Kami Hanya Anak Desa, Tapi Dunia Juga Milik Kami

Mahasiswa S1 Prodi Hubungan Internasional, Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik, Universitas Brawijaya
·waktu baca 4 menit
Tulisan dari Danyah Abidya tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan
Catatan dari ruang kelas sederhana yang di MTs PGRI Donomulyo. Dari sebuah desa yang tenang, tumbuh mimpi-mimpi kecil yang diam-diam ingin menembus dunia.
Di Tulungrejo, sebuah desa kecil di Kecamatan Donomulyo, Kabupaten Malang, aku bertemu dengan anak-anak yang tak pernah pergi jauh, tapi diam-diam menyimpan mimpi yang luas. Kelas sederhana itu terletak di MTs PGRI Donomulyo. Walau hanya papan tulis kapur dan suara, semesta tetap bisa hadir di sana. Bukan teknologi canggih yang membuat seisi ruang kelas itu berkesan, melainkan karena ruang itu dipenuhi satu hal yang membuatku terdiam: rasa ingin tahu.
Hari itu kami belajar tentang benua. Aku ingat betul saat aku mulai mengajar soal benua. Anak-anak tak sekadar menuliskan nama Asia, Afrika, atau Eropa di buku catatan mereka. Mereka menatap peta dunia dengan mata bercampur antara ketakjuban dan kebingungan. Mereka mendengar cerita tentang tempat-tempat yang belum pernah mereka lihat; tentang daratan yang luas yang dipisahkan oleh lautan, tentang benua yang punya cerita sedih dan juga harapan. Tapi sebenarnya, aku ingin mereka belajar tentang dunia.
“Ada negara segede gini?”
“Antartika itu beneran es semua, Kak?”
“Kalau di Afrika tuh kayak gimana?”
Pertanyaan demi pertanyaan datang, bukan karena mereka tahu, tapi justru karena mereka ingin tahu. Banyak dari mereka bahkan belum pernah melihat peta dunia secara penuh. Dunia terasa seperti cerita fiksi bagi mereka, bukan kenyataan yang mungkin disentuh. Salah satu siswa dengan polosnya bertanya,
“Kak, bisa ya sekolah di luar negeri?”
Pertanyaan itu membuatku berhenti sejenak. Bukan karena aku tak tahu jawabannya, tapi karena aku tahu apa yang tersembunyi di baliknya: keraguan akan kemungkinan.
Beberapa dari mereka bilang bercita-cita jadi pengusaha, ingin bekerja di luar negeri, atau berteman dengan orang dari negara lain. Tapi tak lama kemudian mereka menertawakannya sendiri.
“Kayaknya kejauhan deh, Kak. Mimpiku kayaknya ketinggian.”
“Aku mungkin nerusin bapak aja, jadi petani.”
Mereka tidak kekurangan mimpi. Yang sering hilang adalah rasa percaya diri bahwa mereka boleh dan bisa bermimpi besar.
Aku tidak datang untuk merusak pilihan realistis mereka. Petani, peternak, guru, semua adalah pekerjaan yang hebat. Tapi yang membuatku miris adalah ketika mereka menyempitkan mimpi karena merasa dunia tidak menyediakan tempat untuk mereka.
Aku ingin mereka tahu: dunia memang luas, tapi tidak tertutup.
Aku ingin mereka percaya: mereka bisa ke luar negeri, kuliah, meneliti, berkarya, kalau memang itu yang mereka mau. Dan kalau mereka memilih untuk tetap di desa, biarlah itu karena mereka sadar, bukan karena mereka merasa tidak punya pilihan.
Hari itu, kami bicara tentang Eropa, Asia, Afrika, Amerika, Australia, hingga Antartika. Tapi lebih dari itu, kami bicara tentang apa yang mungkin. Aku tidak memaksa mereka menghafal peta. Aku hanya ingin mereka tahu, dunia ini tidak hanya untuk ditonton di TV. Dunia ini bisa dijelajahi, bisa dimengerti, bahkan bisa ditempati, oleh siapa pun, termasuk mereka.
Beberapa anak tersenyum saat aku selesai. Seorang siswi menuliskan di kertas tugasnya:
“Kalau aku sekolah di luar negeri, aku mau ke Jepang. Tapi itu cuma mimpi sih, Kak.”
Aku hanya bisa tersenyum dan menulis balik di bawah kalimatnya:
“Tapi mimpi yang ditulis itu awal dari kenyataan.”
Hari itu bukan hanya tentang mengenal benua. Hari itu, aku ingin menyalakan lilin kecil di hati mereka, lilin yang suatu hari bisa menyulut semangat untuk menggapai dunia. Aku ingin mereka yakin bahwa tak peduli seberapa kecil awalnya, mimpi yang tulus dan didukung oleh pendidikan bisa membuka jalan ke mana saja.
Kini, saat aku menuliskan hal ini, aku berharap bahwa suatu hari nanti, aku akan menerima kabar dari salah satu anak itu yang berhasil melanjutkan pendidikannya, yang berhasil mengubah nasibnya, yang suatu saat akan menulis cerita sendiri tentang bagaimana mereka, anak-anak dari MTs PGRI Donomulyo, pernah berani bermimpi besar.
Tulisan ini dibuat berdasarkan pengalaman pribadi penulis selama menjalani program kerja KKN di MTs PGRI Donomulyo, Kecamatan Donomulyo, Kabupaten Malang.
