Pacaran Kok Gak Dewasa?

Mahasiswa Universitas Pembangunan Jaya, Program Studi Ilmu Komunikasi Angkatan 2022
Tulisan dari Daffa Aiman Pambayun Idrus tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan
Menjalin hubungan karena suka, atau karena terpaksa? Yang seharusnya saling mencintai satu sama lain, malah saling menyakiti.
Pernahkah kalian melihat seseorang mengalami hal seperti itu dengan pasangannya? Tentunya aneh jika melihat sepasang kekasih yang hanya terlihat mesra di media sosial, namun berbanding terbalik dengan apa yang terjadi di realita.

Saat ini saya sedang berada di hubungan yang sehat, namun memang saya akui banyak sekali tantangan yang harus dihadapi saat menjalani hubungan yang serius. Hubungan akan berjalan lancar selama kedua belah pihak bisa saling memahami satu sama lain. Memulai hubungan yang dewasa memang tidak mudah, diperlukan banyak sekali komitmen dari kedua belah pihak agar hubungan itu dapat terus berjalan. Dalam suatu hubungan, pasti ada rasa membutuhkan satu sama lain. Baik itu kehadiran kita di sisinya, atau menghabiskan waktu bersama. Hubungan dengan mindset dewasa memiliki banyak kunci seperti komitmen, kepercayaan, kepedulian, keterbukaan, dan kejujuran. Begitu pula hambatan-hambatannya, yang biasanya dimiliki oleh berbagai macam pasangan.
Disaat kita membahas tentang hubungan yang dewasa, pasti terlintas juga di pikiran kita tentang kebalikannya, yaitu hubungan kekanak-kanakan yang hanya untuk sekadar status. Pacaran sudah menjadi hal yang umum di Indonesia, banyak sekali anak muda zaman sekarang yang setidaknya sudah pernah berpacaran/memiliki pacar. Namun, banyak dari mereka yang kandas di tengah jalan, bergonta-ganti pasangan, dan bahkan main belakang. Tanpa keseriusan dan komitmen, tentu hubungan tersebut dapat berakhir kapan saja. Namun banyak juga hubungan yang sudah sangat toxic tetapi masih dipertahankan oleh pasangan tersebut.
Sifat Posesif dan Egois
Salah satu faktor penghambat hubungan yang sehat adalah sifat posesif. Mau itu hanya dilakukan oleh salah satu pasangannya maupun kedua belah pihak, tetap saja posesif. Saya memiliki teman yang sangat akrab dengan saya, pertemanan kita sudah berlangsung selama 4 tahun, dia sedang menjalani hubungan toxic dengan pacarnya yang telah berjalan selama 2 tahun. Pacar nya sangat posesif terhadap teman saya, ia selalu mengekang dari hal-hal kecil. Contohnya melarang bermain game, pergi tanpa mengajak dia, atau bermain dengan teman-temannya. Jangankan main dengan teman perempuan, kadang main bersama saya atau teman laki-laki lainnya pun tidak diperbolehkan. Kalau diizinkan, pacarnya harus selalu ikut bersamanya. Sering juga pacar nya meminta untuk buru-buru pulang. Saya masih bingung dengan apa yang membuat teman saya ingin mempertahankan hubungannya selama ini, dan dia bukan satu-satunya teman saya yang mempunyai pasangan yang posesif. Posesif sangatlah tidak baik dalam hubungan. Hubungan harusnya menciptakan relasi timbal-balik, bukan rasa tuntutan dari satu pihak. Untuk mempunyai hubungan yang sehat, seharusnya menjalani hubungan dengan bijak dan tidak saling mengekang. Cara mengatasi pasangan yang posesif dapat dilakukan dengan saling memberi batasan. Dengan in,i kedua belah pihak akan berpegang teguh dengan batasannya demi menjaga hubungan. Jika itu berjalan dengan mulus, maka timbul lah rasa kepercayaan. Dengan kepercayaan, tidak akan ada yang namanya posesif dalam hubungan.
Survei mengenai hubungan yang tidak sehat dilakukan oleh SeBAYA PKBI Jawa Timur pada tahun 2010 silam. Dan hasil yang dapat diambil dari hasil penelitian tersebut menunjukkan 41% dibentak saat mereka berbeda pendapat, 33% dimarahi ketika menolak berciuman, dan 26% dibatasi dalam melakukan kegiatan sosialnya. Dari data tersebut, kita dapat menarik kesimpulan bahwa hubungan yang tidak sehat dapat berasal dari keegoisan satu pihak dalam hubungan. Hal ini dapat diperbaiki dengan membiasakan sikap saling menghargai dalam hubungan. Dengan begitu, kedua pihak akan merasa lebih dihargai dan diapresiasi oleh pasangannya.
Toxic Relationship
"Toxic relationship paling berbahaya bila terjadi pada kalangan remaja atau pasangan yang menjadi orang tua dari anak-anaknya", sebut Dr. Primatia Yogi Wulandari, M.Si., Psikolog pakar psikologi Universitas Airlangga (UNAIR) dari Departemen Psikologi Pendidikan dan Perkembangan pada Rabu (18/12/19). Bahaya yang dimaksud adalah dampak dari toxic relationship tersebut,seorang remaja akan mendapat pengaruh buruk dari hubungan tidak sehat tersebut. Cara mengatasinya yaitu hanya sesimpel mengakhiri hubungan itu. Karena jelas, apalagi yang ingin diambil jika hubungan sudah tidak membawa pengaruh positif? Lalu, poin yang ke dua akan sangat merugikan bagi anak. Seringkali anak menjadi dampak dari pertengkaran kedua orang tuanya. Dalam rumah tangga, seharusnya baik kepala keluarga maupun ibu harus bisa saling bijak dalam menyikapi masalah. Jika memang keadaan begitu memanas, lebih baik tidak dilakukan depan anak. Dampak nya akan sangat buruk bagi sang anak jika melihat kedua orang tuanya bertengkar, kebanyakan anak mengalami gangguan terhadap psikisnya akibat dari pertengkaran orang tuanya. Tentu mengatasi masalah dalam pernikahan tidaklah mudah, ketika ada masalah, diperlukan pemahaman dari kedua belah pihak. Sebisa mungkin menghadapi masalah harus dengan kepala dingin dan hati yang tenang. Karena anak bisa mengalami trauma akibat pertengkaran kedua orangtuanya.
Dampak Positif dari Hubungan yang Sehat
Memang sulit untuk memulai hubungan yang sehat, namun jangan pernah menyerah. Banyak sekali pengaruh positif yang dapat kita rasakan bila hubungan kita sehat. Yang pertama tentunya kita akan bertambah bahagia, bahkan saat sedang menghadapi masalah pun kita tidak perlu lagi merasa cemas, karena akan selalu ada pasangan kita yang siap menemani disaat suka maupun duka, masalah apapun akan dapat diatasi apabila kedua pasangan dapat saling membantu. Yang kedua, meningkatkan rasa percaya diri. Tentunya jika kedua pasangan saling support, rasa kepercayaan diri kita akan meningkat. Baik itu soal tampilan, keputusan, cita-cita, maupun harapan. Dan yang terakhir, membantu kita untuk mencintai diri kita sendiri. Tentunya masing-masing dari diri kita memiliki kekurangan tertentu, dan tidak sedikit dari yang merasa malu soal kekurangan itu. Namun, memiliki pasangan yang siap menerima kita apa adanya akan membuat kita menerima kekurangan yang ada di diri kita secara perlahan. Masih banyak lagi dampak positif lainnya dari hubungan yang sehat. Namun manfaat dari hubungan yang sehat dapat dirasa ketika kita sudah merasa aman dengan pasangan kita, dan dilengkapi dengan kepercayaan yang tulus.
Ya, untuk saling menjadi dewasa dalam hubungan tentu tidaklah mudah. Perlu diterapkan kebiasaan-kebiasaan baik yang dapat membantu hubungan, belum lagi jika hubungan yang sedang dijalani sangatlah tidak nyaman, dan membuat kita malas untuk memulai hubungan yang sehat. Ingatlah, masih ada jutaan bahkan milyaran umat manusia di dunia, jangan merasa gagal move on dan tidak ingin bangkit jika kamu ingin mendapatkan hubungan yang sehat. Ingatlah, kita harus selalu melangkah ke depan untuk masa depan yang cerah. Memiliki pasangan boleh, tetapi kita harus selalu tahu self-worth akan diri kita dan cita-cita yang harus digapai. Jika kamu masih tidak mau berpindah dari hubungan kamu yang tidak sehat, ya sudah, kalau memang itu pilihanmu. Namun, apa kamu rela susah payah membahagiakan pasanganmu yang bahkan tidak pernah peduli dengan apa yang kamu rasakan?
Referensi
https://fkkmk.ugm.ac.id/toxic-relationship-hindari-hubungan-bermasalah-di-kalangan-remaja/
