Konten dari Pengguna

Ketika Dompet Rakyat Menjadi Cermin Ekonomi Mikro

Danisa Febri Asyifa

Danisa Febri Asyifa

Mahasiswa Program Studi Pendidikan Ekonomi, Di Universitas Pamulang

·waktu baca 2 menit

comment
0
sosmed-whatsapp-white
copy-circle
more-vertical

Tulisan dari Danisa Febri Asyifa tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

pixels.com/foto oleh Ahsanjaya
zoom-in-whitePerbesar
pixels.com/foto oleh Ahsanjaya

Pertumbuhan ekonomi Indonesia belakangan ini kerap dipuji karena angka makro menunjukkan tren positif. IHSG menembus rekor baru, cadangan devisa menguat, dan laporan resmi menyebut pertumbuhan ekonomi tetap stabil. Namun, jika kita menoleh ke kehidupan sehari-hari, ada jurang yang terasa: dompet rakyat justru semakin menipis. Fenomena ini memperlihatkan betapa pentingnya menilai kondisi ekonomi dari sisi mikro, bukan hanya dari indikator makro.

Bagi rakyat kecil, ekonomi nyata diukur bukan dari grafik pertumbuhan, melainkan dari harga beras, tarif transportasi, dan kemampuan belanja harian. Kenaikan harga kebutuhan pokok membuat daya beli tertekan, terutama bagi kelompok masyarakat menengah ke bawah. Di sisi lain, para pelaku UMKM yang menjadi tulang punggung ekonomi nasional juga menghadapi tantangan berat: biaya produksi naik, permintaan turun, dan akses modal masih terbatas.

Ekonomi mikro sejatinya adalah cermin paling jujur dari kesejahteraan masyarakat. Jika rakyat masih kesulitan memenuhi kebutuhan dasar, berarti ada ketimpangan yang perlu segera dijembatani. Pemerintah memang telah meluncurkan berbagai program subsidi dan bantuan sosial, namun tanpa penguatan struktural pada sektor UMKM dan pasar rakyat, dampaknya hanya bersifat sementara.

Solusi jangka panjang perlu diarahkan pada tiga hal utama. Pertama, memastikan distribusi pangan yang stabil agar harga kebutuhan pokok tidak fluktuatif. Kedua, memperluas akses permodalan dan digitalisasi bagi UMKM, sehingga mereka mampu bersaing dan bertahan di tengah tekanan global. Ketiga, kebijakan fiskal dan moneter harus benar-benar berpihak pada penguatan daya beli masyarakat, bukan hanya menjaga angka pertumbuhan di atas kertas.

Pada akhirnya, kesehatan ekonomi tidak bisa diukur hanya dari stabilitas makro. Dompet rakyat sederhana namun nyatadalah barometer sesungguhnya. Jika rakyat mampu belanja dengan tenang, pasar bergerak dinamis, dan UMKM terus tumbuh, barulah kita bisa mengatakan ekonomi Indonesia benar-benar sehat, dari atas hingga ke bawah.