Konten dari Pengguna

Dari Oprah ke Nadia Murad (Bag I)

comment
0
sosmed-whatsapp-white
copy-circle
more-vertical

Tulisan dari Filsafat Sains Dimitri Mahayana tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

Sumber: Unsplash
zoom-in-whitePerbesar
Sumber: Unsplash

Pengantar

Ada luka yang begitu dalam. Dunia mengira orang yang menanggungnya tidak akan bertahan. Namun ada perempuan yang membuktikan sebaliknya. Mereka bangkit. Mereka bersinar. Mereka mengubah penderitaan menjadi kekuatan.

Kisah ini tentang dua di antara mereka. Lalu tentang filsafat dan sains yang menjelaskan kebangkitan itu. Bukan sebagai teori yang jauh. Tapi sebagai cermin dari apa yang benar-benar terjadi dalam hidup mereka.

I. Kisah Pertama: Oprah Winfrey

Awal yang Tidak Dipilih

Kosciusko, Mississippi, 1954. Sebuah gubuk kecil. Tanpa air mengalir. Tanpa listrik. Seorang ibu yang masih remaja melahirkan sendirian. Bayi itu diberi nama Oprah. Tidak ada yang merayakan kelahirannya. Tidak ada yang menunggu.

Oprah diasuh neneknya, Hattie Mae. Nenek yang keras. Tapi juga nenek yang mengajarinya membaca. Pada usia tiga tahun, Oprah sudah bisa membaca. Ibu kandungnya pergi ke kota. Berbulan-bulan. Tanpa kabar. Buku menjadi satu-satunya pintu keluar dari dunia yang menghimpitnya.

Malam yang Mengubah Segalanya

Oprah berusia sembilan tahun. Sepupu laki-lakinya masuk ke kamarnya. Ia melakukan sesuatu yang tidak akan pernah terlupakan. Lalu seorang paman. Lalu seorang teman keluarga. Tiga tahun. Dalam diam. Tidak ada yang mau mendengar. Tidak ada yang mau percaya.

Oprah memendam semuanya. Ia mulai berpikir, mungkin ada yang salah dengan diriku. Mungkin aku memang tidak layak dicintai.

Momen Paling Menyentuh

Tahun 1986. Oprah sedang live di televisi nasional. Seorang narasumber berbagi kisah pelecehannya. Sesuatu dalam diri Oprah pecah. Tanpa rencana, ia berkata: "Itu juga terjadi padaku." Studionya hening. Jutaan penonton terpaku.

Setelah siaran, saluran telepon studio meledak. Ribuan perempuan menelepon sambil menangis. "Itu juga kisah saya. Anda membuat saya tidak merasa sendirian." Pada saat itulah Oprah menyadari bahwa luka yang ia alami dapat menjadi jembatan bagi orang lain.

Jatuh ke Titik Paling Gelap

Usia empat belas tahun. Oprah mengalami kehamilan. Bayi itu lahir secara prematur. Beberapa minggu kemudian, bayi itu pergi. Ibunya menyebut Oprah sebagai aib keluarga. Oprah berpikir bahwa hidupnya telah berakhir.

Tangan yang Mengulur

Ayah kandungnya memanggilnya pulang. Vernon Winfrey, ayah yang tegas, konsisten dan percaya terhadap Oprah. Ia menetapkan aturan jam malam dan kewajiban membaca. Ia meyakinkan Oprah bahwa ia dapat menjadi seseorang. Untuk pertama kalinya, ada seseorang yang tidak pergi. Oprah mulai percaya pada dirinya sendiri.

Momen Kebangkitan

Oprah diterima di universitas dengan beasiswa penuh. Ia mulai bekerja di radio lokal. Suaranya hangat, jujur, dan mendalam. Para pendengar merasa bahwa ada yang mengerti aku. Tahun 1986, The Oprah Winfrey Show ditayangkan secara nasional. Program tersebut mendapatkan rating yang sangat tinggi. Bukan karena ia glamor. Melainkan karena keaslian dirinya.

Warisan yang Tidak Ternilai

Oprah menjadi miliarder wanita kulit hitam pertama dalam sejarah Amerika. Ia mendirikan sekolah untuk anak perempuan di Afrika Selatan. Yayasannya menyentuh jutaan kehidupan. Ia memiliki pasangan setia, Stedman Graham, selama lebih dari empat dekade. Hidupnya tidak sempurna. Tapi hidupnya tetap dijalani dengan penuh kesadaran.

II. Kisah Kedua: Nadia Murad

Gadis dari Bukit Sinjar

Kocho. Sebuah desa kecil di lereng Pegunungan Sinjar, Irak. Di desa tersebut, Nadia Murad tumbuh. Ia anak bungsu dari sebelas bersaudara. Keluarganya berasal dari komunitas Yazidi yang memiliki keyakinan damai. Nadia memiliki mimpi yang sederhana. Ia ingin suatu hari akan menjadi penata rias. Atau mungkin seorang guru. Ia tidak tahu bahwa mimpinya akan dicuri dalam satu hari.

Agustus 2014: Hari Kiamat

Awal Agustus 2014, sekelompok ISIS menyerbu wilayah Sinjar. Ribuan orang Yazidi dibantai dalam waktu singkat. Pada 15 Agustus 2014, desa Kocho diserang. ISIS mengepung. Tidak ada jalan keluar. Laki-laki dipisahkan dari perempuan. Kemudian dibunuh dihadapan keluarga mereka. Enam saudara laki-laki Nadia terbunuh. Serta Ibunya ikut dibunuh.

Perempuan dan anak-anak dikumpulkan. Diangkut dengan truk dan diperjualbelikan. Nadia, yang saat itu berusia dua puluh satu tahun, ia dijadikan budak. Dipindahtangankan dari satu milisi ke milisi lain. Dan diperlakukan seperti barang di pasar terbuka.

Momen Paling Menyentuh

Pada suatu malam, penjaga yang mengawasinya lalai. Pintu tidak terkunci. Nadia melarikan diri. Ia mengetuk pintu rumah orang asing. Sebuah keluarga Muslim Sunni membuka pintu rumahnya. Mereka menyembunyikannya. Memberinya pakaian. Mempertaruhkan nyawa mereka sendiri. Tanpa diminta. Tanpa imbalan. Tindakan tersebut dilakukan semata-mata karena alasan kemanusiaan.

Melalui peristiwa tersebut, Nadia memahaminya. Bahwa kebaikan tidak pernah benar-benar hilang.

Dari Korban Menjadi Suara

Di kamp pengungsi, banyak penyintas memilih untuk tetap diam. Karena malu, trauma, dan rasa takut. Namun, Nadia memilih berbicara. Meskipun suaranya bergetar dan tangannya dingin. Ia tetap melanjutkan kesaksiannya.

Momen Kebangkitan

Pada tanggal 16 Desember 2015. Pertama kali dalam sejarah PBB, Dewan Keamanan Perserikatan Bangsa-Bangsa untuk pertama kalinya mendengarkan korban secara langsung. Nadia berdiri di podium itu. Sebagai seorang gadis dari desa kecil di Irak. Tanpa gelar dan tanpa koneksi. Hanya dengan keberanian. Ia berbicara dihadapan para pemimpin dunia.

Ruangan tersebut menjadi hening. Ada beberapa diplomat yang menangis. Sekretaris Jenderal PBB memeluk Nadia setelah sidang. Lalu berkata kepada Nadia, "Anda lebih berani dari siapapun di ruangan ini."

Nobel, Cinta, Rumah Baru

Pada tahun 2018. Nadia menerima Hadiah Nobel Perdamaian. Dunia mengakui, keberanian bersuara adalah senjata perdamaian. Ia mendirikan Nadia's Initiative. Membangun kembali Kocho dari puing-puing. Program yang mencakup pembangunan rumah, sekolah, dan rumah sakit.

Dan di tengah proses tersebut, ia menemukan cinta. Tahun 2018 ia menikah dengan Abid Shamdeen. Aktivis HAM yang berjuang di sisinya. Nadia yang dulu berdoa untuk kematian, kini ia berdoa untuk kehidupan yang panjang. (Bersambung)