Konten dari Pengguna

FOMO, Jebakan Tak Kasatmata bagi Remaja di Era Media Sosial

google
Ikuti kumparan di Google
info
Jadikan kumparan sebagai preferensi terpercayamu di Google
comment
0
sosmed-whatsapp-white
copy-circle
more-vertical

Tulisan dari DANU FADIL ARAHMAN tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

https://genta.fkip.unja.ac.id/2025/12/29/fear-of-missing-out-fomo-dan-kesehatan-mental-remaja-di-era-digital/
zoom-in-whitePerbesar
https://genta.fkip.unja.ac.id/2025/12/29/fear-of-missing-out-fomo-dan-kesehatan-mental-remaja-di-era-digital/

Pernahkah Anda merasa gelisah ketika melihat teman-teman mengunggah foto liburan, nongkrong, atau meraih prestasi, sementara Anda sendiri hanya berada di rumah? Perasaan tidak nyaman itu dikenal dengan istilah fear of missing out atau FOMO, yaitu rasa takut tertinggal dari pengalaman, tren, dan kabar yang sedang dinikmati orang lain. Istilah ini dipopulerkan oleh Patrick McGinnis pada awal 2000-an, tetapi gejalanya kini terasa jauh lebih nyata dalam kehidupan remaja. Menurut saya, FOMO bukan sekadar perasaan sesaat yang bisa diabaikan. FOMO adalah masalah serius yang diam-diam merusak kesehatan mental, kebiasaan finansial, dan produktivitas remaja Indonesia, sehingga perlu segera kita sadari dan atasi bersama.

Alasan pertama, FOMO membuat remaja sulit merasa cukup dengan hidupnya sendiri. Media sosial hanya menampilkan potongan terbaik dari kehidupan seseorang, liburan yang menyenangkan, penampilan yang rapi, dan pencapaian yang membanggakan. Jarang ada yang mengunggah hari-hari yang membosankan atau kegagalan yang menyakitkan. Ketika remaja membandingkan kehidupannya yang apa adanya dengan kehidupan terbaik orang lain, yang muncul adalah rasa cemas, iri, dan rendah diri. Penelitian Andrew Przybylski dan rekan-rekannya pada 2013 menemukan bahwa orang dengan tingkat FOMO yang tinggi cenderung kurang puas dengan hidupnya dan lebih sering menggunakan media sosial, bahkan pada saat yang tidak tepat seperti ketika mengemudi atau mengikuti kuliah. Artinya, FOMO bukan hanya persoalan perasaan, tetapi sudah memengaruhi perilaku sehari-hari.

Alasan kedua, FOMO berkaitan erat dengan besarnya paparan media sosial pada generasi muda. Survei Asosiasi Penyelenggara Jasa Internet Indonesia (APJII) tahun 2024 mencatat bahwa pengguna internet di Indonesia mencapai 221.563.479 orang dengan tingkat penetrasi 79,5 persen. Dari seluruh pengguna tersebut, Gen Z menyumbang kontribusi terbesar, yaitu 34,4 persen. Data ini menunjukkan bahwa generasi muda adalah kelompok yang paling lama dan paling sering terhubung dengan layar. Semakin sering mereka membuka media sosial, semakin sering pula mereka disuguhi hal-hal yang membuat mereaka merasa tertinggal. Lingkaran ini sulit diputus karena rasa takut tertinggal justru mendorong mereka untuk membuka ponsel lebih sering lagi.

Alasan ketiga, FOMO mendorong perilaku konsumtif dan pergaulan yang tidak sehat. Karena takut dianggap ketinggalan zaman, banyak remaja membeli barang yang sedang viral, ikut mengantre makanan yang sedang ramai dibeli, atau memaksakan diri untuk ikut nongkrong di tempat yang sedang viral seperti cafe baru atau sejenisnya. Uang saku yang seharusnya dipakai untuk kebutuhan belajar habis untuk memenuhi gengsi. Dalam pergaulan, remaja juga mudah ikut-ikutan tanpa menimbang baik dan buruknya, mulai dari tren tantangan di media sosial hingga gaya hidup yang tidak sesuai dengan kemampuan keluarga. Keputusan yang diambil karena takut ditinggalkan biasanya bukan keputusan yang matang.

Alasan keempat, FOMO mengganggu fokus belajar dan kesehatan. Remaja yang takut ketinggalan kabar cenderung memeriksa ponsel terus-menerus, termasuk saat belajar, saat mengerjakan tugas, dan menjelang tidur. Waktu belajar terpecah oleh notifikasi, konsentrasi melemah, dan jam tidur berkurang. Dalam jangka panjang, kebiasaan ini dapat menurunkan prestasi akademik sekaligus membuat tubuh dan pikiran mudah lelah. Ironisnya, remaja yang ingin selalu "update" justru kehilangan hal yang paling penting, yaitu waktu dan perhatian untuk mengembangkan dirinya sendiri.

Dampak FOMO juga tidak berhenti pada individu. Ketika banyak remaja merasa cemas dan tidak percaya diri secara bersamaan, lingkungan belajar dan pergaulan ikut terpengaruh. Kelas menjadi lebih sunyi karena sibuk dengan layar masing-masing, percakapan tatap muka berkurang, dan persahabatan lebih sering diukur dari jumlah suka serta komentar. Jika dibiarkan, generasi muda yang kelak menjadi penerus bangsa akan tumbuh dengan rasa tidak pernah cukup, padahal bangsa ini membutuhkan generasi yang tenang, percaya diri, dan mampu berpikir kritis.

Sebagian orang mungkin berpendapat bahwa FOMO bisa menjadi pemicu semangat karena membuat remaja lebih aktif, lebih terbuka terhadap informasi, dan tidak mau tertinggal dalam hal positif. Pendapat itu memang tidak sepenuhnya salah, sebab keinginan untuk berkembang adalah hal yang baik. Namun, semangat yang lahir dari rasa takut berbeda dengan semangat yang lahir dari tujuan. Remaja yang bergerak karena takut dianggap ketinggalan zaman akan mudah lelah, mudah membandingkan diri, dan sulit menikmati proses. Mereka mengejar apa yang dilakukan orang lain, bukan apa yang sebenarnya mereka butuhkan dan inginkan.

Lalu, apa yang dapat kita lakukan? Pertama, remaja perlu belajar mengatur waktu bermedia sosial, misalnya dengan membatasi durasi penggunaan media sosial, mematikan notifikasi yang tidak penting, dan menjadwalkan waktu bebas ponsel saat belajar maupun sebelum tidur. Kedua, remaja perlu melatih kesadaran bahwa apa yang mereka lihat di layar bukan gambaran utuh kehidupan seseorang. Setiap orang memiliki jalan dan waktunya masing-masing. Ketiga, orang tua, guru, dan dosen perlu hadir sebagai pendamping yang mau mendengar, bukan hanya melarang. Terakhir, remaja dapat mengganti FOMO dengan JOMO atau joy of missing out, yaitu kebahagiaan karena berani melewatkan hal yang tidak penting demi hal yang lebih bermakna.

Dengan demikian, FOMO tidak boleh dianggap sebagai masalah sepele yang akan hilang dengan sendirinya. Rasa takut tertinggal telah membuat banyak remaja cemas, boros, dan kehilangan fokus, padahal masa muda seharusnya dimanfaatkan untuk belajar, berkarya, dan mengenal diri sendiri. Sudah saatnya kita berhenti berlari mengejar kehidupan orang lain dan mulai menikmati perjalanan kita sendiri. Tidak ada yang benar-benar tertinggal, karena setiap orang sedang berjalan di jalurnya masing-masing.

Sumber data: Asosiasi Penyelenggara Jasa Internet Indonesia (APJII), Survei Penetrasi Internet Indonesia 2024; Przybylski, dkk. (2013), Computers in Human Behavior.