Konten dari Pengguna

Dari Kursi Penonton ke Balik Kamera

google
Ikuti kumparan di Google
info
Jadikan kumparan sebagai preferensi terpercayamu di Google
comment
0
sosmed-whatsapp-white
copy-circle
more-vertical

Tulisan dari Gracia Kasih Novariescha tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

Bilal Khoir, Mahasiswa Sekolah Vokasi, Universitas Sebelas Maret yang sudah memenangkan beberapa lomba video. Sumber: Dokumentasi Pribadi
zoom-in-whitePerbesar
Bilal Khoir, Mahasiswa Sekolah Vokasi, Universitas Sebelas Maret yang sudah memenangkan beberapa lomba video. Sumber: Dokumentasi Pribadi

Layar laptop menyala terang di dalam kamar yang gelap. Jam di sudut kanan layar telah menunjukan hampir tengah malam, tapi seseorang tetap sibuk mengetik dan menghapusnya berulang kali. Berbagai adegan telah ia coba tulis dan belum juga sesuai dengan ekspektasinya. Padahal, 6 tahun lalu di waktu yang sama ia sedang asyik menonton film sesuai kemauannya sendiri.

Bilal Khoir (19) adalah mahasiswa semester tiga Sekolah Vokasi, Universitas Sebelas Maret. Ia sudah beberapa kali memenangkan perlombaan video dan sering kali mengambil peran sebagai sutradara dalam video yang dilombakan. Perjalanannya berawal dari hal sederhana, yaitu menonton film. Saat pandemi COVID-19 melanda dan karantina membuatnya bingung harus melakukan apa, ia mulai menyukai film.

Awalnya, ia menonton film berseri panjang seperti Harry Potter dan The Lord of the Rings. Lama-lama, menonton menjadi rutinitas yang membawanya ke bioskop beberapa kali dalam sebulan. Di luar pengalaman menonton di bioskop, film yang paling membekas baginya justru Nobody Knows (2004) karya Hirokazu Kore-eda. Sebagai penonton yang lebih tertarik pada film dengan pesan yang kuat, Bilal menyukai cara penyampaiannya dalam film ini. Baginya, film ini menyampaikan kritik sosial dengan cara yang tenang tapi membekas. Dari kebiasaan dan hobinya dalam menonton film, muncullah keinginannya untuk membuat film sendiri.

Film pertama yang dibuat oleh Bilal adalah film sederhana tanpa suara berjudul “The Homeless Man” dengan berbekal kamera dan peralatan yang terbatas. Karena film pertamanya dibuat untuk memenuhi tugas, seluruh krunya masih belajar, termasuk Bilal sendiri. “Waktu itu masih pemula aku langsung jadi sutradara, jadi agak bingung sih tapi tetep i do my best lah,” ujarnya. Namun, proses yang ia lalui justru membuatnya belajar banyak hal seperti koordinasi tim dan pembagian jobdesk, hal itu juga mendorongnya untuk mencoba lagi.

Waktu kemudian berlalu, dan percobaan demi percobaan mulai membuahkan hasil. Proyek video buatannya berhasil ia bawa ke ajang kompetisi. Ketika ia selesai membuat film, ia tidak pernah merasa bahwa filmnya cukup. “Ah film seperti ini bisa menang?” ungkapnya seakan tidak percaya. Meski begitu, ia tetap merasa begitu senang saat menang. “Ternyata ada yang suka sama karya yang aku bikin,” tuturnya bahagia. Kemenangan itu kemudian disusul dengan kemenangan lainnya. Bahkan dari salah satu lomba, Bilal mendapat hadiah yang tak pernah ia bayangkan, undangan ke Eropa.

Kesempatan tersebut menjadi bagian dari perjalanan panjangnya. Setelah menjadi sutradara di beberapa projek, Bilal merasa berbeda ketika menonton film. Ia mengungkapkan bahwa sebelum menjadi sutradara ia seringkali protes ketika menonton film dengan penyutradaraan yang kurang. Namun setelah ia menjadi sutradara, ia paham bahwa membuat film tidak semudah itu.

Tengah malam sudah lewat. Bilal menyimpan draf idenya dan menutup laptopnya. Perjalanannya ia anggap belum selesai. Rasa tidak pernah puas yang dulu menemaninya kini ia arahkan ke karya berikutnya. Kini, ia mulai berencana dan menyiapkan karya berikutnya “Aku pengen eksplor genre baru dan ada niatan buat ke festival,” ungkapnya. Dari penonton di kursi bioskop, ia kini menatap layar festival sebagai tujuan berikutnya.

Gracia Kasih