Konten dari Pengguna

Mereka Menjawab, Kami Menulis: Cerita FBD UB di Tulungrejo

Danyah Abidya

Danyah Abidya

Mahasiswa S1 Prodi Hubungan Internasional, Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik, Universitas Brawijaya

·waktu baca 2 menit

comment
0
sosmed-whatsapp-white
copy-circle
more-vertical

Tulisan dari Danyah Abidya tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

Dari lembar soal sederhana anak-anak MTs PGRI Donomulyo, tumbuh narasi tentang mimpi yang terasa jauh, tapi tetap dinyalakan dalam sunyi desa.

Tidak semua tulisan hadir dari ruang observasi dan teori panjang. Kadang, ia lahir dari lembar soal yang kembali dengan jawaban polos, sederhana, tapi mengandung harapan. Itulah akar dari artikel pertama saya, yang mulai dari program FBD UB di sebuah desa kecil bernama Tulungrejo, Kecamatan Donomulyo, Kabupaten Malang.

Saya membagikan lembar soal berisi pertanyaan tentang benua, negara, dan mimpi masa depan kepada murid-murid kelas 9 MTs PGRI Donomulyo. Jawaban mereka tidak selalu tentang tempat-tempat jauh. Tapi ketika seorang anak menulis:

“Kalau bisa sekolah di luar negeri, saya mau ke Jepang. Tapi kayaknya gak mungkin, saya mau jadi petani aja.”

Saya tersentak. Di balik kerendahannya, ada mimpi yang sedang dipertahan meski oleh kesadaran akan keterbatasan. Itulah yang saya abadikan dalam tulisan saya: bukan epik besar, tapi refleksi anak desa yang melihat dunia dari pinggiran peta, namun menyimpan keinginan untuk melangkah.

Saya tidak sekadar merangkum jawaban dari lembar soal. Saya mencoba menerjemahkan, memaknai, dan meletakkan mereka dalam narasi yang lebih besar: tentang anak-anak desa yang tahu bumi itu bulat, tahu benua itu nyata, tapi belum yakin bendera mana yang bisa mereka lihat secara langsung suatu hari nanti.

Melalui proses menulis itulah, saya menyadari bahwa bukan saya yang mengajar mereka tentang dunia. Malah sebaliknya: mereka mengajar saya tentang keberanian bermimpi, tawa sederhana, dan kepekaan bahwa mimpi tidak harus sempurna untuk berharga.

Artikel itu ternyata menerima perhatian yang membuat saya tersenyum. Teman-teman KKN lain bilang, “Aku baca artikelnya, rasanya seperti mendapat pelajaran baru tentang mimpi.”

Saya sadar: tulisan ini bukan sekadar milik saya. Ia milik anak-anak MTs PGRI Donomulyo yang menuliskan harapan mereka dengan tinta tipis, tapi penuh makna.