Konten dari Pengguna

Hidden Gem di Kota Bandung! Rahasia Manis Secangkir Kopi dan Motor Antik

Danish Wafi Fazila

Danish Wafi Fazila

Halo! Saya merupakan mahasiswa Program Studi Jurnalistik Fakultas Ilmu Komunikasi Universitas Padjadjaran.

·waktu baca 5 menit

comment
0
sosmed-whatsapp-white
copy-circle
more-vertical

Tulisan dari Danish Wafi Fazila tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

ClassiQue Cafe, tampak depan (sumber foto: danishwafifazila)
zoom-in-whitePerbesar
ClassiQue Cafe, tampak depan (sumber foto: danishwafifazila)

Bandung - Siang itu, matahari bersembunyi di balik lembutnya awan. Senyapnya silau cahaya seolah mengundang angin sejuk yang perlahan masuk membaur dengan aroma familiar memenuhi ruangan. Tring! Bel berbunyi nyaring memecah hening garasi, tanda secangkir kopi siap dihidangkan.

Aroma kopi yang tajam nan lembut, mengundang siapa pun yang berjalan di luar untuk mampir ke dalam. Garasi milik seorang pensiunan bank yang dikemas secara industrial untuk menjajakan koleksi mobil dan motor antiknya. Tanpa papan nama mencolok maupun promosi digital, kafe ini rapi dari hiruk-pikuk kota. Rahasia kecil dari keluarga berhati besar.

Pak Edwin, dalam garasinya (sumber foto: danish wafi fazila)

Pak Edwin, Ini kalau dijadikan cafe bagus tempatnya,” gurau Sentot.

-

Magis Dalam Gurauan

Percakapan penuh canda seorang keponakan kepada pamannya saat halal bihalal. Pemandangan ruang garasi, menyita pandangan Sentot hingga ide merekah dalam lamunannya. Konsep semi industrial dan Otomotif, katanya.

Bukan main! Sang paman, Pak Edwin kembali menghubungi Sentot tiga bulan kemudian untuk menyerahkan garasi dan menjalankan idenya. Hingga pada tahun 2022 lahirlah sebuah kafe di tengah perumahan komplek Setiabudi Regency, Bandung. ClassiQue Cafe, Nomor 241.

Sang Paman tidak merasa terganggu dengan aktivitas kafe. Justru senang karena bisa memberikan manfaat bagi sekitar sekaligus memberikan lahan bagi keponakannya kembali bangkit melampaui guncangan pandemi Covid-19.

Motor antik era 1970-an, Honda CB (sumber foto: danishwafifazila)

Cap Antik Di Hati Pelanggan

Setiap sudut ruangan berlapiskan semen dan bata tersebut dipenuhi oleh kendaraan dengan kisahnya masing-masing. Salah satunya adalah motor merah ini. Koleksi motor tertua Pak Edwin yang dikenal sebagai siki nangka. Motor Honda tua dengan desain unik dan aura yang klasik.

Satu motor klasik dari aura klasik lainnya melengkapi jawaban atas makna ClassiQue Cafe. Pak Edwin dan sang istri benar mencintai hal klasik dan sederhana. Nuansa interior dan detail ruangan pun bukan direkayasa untuk mengikuti tren semata.

Tidak hanya besar selera, pasutri ini pun memperbolehkan setiap pengunjung untuk berswafoto atau bahkan menaiki kendaraannya saat berfoto. Pak Edwin telah melepas setiap AKI motor untuk mencegah pemborosan dan hal yang tidak diinginkan.

Sebagai pemilik, Pak Edwin dan istri senang berbaur bahkan bercakap dengan pengunjung. Hal sederhana yang seringkali mengecap di hati pelanggan.

Sentot dan Vera, pengelola ClassiQue Cafe (sumber foto: danishwafifazila)

Setapak Cercah Usai Beralih Profesi

Sentot Helmawan (48) dan Vera Anggraeni (47) merupakan sepasang suami istri yang telah mengarungi suka-duka bersama. Dulu, mereka sama-sama bekerja di Bank, meskipun dengan nama yang berbeda. Keduanya mengakhiri profesi mereka sebagai bankers sejak Sentot memasuki masa pensiun dan Vera resign untuk memulai usaha.

Sentot bukan penikmat kopi. Ia terbesit untuk mendalami kopi sejak perjalanan dinasnya keluar kota, seminar kabid dinas penanaman modal yang memprediksi cenderung naiknya tren kopi pada tahun 2018.

Bermodalkan uang pensiunan, keduanya berhasil membangun kafe kopi pada tahun yang sama, bernama Sasena yang berpusat di kuningan.

Awalnya Sentot dan Vera merekrut barista. Setelah dua tahun berjalan, Sentot berhasil secara otodidak mempelajari proses produksi kopi dari bahan mentahnya.

“Kopi itu mulai dari buah kopinya sampai ampasnya itu bisa jadi bisnis, sama kayak kelapa”.

Kulit terluar kopi yang keras dapat dimanfaatkan sebagai pakan ternak berupa gabah yang tinggi protein. Buah kopi kemudian melalui proses pulper untuk memisahkan biji kopi dan buahnya. Selanjutnya biji kopi disangrai menjadi kopi dan ampasnya dapat dijadikan sebagai bahan baku kosmetik.

Kalo kitanya kreatif, ada modal, sebetulnya peluang bisnis kopi itu bagus,” tutur Sentot.

-

Suasana hangat salah satu sudut kafe (sumber foto: danishwafifazila)

Tersembunyi dan Mulai Menyepi

Hanya dibuka saat weekend, tidak termasuk tanggal merah. kafe ini menjadi kafe ke-7 yang dikelola oleh Sentot dan Rara. Tiga sampai enam bulan pertama antusias warga sekitar begitu ramai, setiap sudut kafe hidup dengan pembicaraan masing-masing. Namun, pelanggan mulai berkurang memasuki bulan ketujuh.

Sentot mengasumsikan bahwa saat itu tren kopi di Indonesia mulai menurun, orang-orang sudah mulai jenuh ditambah keadaan ekonomi yang sedang tidak baik-baik saja. Bangkit dari covid, rasanya lebih sering menimbang. Dibandingkan membeli kopi, lebih baik saving money untuk kebutuhan pokok di rumah. Tidak hanya itu, tetapi naiknya angka kriminalitas juga menjadi pertimbangan.

Satu tahun setengah berjalan ke depan, ClassiQue Cafe mulai menetapkan waktu operasional yang hanya setiap akhir pekan mulai pukul 09.00 sampai dengan 10.00 WIB. Dan akan beristirahat saat memasuki bulan Ramadhan hingga sebulan setelahnya.

Nomor 241 (sumber foto: danishwafifazila)

Kacamata Kelabu

Hidden gem bukan selalu tentang keramaian di tempat tersembunyi”.

ClassiQue Cafe bukan dibentuk untuk sekedar mengejar target tingginya pengunjung. Dengan menawarkan nuansa rumahan, udara segar, tempat yang minim kendaraan berlalu lalang, privat, tenang dan nyaman, mereka lebih mengejar target pengunjung yang ingin menikmati ambience.

Banyaknya adaptasi yang harus dikedepankan, membuat pengelolaan kafe luput dari promosi digital. Kelemahan ini menjadi kegentingan Sentot dan Vera untuk tetap bertahan di era digital.

Sempat dibantu anak dan ponakan untuk mengelola media sosial, tapi tetap menggantung karena tersita kesibukan berkuliah. Mereka mengakui bahwa pendapatannya pun kian menurun dan tidak mampu bertahan jika hanya mengandalkan penghasilan kafe secara offline. Untungnya mereka masih sering menyeduhkan kopi di ragam acara eventual yang lebih menjanjikan.

Mereka tidak ingin membuka cabang, akan tetap mempertahankan satu pusat kafe offline. Dengan harapan cafe ini lebih dikenal banyak orang melalui kebaikan hati dan ikhtiar.

Suatu saat insyaAllah pasti ada saatnya cafe kita rame,” tutur Vera.