Kuliah di Luar Negeri: Antara Cita-cita dan Realita Finansial

Mahasiswa Universitas Muhamadiyah Jakarta, Fakultas Ilmu Sosial dan Politik, Prodi Ilmu Komunikasi. Public Speaker - Articles Writter
ยทwaktu baca 4 menit
Tulisan dari Musyafa Danish Alfitra tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

Ketika berbicara tentang rencana kuliah negeri, pastinya kita selalu menganggap itu hal yang keren bukan? dengan dalih ingin menempuh pendidikan yang berkualitas, ingin meningkatkan skill berbahasa Inggris, hingga dengan dalih mendapatkan pertemanan yang luas dalam landscape internasional. Tapi pernah gak sih kita berkaca sudahkah kita siap akan semua tantangan yang datang setelah memustuskan itu semua?
Ketika umur beranjak ke 18 tahun, kita berada dalam fase pencarian jati diri, sangat bersemangat ketika berupaya untuk meraih sesuatu, mulai membutuhkan validasi dari orang di sekitar akan sebuah pencapaian yang telah diraih. Disisi lain orang yang paling dekat lingkupnya dengan kita yaitu orang tua, pastinya selalu mendukung apa yang baik bagi anaknya dan tentunya sangat senang apapun pencapaian yang didapatkan anaknya.
Kuliah di luar negeri adalah hal yang didambakan orang tua untuk anaknya, ketika hal tersebut menyoal tentang masa depan anaknya mereka akan berupaya sebisanya agar memenuhi hal tersebut, apalagi ketika sang anak sudah penuh akan ambisi ingin sukses seperti role modelnya, dengan semangat berkata dalam hati "Gue bakal manfaatin kesempatan ini sebaik-baiknya, pasti gua bisa berkembang disana!"
Realita vs Gengsi
Bagi orang tua yang ingin menyekolahkan anaknya di luar negeri dan bagi teman-teman yang sudah memiliki planning untuk kuliah di luar negeri, siapkah untuk menerima segala tanggungan dan tantangannya? agar lebih lengkap akan saya bahas satu per satu.
Financial
Sebagian keluarga mempunyai background yang berbeda-beda, ada yang terlahir dengan keadaan sejatera atau bisa dikatakan "orang punya" ada pula yang terlahir dengan hidup seadanya alias "pas-pasan". Kuliah diluar negeri bukanlah hal yang murah, terkecuali teman-teman memiliki prestasi dan mendapatkan beasiswa full di luar negeri.
Pastikan semua biaya yang harus ditanggung ketika kuliah di luar negeri, mulai dari biaya masuk, SPP, visa, tiket pesawat, biaya hidup disana, bagaimana perbandingan mata uang Indonesia dengan negara yang dituju, hingga segala macam biaya administrasi. Banyak bukan? tentunya bukan uang 1 juta 2 juta, melainkan jauh lebih besar daripada itu.
Beralih kepada perspektif orang tua, apakah bapak dan ibu telah yakin menyekolahkan anaknya di luar negeri? Bagaimana kondisi finansial setelah mengeluarkan seluruh biaya untuk anaknya? finansial masih stabil atau tidak.
Seringkali orang tua dibutakan oleh realita finansial yang dimiliki, alih-alih mendukung ambisi anaknya, finansial justru ambruk karena kasih sayang yang berlebihan, bukannya membahagiakan anak tapi malah menambah beban pikiran bapak ibu yang akan berdampak pada anaknya dikemudian hari.
Niat
Selanjutnya yang tak kalah penting adalah niat, apakah teman-teman benar-benar punya niat yang kuat untuk kuliah di negeri? berjanjilah ke diri sendiri untuk bersungguh-sungguh ketika sudah di titik resmi berkuliah di luar. Bagaimana kehidupan dan pencapaian hanya teman-teman sendiri yang bisa menentukan, apa yang akan kalian bawa setelah lulus nanti apakah mampu mengangkat derajat keluarga sesuai dengan ambisi awal, apakah hanya sekedar menggugurkan kewajiban yang sudah diamanatkan oleh orang tua?
Berdasarkan pengalaman penulis semasa kuliah di luar negeri, tak banyak orang yang benar-benar sungguh-sungguh ketika sudah mendapatkan kesempatan emas ini. Alih-alih punya ambisi kuat diawal kuliah, di pertengahan hanya bisa menggerutu akan mata kuliah yang rumit, akhirnya berdampak pada nilai akademik yang buruk dan hilangnya semangat untuk kuliah.
Bahasa
Terakhir adalah bahasa, sudahkah teman-teman mempersiapkan kemampuan berbahasa internasional? Bahasa merupakan kunci utama hidup sebagai mahasiswa internasional, bagaimana nanti dapat menerapkannya dalam percakapan setiap hari, bahkan yang lebih penting lagi adalah bagaimana kita mampu memahami kuliah yang diberikan oleh dosen.
Keputusan ada di tangan teman-teman, kalau ingin menjalani kuliah dengan mudah maka dalamilah ilmu bahasa, tak hanya bahasa Inggris namun juga bahasa negara yang dituju. Mengapa demikian? Realitanya di kampus akan lebih banyak orang lokal yang menggunakan bahasa nasionalnya dalam percakapan sehari-hari ketimbang bahasa Inggris, maka ini juga penting untuk memudahkan adaptasi dan memperluas relasi di negara tersebut.
Pertimbangan kuliah di luar negeri harus dipikirkan matang-matang, tak hanya memikirkan gengsi semata, namun perlu juga memikirkan secara realistis keadaan, mulai dari finansial, niat hingga kemampuan berbahasa. Jika ketiga hal ini tidak di pertimbangkan matang, akan berdampak buruk tak hanya untuk pribadi namun juga keluarga inti.
Alih-alih membahagiakan, justru malah terjun dalam masalah baru yang akan lebih berat nantinya ketika dibarengi dengan masalah perkuliahan.
