Konten dari Pengguna

Kenapa Cowok "Dilarang" Pilih Jurusan yang Dianggap Perempuan

google
Ikuti kumparan di Google
info
Jadikan kumparan sebagai preferensi terpercayamu di Google
comment
0
sosmed-whatsapp-white
copy-circle
more-vertical

Tulisan dari Danis Putra Tumaulidin Syah tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

Gambar dibuat dengan bantuan AI
zoom-in-whitePerbesar
Gambar dibuat dengan bantuan AI

Coba lihat sekeliling kita. Di kampus-kampus, kita akan menemukan pemandangan yang sangat khas: mayoritas laki-laki memenuhi bangku kuliah di Teknik, Komputer, atau IPA murni. Sebaliknya, saat masuk ke jurusan seperti Ilmu Komunikasi, Psikologi, Sastra, atau Pendidikan, kita akan melihat lebih banyak wajah perempuan.

​Pembagian ini terasa wajar, padahal ini adalah cerminan dari tekanan tak terlihat di masyarakat. Tekanan ini menimbulkan apa yang kita sebut Krisis Maskulinitas yaitu rasa gelisah atau khawatir pada diri laki-laki ketika pilihan mereka dianggap "tidak cowok banget." Mereka merasa identitasnya sebagai laki-laki terancam hanya karena memilih jurusan yang dianggap "milik perempuan."

​Pertanyaannya sederhana: Kenapa laki-laki yang punya bakat di jurusan sosial malah sering diejek atau dicibir? Dan sejauh mana pandangan masyarakat dan media ikut-ikutan menentukan masa depan pendidikan mereka?

​Aturan Tak Tertulis tentang Gender di Kampus. Sejak lama, masyarakat punya aturan tak tertulis: laki-laki itu harus logis, kuat, berani ambil risiko, dan jadi pemimpin. Sifat-sifat ini dianggap cocok untuk bidang yang menghasilkan uang banyak dan kekuasaan, seperti Teknik atau Bisnis.

​Sementara, perempuan dianggap punya sifat yang lebih emosional, pandai berkomunikasi, dan perawat. Sifat-sifat ini lalu "ditempelkan" ke jurusan sosial dan humaniora. Ini adalah pembagian yang sangat kaku, padahal semua orang punya semua sifat itu.

​Stereotip ini semakin kuat karena peran media. Coba perhatikan iklan-iklan atau sinetron. Laki-laki selalu digambarkan memakai helm proyek, memperbaiki mesin, atau memegang mouse dengan serius (seolah cuma cowok yang bisa jadi engineer).

​Di sisi lain, perempuan digambarkan sedang mengajar, berdiskusi dengan senyum, atau menulis (seolah cuma cewek yang cocok di sosial). Penggambaran yang diulang-ulang ini menanamkan di benak kita bahwa jurusan itu ada jenis kelaminnya.

​Ironisnya, laki-laki didorong untuk mengejar sukses di bidang yang "keras" dan menuntut kekuasaan. Ini adalah bagian dari "Maskulinitas Beracun" (Toxic Masculinity) yang menuntut laki-laki agar tidak boleh lemah, tidak boleh sensitif, dan harus selalu berada di puncak. Memilih sosial dianggap melanggar aturan ini.

​Banyak laki-laki yang akhirnya memilih Komunikasi, Desain, atau Psikologi harus tebal kuping. Ejekan seperti, "Ih, kamu kok kuliah di jurusan cewek?" atau "Nanti mau jadi apa? Gak kelihatan keren!" sering mereka dengar dari teman-teman atau bahkan keluarga. Stigma ini membuat mereka merasa harus selalu membela diri atas pilihan yang seharusnya bebas.

​Ketika mereka menjadi minoritas di kelas yang didominasi perempuan, tekanan tak berhenti. Di satu sisi, mereka mungkin dianggap terlalu "kasar" atau kurang sensitif saat harus memimpin kelompok diskusi. Di sisi lain, mereka dicap "terlalu lembut" oleh teman-teman laki-laki dari jurusan lain. Mereka menghadapi tuntutan ganda: harus membuktikan bahwa mereka hebat di bidang sosial, sekaligus tidak kehilangan "jati diri" sebagai laki-laki.

​Ada satu ironi besar di dunia kerja. Meskipun jurusan sosial saat kuliah didominasi perempuan, ketika masuk dunia kerja, posisi-posisi puncakmisalnya Kepala HRD, Dekan Fakultas, atau Direktur Agency sering kali diduduki oleh laki-laki.

​Ini disebut "Eskalator Kaca" (Glass Escalator). Laki-laki yang "berani" masuk ke bidang yang didominasi perempuan sering kali naik tangga karier jauh lebih cepat daripada rekan-rekan perempuan mereka. Mereka memang harus melewati cibiran saat kuliah, tetapi ketika bekerja, sistem masih lebih mudah memberi kepercayaan dan promosi kepada laki-laki untuk peran kepemimpinan.

​Salah Pilih Jurusan: Banyak laki-laki akhirnya memilih jurusan yang tidak mereka minati hanya demi memenuhi harapan "cowok harus begini." Akibatnya, mereka jadi tidak semangat kuliah, prestasinya turun, dan ini bisa memicu stres berkepanjangan.

​Beban Mental: Mereka terus-menerus terbebani untuk membuktikan bahwa mereka tetap "jantan" meski belajar hal yang dianggap "feminin."

​Bagi Bidang Sosial dan Masyarakat

​Kurangnya Sudut Pandang: Jurusan sosial dan humaniora kehilangan banyak pemikiran dan bakat dari laki-laki. Padahal, adanya keragaman sudut pandang dari laki-laki dan perempuan akan membuat diskusi dan solusi masalah sosial menjadi lebih kaya.

​Kesetaraan yang Terhambat: Pembatasan pilihan ini menghambat tercapainya kesetaraan gender yang sesungguhnya di dunia kerja, karena potensi kedua pihak sudah dibatasi sejak mereka memilih jurusan kuliah.

​Jelas, krisis laki-laki di jurusan sosial bukanlah masalah karakter, melainkan masalah tekanan sosial dan pandangan yang kaku dari media dan masyarakat.

​Untuk memecahkan masalah ini, kita semua perlu bertindak:

​Untuk Media: Mulai sekarang, tampilkan gambaran yang lebih realistis dan netral. Tunjukkan bahwa laki-laki juga bisa sukses sebagai guru, designer, atau psikolog, bukan cuma sebagai insinyur.

​Untuk Kampus: Ciptakan suasana yang ramah untuk semua gender di semua fakultas. Promosikan keberhasilan semua mahasiswa, tanpa memandang jurusannya didominasi oleh siapa.

​Untuk Masyarakat: Kita harus mengubah arti kata "maskulin" itu sendiri. Menjadi laki-laki seharusnya berarti punya keberanian untuk mengikuti minat dan bakatnya, entah itu di bidang teknik, sosial, atau seni, tanpa perlu takut dicap aneh.

​Mari kita akui: kemampuan dan keahlian sejati tidak punya jenis kelamin.