Ketika Daya Beli Melemah: Potret Nyata Ekonomi Kita

Mahasiswa Program Studi Pendidikan Ekonomi, Di Universitas Pamulang
·waktu baca 2 menit
Tulisan dari Danisa Febri Asyifa tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

Fenomena ini terlihat jelas di lapangan. Banyak rumah tangga menahan konsumsi, sekadar membeli kebutuhan pokok tanpa berani menambah barang sekunder. Harga pangan yang fluktuatif, kenaikan biaya energi, dan beban cicilan membuat dompet rakyat semakin tipis. Walau inflasi resmi diklaim terkendali, persepsi masyarakat terhadap mahalnya harga tetap tinggi. Hal ini menunjukkan adanya jurang antara data statistik dan pengalaman sehari-hari rakyat kecil.
Melemahnya daya beli tentu bukan sekadar isu konsumsi, tetapi menyangkut stabilitas sosial. Ketika masyarakat merasa kesejahteraan tidak sejalan dengan pertumbuhan ekonomi, muncul potensi kekecewaan dan keresahan. Kondisi ini bisa menggerus kepercayaan terhadap pemerintah maupun sistem ekonomi yang berlaku. Di sisi lain, lemahnya konsumsi domestik juga berdampak langsung pada sektor usaha, khususnya UMKM, yang menggantungkan hidup dari perputaran uang rakyat sehari-hari.
Sebagai negara dengan populasi lebih dari 270 juta jiwa, Indonesia sesungguhnya memiliki kekuatan besar pada pasar domestik. Namun kekuatan ini hanya bisa dimanfaatkan bila daya beli rakyat benar-benar terjaga. Artinya, kebijakan ekonomi tidak boleh berhenti pada pencapaian angka pertumbuhan, melainkan harus memastikan pendapatan riil masyarakat ikut meningkat. Upaya menjaga stabilitas harga pangan, memperluas lapangan kerja layak, serta meningkatkan upah minimum yang sesuai kebutuhan hidup layak menjadi langkah konkret yang mendesak.
Dalam konteks inilah, kita perlu kembali menegaskan bahwa pembangunan ekonomi seharusnya berorientasi pada manusia, bukan semata angka. Daya beli rakyat bukan hanya persoalan belanja, tetapi cerminan dari kesejahteraan, rasa aman, dan harapan masa depan. Ketika daya beli melemah, ekonomi sejatinya sedang memberi alarm peringatan. Sebaliknya, bila daya beli menguat, maka pertumbuhan ekonomi bukan sekadar cerita di atas kertas, melainkan kenyataan yang dirasakan setiap keluarga Indonesia.
