Konten dari Pengguna

Perempuan Tidak Harus Selalu Kuat untuk Dianggap Hebat

google
Ikuti kumparan di Google
info
Jadikan kumparan sebagai preferensi terpercayamu di Google
comment
0
sosmed-whatsapp-white
copy-circle
more-vertical

Tulisan dari Wida Qonitatul Wiqoyah tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

Ilustrasi perempuan dalam menjalani berbagai peran dan tantangan kehidupan. Foto: Ilustrasi digital yang dibuat menggunakan AI melalui ChatGPT (OpenAI), 2026.
zoom-in-whitePerbesar
Ilustrasi perempuan dalam menjalani berbagai peran dan tantangan kehidupan. Foto: Ilustrasi digital yang dibuat menggunakan AI melalui ChatGPT (OpenAI), 2026.

Ada satu kalimat yang mungkin sering didengar banyak perempuan: "Perempuan harus kuat."

Kalimat tersebut terdengar seperti sebuah dukungan. Namun, tanpa disadari, ungkapan itu terkadang berubah menjadi tuntutan. Perempuan diharapkan mampu menghadapi segala keadaan, menyelesaikan berbagai persoalan, menjaga perasaan orang lain, sekaligus tetap terlihat baik-baik saja.

Di tengah kehidupan yang terus bergerak, perempuan seolah dituntut untuk menjadi segalanya. Mereka harus mandiri, berpendidikan, memiliki pekerjaan, mampu mengurus keluarga, menjaga penampilan, dan tetap memiliki kehidupan sosial yang menyenangkan.

Tidak ada yang salah dengan menjadi perempuan tangguh. Namun, apakah perempuan harus selalu terlihat kuat agar dianggap berharga?

Pertanyaan sederhana ini layak direnungkan, terutama ketika masyarakat semakin sering membicarakan pemberdayaan perempuan, tetapi terkadang masih mempertahankan standar yang membatasi kebebasan mereka.

Ketika Menjadi Perempuan Berarti Memenuhi Banyak Harapan

Sejak kecil, sebagian perempuan tumbuh bersama berbagai nasihat mengenai bagaimana seharusnya mereka bersikap. Mereka diajarkan untuk menjadi pribadi yang sopan, sabar, bertanggung jawab, dan mampu menjaga diri.

Nasihat tersebut tentu dapat memiliki tujuan baik. Namun, persoalan muncul ketika harapan sosial berubah menjadi ukuran mutlak untuk menilai keberhasilan seorang perempuan.

Perempuan yang berorientasi pada karier mungkin dianggap terlalu ambisius. Sebaliknya, perempuan yang memilih berfokus pada keluarga terkadang dianggap kurang memiliki pencapaian.

Perempuan yang berani menyampaikan pendapat bisa dinilai terlalu keras, sementara mereka yang lebih banyak diam justru dianggap tidak memiliki keberanian.

Situasi tersebut menggambarkan bagaimana perempuan terkadang berada dalam posisi yang sulit. Apa pun pilihan yang diambil, selalu ada kemungkinan munculnya penilaian dari lingkungan sekitar.

Padahal, setiap perempuan memiliki perjalanan hidup, kemampuan, dan tujuan yang berbeda.

Keberhasilan seorang perempuan seharusnya tidak ditentukan oleh seberapa jauh ia memenuhi ekspektasi orang lain, melainkan oleh bagaimana ia dapat menjalani kehidupan sesuai dengan nilai dan pilihan yang diyakininya.

Beban yang Tidak Selalu Terlihat

Salah satu persoalan yang masih dihadapi perempuan adalah pembagian tanggung jawab dalam kehidupan sehari-hari.

Bekerja, mengurus rumah, merawat keluarga, dan memenuhi kebutuhan pribadi merupakan aktivitas yang membutuhkan waktu serta tenaga. Sayangnya, tidak semua pekerjaan tersebut mendapatkan pengakuan yang sama.

Laporan Perserikatan Bangsa-Bangsa berjudul The Gender Snapshot 2025 menunjukkan bahwa secara global perempuan menghabiskan waktu sekitar 2,5 kali lebih banyak dibandingkan laki-laki untuk pekerjaan domestik dan perawatan yang tidak dibayar.

Di Indonesia, Organisasi Perburuhan Internasional (ILO) bersama Magdalene juga pernah melakukan eksperimen sosial pada lima perempuan untuk mencatat waktu yang mereka gunakan dalam pekerjaan rumah tangga dan pengasuhan. Eksperimen yang dipublikasikan pada 2024 tersebut memperlihatkan bahwa pekerjaan perawatan tidak berbayar dapat menyita lebih dari 100 jam dalam seminggu bagi sebagian pesertanya.

Temuan ini mengingatkan kita bahwa pekerjaan yang tidak menghasilkan gaji tetap membutuhkan usaha yang nyata.

Sering kali, pekerjaan rumah dianggap sebagai tanggung jawab yang berlangsung secara alami. Padahal, di balik rumah yang terurus dan anggota keluarga yang mendapatkan perhatian, terdapat waktu, tenaga, serta kesempatan pribadi yang dikorbankan.

Karena itu, pembicaraan mengenai perempuan kuat seharusnya tidak berhenti pada pujian terhadap kemampuan mereka menjalankan banyak peran.

Masyarakat juga perlu mempertanyakan apakah tanggung jawab tersebut sudah dibagikan secara adil.

Perempuan Juga Berhak Merasa Lelah

Ada kalanya seseorang hanya ingin berhenti sejenak dari segala kesibukan. Bukan karena menyerah, melainkan karena membutuhkan kesempatan untuk memulihkan diri.

Hal yang sama berlaku bagi perempuan.

Sayangnya, dalam beberapa situasi, perempuan justru merasa perlu menyembunyikan kelelahan agar tidak dianggap lemah. Mereka tetap tersenyum ketika menghadapi masalah dan berusaha memenuhi tanggung jawab meskipun sedang menghadapi kesulitan pribadi.

Padahal, menjadi kuat bukan berarti tidak pernah menangis, tidak boleh meminta pertolongan, atau harus mampu menyelesaikan semuanya sendirian.

Mengakui keterbatasan merupakan bagian dari memahami diri sendiri.

Seorang perempuan tidak kehilangan nilai dirinya hanya karena membutuhkan istirahat. Ia juga tidak menjadi kurang hebat ketika memutuskan untuk meminta bantuan atau mengubah rencana hidup yang sebelumnya telah disusun.

Kekuatan tidak selalu terlihat melalui pencapaian besar. Terkadang, kekuatan justru muncul dalam keberanian untuk mengatakan bahwa dirinya sedang tidak baik-baik saja.

Pemberdayaan Perempuan Bukan tentang Menjadi Sempurna

Istilah *women empowerment* atau pemberdayaan perempuan semakin dikenal dalam berbagai ruang diskusi, termasuk media sosial.

Kita sering melihat kisah perempuan inspiratif yang berhasil membangun bisnis, meraih pendidikan tinggi, menduduki posisi kepemimpinan, atau mencapai prestasi di bidang tertentu.

Kisah-kisah tersebut penting karena menunjukkan bahwa perempuan memiliki kemampuan dan kesempatan untuk berkembang.

Namun, pemberdayaan perempuan seharusnya tidak menciptakan standar kesempurnaan yang baru.

Tidak semua perempuan harus menjadi pengusaha sukses. Tidak semua perempuan perlu memiliki karier tertentu untuk membuktikan kemampuannya. Begitu pula, pilihan untuk menikah, tidak menikah, memiliki anak, atau menjalani kehidupan yang berbeda tidak seharusnya menjadi satu-satunya ukuran keberhasilan.

Pemberdayaan yang sesungguhnya adalah ketika perempuan mempunyai kesempatan untuk belajar, bekerja, mengambil keputusan, memperoleh perlindungan, dan menentukan arah kehidupannya tanpa diskriminasi.

Dalam hal ini, dukungan keluarga, lingkungan pendidikan, dunia kerja, dan kebijakan publik memiliki peranan penting.

Kesetaraan bukan tentang menjadikan semua perempuan memiliki kehidupan yang sama, melainkan memastikan setiap perempuan mempunyai kesempatan yang adil untuk menentukan kehidupannya sendiri.

Mengubah Cara Kita Menghargai Perempuan

Perubahan besar dapat dimulai dari kebiasaan sederhana.

Misalnya, berhenti menilai perempuan hanya berdasarkan penampilan, status pernikahan, usia, atau pekerjaan yang dimilikinya.

Di lingkungan keluarga, pembagian pekerjaan domestik dapat dilakukan melalui kesepakatan yang lebih adil. Dalam dunia pendidikan, perempuan perlu mendapatkan ruang yang sama untuk mengembangkan kemampuan dan menyampaikan pendapat.

Sementara itu, di lingkungan kerja, kesempatan berkembang seharusnya didasarkan pada kompetensi dan kinerja, bukan prasangka mengenai peran gender.

Hal-hal tersebut mungkin terdengar sederhana. Namun, perubahan cara pandang dapat membantu menciptakan lingkungan yang lebih menghargai perempuan sebagai individu.

Perempuan tidak selalu membutuhkan pujian karena dianggap mampu melakukan segalanya. Terkadang, yang mereka perlukan adalah kesempatan untuk memilih, dukungan ketika menghadapi kesulitan, serta penghargaan terhadap keputusan yang mereka ambil.

Menjadi Diri Sendiri Sudah Cukup Berharga

Pada akhirnya, setiap perempuan berhak menentukan seperti apa kehidupan yang ingin dijalaninya.

Ada perempuan yang sedang memperjuangkan pendidikan. Ada yang bekerja keras untuk membantu keluarga. Ada yang membangun usaha dari awal. Ada pula yang sedang berusaha mengenali dirinya sendiri setelah melewati berbagai pengalaman hidup.

Tidak semua perjalanan harus menghasilkan pencapaian yang terlihat oleh orang lain.

Kehidupan bukan perlombaan untuk membuktikan siapa yang paling kuat, paling mandiri, atau paling berhasil.

Mungkin sudah saatnya kita berhenti menuntut perempuan untuk selalu menjadi sosok yang sempurna.

Biarkan mereka memiliki mimpi, membuat kesalahan, mengubah keputusan, merasakan kesedihan, dan merayakan keberhasilan dengan caranya masing-masing.

Sebab, perempuan tidak harus selalu kuat untuk dianggap hebat.

Mereka tetap berharga, bahkan ketika sedang lelah, belum mencapai impiannya, atau hanya ingin menjalani kehidupan dengan tenang.

Dan mungkin, salah satu bentuk penghargaan terbesar kepada perempuan adalah memberikan ruang bagi mereka untuk menjadi manusia seutuhnya, tanpa harus terus-menerus membuktikan bahwa dirinya layak dihargai.

---

Referensi

1. United Nations. (2025). What the data tell us about equality between women and men. https://www.un.org/en/desa/what-data-tell-us-about-equality-between-women-and-men

2. International Labour Organization. (2024). Eksperimen sosial ILO-Magdalene: Perempuan menghabiskan 100 jam pekerjaan perawatan tidak berbayar dalam seminggu. https://www.ilo.org/id/resource/article/eksperimen-sosial-ilo-magdalena-perempuan-menghabiskan-100-jam-pekerjaan

Keterangan Gambar: Gambar sampul merupakan ilustrasi digital yang dibuat menggunakan teknologi kecerdasan buatan (AI) melalui ChatGPT dari OpenAI untuk menggambarkan perkembangan teknologi dalam dunia pendidikan. Gambar bukan merupakan dokumentasi peristiwa nyata.