Indonesia Memanas: Panas Ekstrem dan Banjir Jadi Ancaman Nyata

Mahasiswa Program Studi Pendidikan Ekonomi, Di Universitas Pamulang
·waktu baca 2 menit
Tulisan dari Danisa Febri Asyifa tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

Pemanasan global bukan lagi isu masa depan di Indonesia, ia sudah terasa nyata. Musim kemarau lebih panjang, hujan ekstrem muncul tiba-tiba, dan bencana alam seperti banjir dan longsor semakin sering menimpa berbagai daerah. Tahun ini, Bali dan beberapa wilayah di Jawa menghadapi banjir terburuk dalam lebih dari satu dekade, menenggelamkan rumah, merusak infrastruktur, dan mengganggu aktivitas ekonomi warga.
Dampak krisis iklim tidak hanya soal alam. Sektor ekonomi mulai menanggung tekanan. Pertanian dan perikanan terdampak cuaca ekstrem, memicu kerugian panen dan pasokan pangan terganggu. Sementara itu, urbanisasi yang cepat tanpa perencanaan kota yang ramah iklim membuat risiko banjir dan gelombang panas meningkat, menambah beban fiskal pemerintah.
Indonesia menghadapi dilema besar: kebutuhan untuk menjaga pertumbuhan ekonomi sambil menahan laju kerusakan lingkungan. Industri batu bara, yang masih dominan, memperlambat transisi energi bersih. Proyek ekspansi lahan untuk bioetanol dan perkebunan justru menambah deforestasi, melepas lebih banyak karbon ke atmosfer, dan mempercepat pemanasan.
Namun krisis ini juga membuka peluang. Pemerintah dan masyarakat dapat memperkuat kebijakan hijau, mempercepat energi terbarukan, serta melindungi ekosistem kritis seperti hutan, mangrove, dan lahan basah. Di tingkat komunitas, gerakan edukasi dan kesadaran lingkungan bisa mendorong perilaku lebih ramah iklim, mulai dari pengelolaan sampah hingga penggunaan transportasi berkelanjutan.
Pemanasan global adalah kenyataan yang tidak bisa dihindari. Indonesia sedang diuji: apakah kita cukup tegas menanggapi tanda-tanda alam, atau terus menunda hingga biaya yang harus dibayar jauh lebih besar? Masa depan negara tropis ini bergantung pada keputusan yang kita buat hari ini. Jika tidak ada langkah nyata, bencana alam, kerugian ekonomi, dan krisis sosial akan menjadi “normal baru” yang merugikan generasi mendatang.
