vertical
Tulisan dari Dani Wijaya tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan
Presiden Minta Pondok Pesantren Beri Pemahaman Soal Media Sosial ke Santri
zoom-in-whitePerbesar
ADVERTISEMENT
Di tengah gelombang revolusi sosial media saat ini, perilaku orang akan sangat dipengaruhi oleh informasi yang diterimanya. Untuk itu, proses memilih dan memilah informasi menjadi sangat penting bagi setiap orang.
ADVERTISEMENT
Apalagi saat ini banyak sekali informasi yang tidak sesuai dengan kenyataannya, atau yang sering disebut informasi hoax. Kita patut waspada agar tidak mudah tergiring atas arus tersebut.
Hal itu juga yang disampaikan oleh Presiden Joko Widodo dalam sambutannya saat menghadiri Rapat Koordinasi Nasional Pondok Pesantren Muhammadiyah di Pondok Pesantren Darul Arqam Muhammadiyah, Kabupaten Garut, Provinsi Jawa Barat, pada Selasa, 17 Oktober 2017.
Presiden Joko Widodo mengajak seluruh elemen masyarakat untuk meningkatkan kewaspadaan terhadap informasi yang beredar di media sosial. Mengingat saat ini, informasi yang beredar sangatlah beragam, baik yang positif maupun negatif.
“Ini yang harus kita waspadai. Media sosial kalau tidak bisa kita screening akan mempengaruhi anak-anak kita,” ucap Presiden.
ADVERTISEMENT
Salah satu upaya untuk menanggulangi itu, menurut Presiden Jokowi dapat dilakukan dengan membangun karakter dan menanamkan nilai agama sejak dini pada anak-anak. Meskipun sulit, namun Presiden yakin cara tersebut akan mempengaruhi perilaku, budaya, dan budi pekerti generasi penerus Indonesia di masa mendatang.
Dalam kesempatan itu, Presiden menceritakan bahwa penyebaran kabar bohong dan fitnah di media sosial tidak hanya terjadi di Indonesia. Di negara lain, seorang kepala negara pun menyebutkan bahwa di negaranya media mainstream dapat dikuasai, namun media sosial tidak dapat dikendalikan.
“Televisi dan koran bisa kita kuasai tapi media sosial tidak bisa,” ujar Presiden.
Kepala negara tersebut pun bertanya kepada Presiden Jokowi tentang aktivitas media sosial di Indonesia.
ADVERTISEMENT
“Bertanya kepada saya, bagaimana di Indonesia? Kalau di Indonesia media sosial kejam banget,” kata Presiden.
Presiden pun memberikan contoh bagaimana informasi hoax beredar yang digunakan untuk menyudutkan dirinya. Yaitu, melalui sebuah foto hasil rekayasa yang beredar di media sosial. Dalam foto itu, terpampang foto D.N. Aidit dan dirinya pada tahun 1955.
“Saya tahun 1955 belum lahir. Kalau orang tidak bisa menyaring kan bisa percaya. Ini maunya apa? Maunya membangun informasi yang dikelirukan,” ujar Presiden.
Oleh karenanya, Presiden mengingatkan agar pondok pesantren ikut serta bersama pemerintah memberikan pendidikan dan pemahaman dalam berperilaku positif di media sosial
Selain itu, Presiden Jokowi juga berharap agar Pondok Pesantren mampu memberikan pendidikan yang sesuai zaman kepada para santrinya agar selepas lulus, para santri dapat berkontribusi terhadap kemajuan bangsa di segala bidangnya.
ADVERTISEMENT
Dengan itu, kita bisa optimis melihat masa depan Indonesia. Bahwa kita ke depan dapat menjadi bangsa dan negara yang kuat, berdaulat, adil, dan makmur