Pesona Desa Munding: Desa Wisata di Kabupaten Semarang

Universitas Negeri Semarang
·waktu baca 3 menit
Tulisan dari danu syukmawinata tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

Desa Munding terletak di lereng Gunung Ungaran tepatnya di Kecamatan Bergas, Kabupaten Semarang, Provinsi Jawa Tengah. Desa Munding pada mulanya didirikan oleh pasangan suami istri yang berasal dari keturunan Kerajaan Demak. Makam keduanya kini berada di Puncak Bukit Prawotosari. Kata Munding sendiri berasal dari kata “ketemu” dan “berunding”. Berdasarkan cerita dari masyarakat setempat, kisah awalnya terdapat suatu daerah yang di huni oleh seorang sesepuh yang mempunyai ilmu tinggi. Dengan begitu daerah tersebut sering digunakan sebagai tempat berkumpulnya para wali/kyai atau tokoh agama islam untuk merundingkan sesuatu sehingga tempat tersebut dinamakan Munding.
Luas wilayah Desa Munding ialah sekitar 178.495 Ha yang terbagi atas tiga Dusun yaitu Dusun Krajan, Dusun Gemawang, dan Dusun Cemanggal. Masing-masing Dusun tersebut terdiri atas 3 RW dan 18 RT dengan jumlah penduduk kurang lebih 3.327 jiwa. Batas wilayah Desa Munding sebelah Utara berbatasan dengan Desa Gebungan dan Desa Pagersari, sebelah Timur dengan Desa Bergas Kidul, sedangkan sebelah Barat berbatasan dengan Perhutani dan Sebelah Selatan berbatasan dengan Desa Pakopen Kecamatan Bandungan.
Letak Desa Munding yang berada di lereng Gunung Ungaran membuat Desa ini memiliki persediaan air yang melimpah serta memiliki daerah pertanian yang subur terutama bagi tanaman polowijo seperti daun bawang (onclang), kopi, padi, ketela dan lainnya serta beberapa buah-buahan lokal. Topografi munding yang berupa perbukitan menjadikan sebagian besar mata pencaharian penduduk di Desa Munding berprofesi sebagai petani. Sementara mata pencaharian lainnya adalah buruh pabrik dan pedagang.
Potensi yang dimiliki masyarakat Desa Munding untuk membentuk Desa wisata Alam, Budaya dan Religi sangat berpeluang besar, hal ini dikarenakan posisi Desa Munding yang terletak pada jalur wisata dan memiliki banyak sekali potensi daerah yang dapat dikembangkan menjadi tujuan wisata.
Modal sosial yang dimiliki seluruh masyarakat Desa Munding juga menguatkan peluang terbentuknya Desa Wisata. Dengan pemberdayaan masyarakat desa untuk memanfaatkan potensi-potensi alam yang dimiliki untuk mendukung Desa Munding sebagai Desa Wisata , Budaya dan Religi.
Pemberdayaan masyarakat yang dilakukan berupa kegiatan pembentukan Kelompok Sadar Wisata ( POKDARWIS) dan Pengenalan Konsep Desa Wisata, Pemetaan Potensi Wisata, Penguatan Komponen Pendukung Desa Wisata dan Pemasaran Desa Wisata.
Desa Munding memiliki berbagai potensi wisata, mulai dari wisata alam, wisata realigi, serta wisata adat sebagai bagian dari wisata Budaya. Wisata alam yang terdapat di Desa Munding antara lain Bukit Kembar Cemanggal, Curug Tirtowati, Curug Tirto Wening, dan Wisata Pertanian Cemanggal. Adapun wisata realigi terdiri dari makam Syekh Ghozali di puncak bukit Prawotosari dan makam Syekh Syarif yang berada di salah satu bukit dengan pemandangan yang indah di Dusun Cemanggal. Sedangkan wisata adat yang terdapat di Desa Munding antara lain Mot Banyu, Suran, Nyadran, dan Kadeso. Untuk seni budaya ada kesenianKuda Lumping (Reog), Rebana, Drumbleg dan Kuda Blarak.
Potensi kearifan local Desa Munding selain sebagai wisata Desa menuju Desa Wisata, juga memiliki keunggulan dalam Pertanian sayur, Bawang Daun juga adanya berbagai produk UMKM Desa sebagai penguatan komponen pendukung daya tarik desa wisata seperti makanan khas Desa yaitu Kripik Onclang, Lonto Dimclang, Kopi Koplak, Aneka Jajan Pasar, Jamu Gendong, Aneka kerajinan Rotan, Kran bunga papan dan masih banyak lagi UMKM yang lain yang masih dalam pengembangan untuk menuju Desa Cerdas
