Konten dari Pengguna

Ketika Ibu Bertanya pada AI, Siapa yang Mendengar Anak?

google
Ikuti kumparan di Google
info
Jadikan kumparan sebagai preferensi terpercayamu di Google
comment
0
sosmed-whatsapp-white
copy-circle
more-vertical

Tulisan dari Wida Qonitatul Wiqoyah tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

Seorang ibu mendampingi anaknya beraktivitas di tengah kehadiran teknologi AI dalam kehidupan keluarga. (Ilustrasi: AI/OpenAI)
zoom-in-whitePerbesar
Seorang ibu mendampingi anaknya beraktivitas di tengah kehadiran teknologi AI dalam kehidupan keluarga. (Ilustrasi: AI/OpenAI)

Pernahkah kita membayangkan seorang ibu yang tengah kebingungan menghadapi anaknya yang sulit tidur, menolak makan, atau tiba-tiba melontarkan pertanyaan yang sulit dijawab? Dahulu, mungkin ia akan menelepon orang tuanya, bertanya kepada teman, atau mencari informasi di buku pengasuhan. Kini, jawabannya bisa datang hanya dalam hitungan detik melalui kecerdasan buatan atau artificial intelligence (AI).

Cukup mengetik beberapa kalimat, ibu bisa mendapatkan saran menu makan anak, aktivitas edukatif, hingga cara menghadapi tantrum. Teknologi seolah menghadirkan asisten pribadi yang tidak pernah tidur dan selalu siap menjawab pertanyaan.

Namun, di balik segala kemudahan itu, muncul pertanyaan yang patut direnungkan: ketika ibu semakin sering meminta jawaban kepada AI, apakah hubungan dengan anak ikut menjadi lebih baik?

AI dan Beban Pengasuhan yang Tak Terlihat

Menjadi ibu bukan sekadar memastikan anak makan, mandi, dan berangkat sekolah tepat waktu. Ada begitu banyak pekerjaan yang berlangsung dalam pikiran, bahkan ketika tubuh sedang beristirahat.

Memikirkan menu besok, mengingat jadwal imunisasi, menyiapkan kebutuhan sekolah, hingga mencari cara mendampingi perkembangan emosi anak merupakan bagian dari beban mental pengasuhan yang sering kali tidak terlihat.

Dalam situasi seperti ini, kehadiran AI tentu terasa membantu.

Survei yang diterbitkan Ann & Robert H. Lurie Children's Hospital of Chicago pada 14 Mei 2026 menunjukkan bahwa 81 persen dari lebih dari 1.000 orang tua yang disurvei di Amerika Serikat pernah menggunakan AI untuk membantu tugas pengasuhan. Sekitar dua pertiga orang tua pengguna AI menyatakan teknologi tersebut membantu mengurangi beban mental mereka.

Meskipun hasil survei tersebut tidak dapat langsung mewakili kondisi keluarga Indonesia, temuan ini memperlihatkan bagaimana AI mulai mendapatkan tempat dalam kehidupan orang tua.

Bagi ibu yang harus membagi waktu antara pekerjaan, rumah tangga, dan kebutuhan anak, teknologi seperti ini bisa menjadi alat bantu yang praktis.

Persoalannya bukan pada penggunaan AI itu sendiri, melainkan pada seberapa jauh kita mempercayakan keputusan pengasuhan kepada teknologi.

Ketika Jawaban Cepat Dianggap sebagai Jawaban Terbaik

AI mampu menyusun jawaban yang terdengar meyakinkan. Akan tetapi, jawaban yang tersusun rapi belum tentu sepenuhnya benar atau sesuai dengan kebutuhan setiap anak.

Anak yang sulit makan, misalnya, tidak selalu membutuhkan pendekatan yang sama. Ada yang mengalami fase memilih makanan, ada yang menghadapi masalah sensorik, dan ada pula yang memerlukan pemeriksaan profesional.

AI dapat memberikan informasi umum, tetapi tidak dapat menggantikan penilaian tenaga kesehatan yang memahami kondisi anak secara langsung.

American Academy of Pediatrics mengingatkan bahwa chatbot AI dapat memberikan informasi keliru dan tidak boleh dipandang sebagai pengganti hubungan manusia yang aman, stabil, serta penuh perhatian.

Di sinilah orang tua perlu mempertahankan kemampuan berpikir kritis.

Kemajuan teknologi seharusnya membantu kita memahami lebih banyak pilihan, bukan membuat kita berhenti mempertanyakan kebenaran sebuah jawaban.

Privasi Anak Tidak Boleh Menjadi Harga Kemudahan

Ada persoalan lain yang sering luput dari perhatian, yakni keamanan informasi pribadi anak.

Tanpa disadari, orang tua mungkin memasukkan nama lengkap, foto, riwayat kesehatan, kesulitan belajar, atau persoalan emosional anak ke dalam layanan AI demi memperoleh jawaban yang lebih spesifik.

Padahal, anak memiliki hak atas privasi dan perlindungan data pribadinya.

Dalam panduan Guidance on AI and Children versi ketiga yang diterbitkan pada Desember 2025, UNICEF menegaskan pentingnya keamanan, perlindungan data pribadi, dan penghormatan terhadap hak anak dalam pengembangan serta penggunaan teknologi AI.

Kekhawatiran ini menjadi semakin relevan di Indonesia.

Laporan UNICEF Indonesia yang diterbitkan pada Februari 2025 menunjukkan bahwa hanya 37,5 persen anak dalam kajian tersebut pernah menerima informasi mengenai cara menjaga keamanan diri saat beraktivitas di internet.

Walaupun penelitian itu membahas keselamatan digital secara luas, bukan khusus penggunaan AI, temuan tersebut mengingatkan kita bahwa kemampuan menggunakan teknologi belum tentu diikuti kemampuan melindungi diri.

Orang tua perlu memahami bahwa tidak semua cerita dan informasi tentang anak harus dibagikan kepada sistem digital.

Ibu Tidak Harus Menjadi Ahli dalam Segala Hal

Menurut saya, ada persoalan yang lebih mendasar daripada sekadar membicarakan apakah AI baik atau buruk untuk pengasuhan.

Kita hidup dalam masyarakat yang kerap menuntut ibu mengetahui hampir segala hal tentang anaknya.

Ibu diharapkan memahami gizi, psikologi perkembangan, pendidikan, kesehatan, sekaligus mampu mengatur rumah tangga dan pekerjaan. Ketika muncul persoalan, ibu sering merasa harus segera menemukan solusi yang paling tepat.

Tidak mengherankan jika teknologi yang menawarkan jawaban instan menjadi sangat menarik.

Namun, jangan sampai kehadiran AI justru melahirkan standar baru bahwa ibu harus selalu memiliki jawaban untuk setiap masalah anak.

Pengasuhan bukan perlombaan untuk menjadi orang tua paling informatif.

Seorang ibu boleh merasa bingung, membutuhkan bantuan, dan tidak mengetahui jawaban atas seluruh pertanyaan anaknya. Mengasuh anak merupakan proses belajar yang terus berlangsung.

Lebih dari itu, tanggung jawab pengasuhan seharusnya tidak hanya dibebankan kepada ibu. Ayah, keluarga, sekolah, dan lingkungan sosial juga memiliki peran penting.

Teknologi memang dapat membantu menyusun jadwal kegiatan anak, tetapi teknologi tidak dapat menggantikan pembagian tanggung jawab yang adil di dalam keluarga.

Anak Membutuhkan Kehadiran, Bukan Sekadar Jawaban

Bayangkan seorang anak pulang sekolah dengan wajah murung. Ia tidak ingin langsung mengerjakan tugas, tidak tertarik bermain, dan memilih duduk diam.

AI mungkin dapat menawarkan berbagai cara mengatasi perubahan suasana hati anak.

Namun, sebelum mencari solusi, barangkali yang paling dibutuhkan anak adalah seseorang yang mau duduk di sampingnya dan bertanya, "Hari ini ada cerita apa?"

Pertanyaan sederhana itu tidak membutuhkan teknologi canggih.

Ia membutuhkan perhatian, waktu, dan kesediaan untuk mendengarkan.

Menurut saya, inilah hal yang perlu dijaga ketika teknologi semakin dekat dengan kehidupan keluarga.

Gunakan AI untuk mencari inspirasi aktivitas, menyusun ide bekal sekolah, atau membantu menemukan bacaan edukatif. Periksa kembali informasi penting melalui sumber tepercaya dan konsultasikan persoalan kesehatan maupun perkembangan anak kepada profesional bila diperlukan.

Yang tidak kalah penting, berikan ruang bagi anak untuk berbicara tanpa harus selalu mendapatkan jawaban instan.

Terkadang, anak tidak sedang meminta solusi. Mereka hanya ingin perasaannya dipahami.

Teknologi Boleh Cerdas, Pengasuhan Harus Tetap Manusiawi

Pada akhirnya, AI bukan musuh bagi ibu modern. Teknologi ini dapat menjadi alat bantu yang bermanfaat apabila digunakan dengan kesadaran, batasan, dan tanggung jawab.

Namun, kemudahan memperoleh informasi tidak boleh membuat kita melupakan hakikat pengasuhan.

Anak tidak tumbuh hanya dari nasihat yang benar atau jadwal kegiatan yang tertata rapi. Mereka juga tumbuh melalui percakapan sederhana, pelukan setelah hari yang melelahkan, dan pengalaman merasa didengar oleh orang-orang terdekatnya.

Kita boleh hidup di zaman ketika mesin semakin pintar menjawab pertanyaan manusia.

Tetapi, jangan sampai di tengah kemajuan itu, kita justru kehilangan waktu untuk mendengarkan anak sendiri.

Sebab, menjadi ibu bukan tentang memiliki semua jawaban, melainkan tentang tetap hadir ketika anak membutuhkan seseorang untuk mendengarkan.

Sumber Referensi

Ann & Robert H. Lurie Children's Hospital of Chicago. (2026, 14 Mei). AI and Parenting: How Parents and Children Are Using Artificial Intelligence. https://www.luriechildrens.org/en/blog/ai-parenting-statistics/

UNICEF. (2025, Desember). Guidance on AI and Children, Version 3.0. https://www.unicef.org/innocenti/reports/policy-guidance-ai-children

UNICEF Indonesia. (2025, Februari). Pengetahuan dan Kebiasaan Daring Anak di Indonesia: Sebuah Kajian Dasar 2023. https://www.unicef.org/indonesia/id/perlindungan-anak/laporan/pengetahuan-dan-kebiasaan-daring-anak-di-indonesia-sebuah-kajian-dasar-2023

American Academy of Pediatrics. (2025, 27 Agustus). How AI Chatbots Affect Kids: Benefits, Risks & What Parents Need to Know. https://www.healthychildren.org/English/family-life/Media/Pages/are-ai-chatbots-safe-for-kids.aspx

Kredit Foto: Ilustrasi dibuat menggunakan kecerdasan buatan melalui ChatGPT (OpenAI), 2026. Gambar merupakan ilustrasi, bukan dokumentasi peristiwa nyata.