Konten dari Pengguna

Mengapa Banyak Siswa Takut Bertanya, Padahal Sekolah Adalah Tempat Belajar?

google
Ikuti kumparan di Google
info
Jadikan kumparan sebagai preferensi terpercayamu di Google
comment
0
sosmed-whatsapp-white
copy-circle
more-vertical

Tulisan dari Wida Qonitatul Wiqoyah tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

Ilustrasi seorang siswi yang ragu mengangkat tangan untuk bertanya saat proses pembelajaran di kelas. Gambar: Ilustrasi digital dibuat menggunakan AI melalui ChatGPT (OpenAI), 2026.
zoom-in-whitePerbesar
Ilustrasi seorang siswi yang ragu mengangkat tangan untuk bertanya saat proses pembelajaran di kelas. Gambar: Ilustrasi digital dibuat menggunakan AI melalui ChatGPT (OpenAI), 2026.

Pernahkah kita berada di dalam kelas, tidak memahami penjelasan guru, tetapi memilih diam ketika diberikan kesempatan bertanya?

Mungkin sebagian dari kita pernah mengalaminya. Ada keinginan untuk mengangkat tangan, tetapi muncul rasa ragu. Takut pertanyaannya dianggap terlalu sederhana, takut ditertawakan teman, atau bahkan takut dianggap tidak memperhatikan pelajaran.

Akhirnya, ketika guru bertanya, "Apakah semuanya sudah paham?", hampir seluruh siswa menjawab sudah atau hanya mengangguk, meskipun sebenarnya masih ada materi yang belum dimengerti.

Situasi seperti ini mungkin terlihat sepele. Namun, jika terus terjadi, kebiasaan diam dapat menjadi salah satu hambatan dalam proses pendidikan.

Sekolah seharusnya menjadi tempat seseorang memperoleh pengetahuan, mencoba memahami hal baru, dan belajar dari kesalahan. Lantas, mengapa bertanya justru terkadang terasa seperti sesuatu yang menakutkan?

Ketika Salah Dianggap Memalukan

Salah satu hal yang dapat membuat siswa enggan bertanya adalah pandangan bahwa kesalahan merupakan sesuatu yang memalukan.

Dalam lingkungan belajar yang terlalu menekankan jawaban benar, siswa mungkin merasa bahwa tidak memahami suatu materi menunjukkan kekurangan dirinya.

Akibatnya, sebagian siswa lebih memilih menyimpan kebingungan daripada mengambil risiko terlihat tidak tahu.

Padahal, ketidaktahuan merupakan bagian alami dari proses belajar. Tidak ada seseorang yang langsung memahami seluruh materi ketika pertama kali mempelajarinya.

Seorang siswa yang mengajukan pertanyaan sebenarnya sedang menunjukkan rasa ingin tahu dan kesediaan untuk memahami sesuatu secara lebih mendalam.

Namun, ketika pertanyaan sederhana mendapat respons yang merendahkan, siswa dapat kehilangan keberanian untuk mencoba kembali.

Ucapan seperti "Masa begitu saja tidak tahu?" atau "Tadi tidak mendengarkan, ya?" mungkin terdengar biasa bagi sebagian orang. Akan tetapi, bagi siswa yang sedang berusaha membangun kepercayaan diri, respons tersebut bisa membuatnya semakin enggan berbicara.

Karena itu, cara pendidik menanggapi pertanyaan memiliki peran penting dalam membentuk suasana belajar.

Pendidikan Bukan Sekadar Mendengarkan dan Menghafal

Dalam proses pembelajaran, siswa sering dihadapkan pada berbagai materi yang harus dipahami dalam waktu terbatas.

Mereka mendengarkan penjelasan, mencatat informasi, mengerjakan tugas, dan mempersiapkan diri menghadapi ujian.

Namun, pendidikan seharusnya tidak berhenti pada kemampuan mengingat informasi.

Belajar juga membutuhkan kesempatan untuk mempertanyakan, membandingkan, menganalisis, dan menyampaikan pendapat.

Bayangkan dua siswa yang mendapatkan nilai ujian sama-sama tinggi. Siswa pertama mampu menghafal materi dengan baik, sedangkan siswa kedua tidak hanya memahami materi, tetapi juga mampu menghubungkannya dengan persoalan kehidupan sehari-hari.

Keduanya tentu memiliki kemampuan yang patut diapresiasi. Namun, contoh tersebut menunjukkan bahwa nilai ujian saja belum tentu menggambarkan seluruh proses berpikir seseorang.

Kemampuan mengajukan pertanyaan merupakan salah satu cara untuk memperdalam pemahaman.

Ketika siswa bertanya mengapa suatu peristiwa terjadi, bagaimana sebuah teori diterapkan, atau apakah terdapat sudut pandang lain, mereka sedang melatih kemampuan berpikir kritis.

Kemampuan seperti inilah yang dibutuhkan bukan hanya di ruang kelas, tetapi juga ketika menghadapi persoalan dalam kehidupan nyata.

Peran Guru dalam Membangun Ruang Belajar yang Aman

Guru memiliki peran yang sangat penting dalam menciptakan suasana kelas yang mendukung keberanian siswa.

Lingkungan belajar yang baik bukan berarti setiap siswa harus selalu menjawab dengan benar. Justru, kelas perlu menjadi tempat di mana siswa merasa aman untuk menyampaikan ketidaktahuannya.

Hal ini dapat dimulai dari kebiasaan sederhana, seperti memberikan apresiasi ketika siswa bertanya, menjelaskan kembali materi tanpa merendahkan, dan mengajak peserta didik berdiskusi.

Guru juga dapat memberikan waktu kepada siswa untuk menyusun pertanyaan sebelum diskusi dimulai.

Tidak semua siswa memiliki keberanian yang sama untuk berbicara di depan banyak orang. Sebagian mungkin lebih nyaman menuliskan pertanyaan terlebih dahulu atau berdiskusi dalam kelompok kecil.

Dengan memberikan berbagai cara untuk berpartisipasi, kesempatan belajar menjadi lebih terbuka bagi siswa dengan karakter yang berbeda.

Pada akhirnya, keberhasilan seorang pendidik bukan hanya terlihat dari banyaknya materi yang telah disampaikan, tetapi juga dari sejauh mana siswa merasa terdorong untuk terus belajar.

Teman Sebaya Juga Memiliki Pengaruh

Selain guru, lingkungan pertemanan turut memengaruhi keberanian siswa dalam bertanya.

Satu komentar mengejek atau tawa ketika seseorang memberikan jawaban keliru dapat membuat suasana kelas menjadi tidak nyaman.

Sebaliknya, dukungan sederhana dari teman dapat membantu meningkatkan rasa percaya diri.

Kita perlu memahami bahwa setiap orang mempunyai kecepatan belajar yang berbeda. Materi yang terasa mudah bagi seseorang mungkin membutuhkan penjelasan tambahan bagi orang lain.

Perbedaan tersebut bukan alasan untuk merendahkan kemampuan seseorang.

Sekolah seharusnya mengajarkan bahwa keberhasilan tidak harus dicapai dengan membuat orang lain merasa lebih rendah.

Membantu teman memahami pelajaran, mendengarkan pendapat yang berbeda, dan menghargai keberanian seseorang untuk bertanya merupakan bagian dari pembentukan karakter.

Sikap saling menghargai seperti ini dapat menciptakan suasana belajar yang lebih sehat.

Berani Bertanya Adalah Bagian dari Keberanian Belajar

Keberanian bertanya tidak muncul begitu saja. Bagi sebagian siswa, dibutuhkan waktu untuk membangun rasa percaya diri.

Langkah pertama dapat dimulai dengan mengubah cara pandang terhadap ketidaktahuan.

Tidak memahami suatu materi bukan berarti seseorang tidak cerdas. Sebaliknya, menyadari bahwa masih ada hal yang perlu dipelajari merupakan langkah awal untuk berkembang.

Siswa juga perlu memahami bahwa mengajukan pertanyaan tidak harus selalu menggunakan kalimat yang rumit.

Pertanyaan sederhana seperti "Mengapa bisa begitu?" atau "Bisakah dijelaskan melalui contoh lain?" dapat membuka diskusi yang bermanfaat.

Daripada berpura-pura memahami seluruh penjelasan, lebih baik berusaha mencari pemahaman yang sesungguhnya.

Tentu saja, keberanian siswa juga perlu didukung oleh lingkungan pendidikan yang tidak mudah memberikan penilaian negatif terhadap kesalahan.

Sebab, keberanian untuk belajar tumbuh ketika seseorang merasa bahwa dirinya diperbolehkan untuk belum mengetahui sesuatu.

Sekolah Seharusnya Menumbuhkan Rasa Ingin Tahu

Pada akhirnya, kualitas pendidikan tidak seharusnya hanya diukur dari seberapa banyak siswa mampu menjawab pertanyaan dengan benar.

Pendidikan juga perlu memberikan ruang bagi mereka untuk berpikir, meragukan suatu informasi secara kritis, menyampaikan pendapat, dan menemukan jawaban melalui proses belajar.

Kelas yang baik bukan selalu kelas yang paling tenang. Terkadang, kelas yang dipenuhi pertanyaan dan diskusi justru menunjukkan bahwa peserta didiknya sedang terlibat dalam proses pembelajaran.

Sudah saatnya kita mengubah pandangan bahwa siswa yang banyak bertanya berarti tidak memahami pelajaran.

Bisa jadi, justru karena ingin benar-benar memahami, mereka memilih untuk bertanya.

Sebab, pertanyaan bukanlah tanda kebodohan. Pertanyaan adalah salah satu tanda bahwa seseorang sedang berusaha belajar.

Jika sekolah adalah tempat menuntut ilmu, seharusnya tidak ada siswa yang merasa malu hanya karena belum mengetahui jawabannya.

Keterangan Gambar: Gambar sampul merupakan ilustrasi digital yang dibuat menggunakan teknologi kecerdasan buatan (AI) melalui ChatGPT dari OpenAI untuk menggambarkan perkembangan teknologi dalam dunia pendidikan. Gambar bukan merupakan dokumentasi peristiwa nyata.