Konten dari Pengguna

Us Dolar Tembus Rp17.000 Lebih, Mental Kamu Aman?

Arya Daniswara

Arya Daniswara

Mahasiswa UIN Jakarta Fakultas Psikologi

·waktu baca 5 menit

google
Tambah ke Prefensi Google
info
Jadikan kumparan sebagai preferensi terpercayamu di Google
comment
0
sosmed-whatsapp-white
copy-circle
more-vertical

Tulisan dari Arya Daniswara tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

https://img.magnific.com/free-vector/global-virtual-money-transfer-techno-concept-background-set_1017-52401.jpg?semt=ais_hybrid&w=740&q=80
zoom-in-whitePerbesar
https://img.magnific.com/free-vector/global-virtual-money-transfer-techno-concept-background-set_1017-52401.jpg?semt=ais_hybrid&w=740&q=80

Akhir-akhir ini Indonesia dihebohkan dengan kondisi ekonomi Indonesia, yaitu mata uang rupiah yang melemah terhadap dolar menjadi Rp17.600 per tanggal 15 Mei. Teuku Riefky peneliti LPEM FEB UI menjelaskan bahwa melemahnya rupiah memberikan dampak kenaikan harga pada bahan baku impor, sehingga biaya produksi semakin mahal untuk pengusaha di Indonesia, efeknya biaya hidup menjadi semakin mahal (Wahyuni & Irham, 2026).

Kondisi ini menjadi penting dalam konteks kesehatan mental, dengan ekonomi yang melemah kesejahteraan hidup akan menjadi lebih sulit untuk tercapai. Talamonti et al., (2024) melakukan penelitian dengan cara mereview 98 artikel jurnal dan 48 di antaranya meneliti tentang bunuh diri pada kondisi krisis finansial, dari 48 studi, 30 studi melaporkan bahwa pada saat krisis finansial angka bunuh diri melonjak, baik saat krisis berlangsung maupun setelahnya.

Peningkatan angka bunuh diri pada krisis finansial seperti tahun 2008 dipengaruhi oleh beberapa faktor. Salah satunya adalah pengangguran, terutama pada laki-laki dan masyarakat di negara dengan tingkat pengangguran atau pendapatan yang rendah. Menariknya, negara dengan tingkat pengangguran yang rendah masyarakatnya berpotensi lebih rentan secara psikologis ketika kehilangan pekerjaan karena pengalaman tersebut jarang terjadi sehingga kehilangan pekerjaan menjadi pengalaman yang traumatis. Kedua adalah efisiensi anggaran khususnya pada bidang kesehatan, pendidikan, dan bantuan sosial. Ketiga adalah negara yang memiliki alokasi anggaran yang rendah pada bidang sosial, negara seperti itu cenderung diasosiasikan dengan angka bunuh diri yang lebih tinggi (Talamonti et al., 2024). Walaupun fenomena rupiah melemah menjadi Rp17.000 masih belum setara dengan krisis finansial global tahun 2008, kondisi ekonomi Indonesia saat ini berpotensi meningkatkan tekanan psikologis masyarakat.

Talamonti et al., (2024) menjelaskan bahwa krisis finansial meningkatkan beragam jenis gangguan mental secara signifikan seperti depresi, kecemasan, rasa sakit secara fisik akibat tekanan psikologis, dan gangguan terkait alkohol, sebagaimana terlihat pada peristiwa krisis finansial global tahun 2008. Selain itu krisis finansial dapat memberikan efek yang memperburuk keadaan seperti pemecatan, pemotongan gaji, kehilangan tabungan, dan kesulitan membayar cicilan rumah dapat meningkatkan kemungkinan seseorang mengalami gangguan mental (Talamonti et al., 2024).

Setelah membahas dampak krisis finansial terhadap kesehatan mental, solusi atau langkah preventif menjadi penting untuk dibahas. Menurut Talamonti et al., (2024) berikut merupakan faktor yang melindungi individu sehingga meminimalisir dampak negatif terhadap kesehatan mental:

a. Sistem kesejahteraan sosial yang kuat

Talamonti et al., (2024) membahas studi yang dilakukan oleh Ásgeirsdóttir et al., (2020) dan Merzagora et al., (2016) yang menemukan angka bunuh diri cenderung stabil atau hanya sedikit meningkat selama krisis finansial. Hal ini dikarenakan studi dilakukan pada negara dengan sistem kesejahteraan sosial yang kuat, yang menunjukkan pentingnya safety net berperan dalam mengurangi tekanan psikologis masyarakat saat kondisi ekonomi sedang memburuk.

b. Dukungan Sosial

Pada umumnya dukungan sosial merupakan hal yang penting tidak hanya pada konteks krisis finansial, hal ini menjadi penopang dasar kesehatan mental seseorang pada kondisi krisis, Talamonti et al., (2024) menyoroti studi yang dilakukan oleh Snorradóttir et al., (2013) bahwa dukungan sosial memiliki hubungan yang negatif dengan tekanan psikologis.

c. Konteks Negara

Dampak krisis ekonomi berbeda-beda setiap negara, karena semua negara memiliki kondisi sosial, ekonomi, dan dukungan yang berbeda. Hal ini dibagi menjadi dua faktor yaitu makro seperti utang pemerintah, sistem kesejahteraan sosial, dan sistem pendanaan kesehatan, sedangkan faktor mikro contohnya seperti dukungan keluarga. Dapat kita simpulkan untuk melihat pengaruh krisis ekonomi kita tidak hanya melihat kondisi makro saja tetapi juga kondisi mikro karena ada negara yang memiliki kondisi ekonomi yang baik tetapi secara sosial mereka individualis begitu pula sebaliknya.

Selain itu Talamonti et al., (2024) membuat ASPIRE yaitu prinsip dan tindakan berbagai pihak untuk mencegah terjadinya dampak buruk krisis finansial terhadap kesehatan mental dan kesejahteraan. ASPIRE terdiri menjadi enam bagian yaitu:

a. Membangun kepercayaan melalui kolaborasi dan komunikasi

● Hal ini dapat dilakukan dengan melakukan komunikasi yang transparan, konsisten, dan jelas mengenai tindakan, kebijakan, dan sumber daya yang pemerintah miliki saat terjadinya krisis finansial untuk mengurangi ketidakpastian yang dirasakan oleh masyarakat.

● Akuntabilitas terhadap individu atau organisasi yang melakukan pelanggaran dalam urusan finansial

● Melakukan advokasi mengenai pentingnya dukungan sosial

● Mengajak semua pihak dari berbagai sektor seperti bisnis, organisasi, dan masyarakat sipil dalam pembuatan kebijakan

● Bekerja sama dengan negara tetangga agar dapat mengkoordinasikan respon terhadap krisis finansial global.

b. Perlindungan terhadap pekerjaan dan lapangan pekerjaan

● Mengimplementasikan kebijakan yang mendukung untuk mempertahankan pekerjaan dan lapangan pekerjaan, seperti subsidi untuk mempertahankan karyawan, investasi pada infrastruktur, dan menjalankan program untuk mendorong kewirausahaan.

● Alokasi sumber daya pada bidang pendidikan dan pelatihan untuk membantu individu mendapatkan keahlian sehingga dapat beradaptasi dengan perubahan permintaan pasar kerja.

c. Melakukan rencana jangka panjang

● Membangun dan mengimplementasikan rencana ekonomi jangka panjang yang memprioritaskan ketahanan dan keberlanjutan untuk meminimalisir terjadinya krisis finansial di masa depan.

d. Implementasi perlindungan sosial (Bansos)

● Mendorong inklusi keuangan dan praktik pinjaman yang bertanggung jawab

● Menyediakan keringanan hutang untuk individu dan bisnis yang terjerat utang berlebihan

● Memperkuat program bantuan pengangguran, bantuan pangan, dan tempat tinggal

e. Regulasi keuangan dan kebijakan ekonomi

● Memperkuat regulasi keuangan untuk mencegah pengambilan resiko berlebihan

● Meniru model negara dengan sistem kesejahteraan yang kuat

● Menerapkan kebijakan fiskal moneter dan fiskal yang stabil

f. Akses layanan kesehatan yang dapat dijangkau

● Memastikan pelayanan kesehatan termasuk kesehatan mental tersedia bagi semua warga negara, terutama pada saat krisis

● Alokasi anggaran untuk mengembangkan layanan kesehatan mental dan perlahan menghilangkan stigma yang biasanya diasosiasikan ketika meminta pertolongan untuk kesehatan mental melalui promosi ataupun metode lain

● Memberikan pelatihan pada tenaga kesehatan profesional untuk melakukan penilaian kesehatan mental pasien

Referensi

Talamonti, D., Schneider, J., Gibson, B., & Forshaw, M. (2024). The impact of national and international financial crises on mental health and well-being: a systematic review. Journal of Mental Health, 33(4), 522–559. https://doi.org/10.1080/09638237.2023.2278104

Wahyuni, T., & Irham, M. (2026, 15 Mei). Rupiah cetak rekor terlemah baru, apa yang akan terjadi selanjutnya?. BBC News Indonesia. https://www.bbc.com/indonesia/articles/c5y9eexrq9zo

Penulis

Arya Daniswara, Mahasiswa Fakultas Psikologi UIN Syarif Hidayatullah Jakarta (Author).

Dr. Rachmat Mulyono M.Si., Psikolog, Dosen Fakultas Psikologi UIN Syarif Hidayatullah Jakarta (Co-Author).