Konten dari Pengguna

Dari Ruang Guru, Kami Belajar Bahwa Anak Tidak Bisa Belajar dengan Perut Kosong

Karina Rina

Karina Rina

Staf pengajar di TK Al Barokah Jakarta

·waktu baca 12 menit

google
Ikuti kumparan di Google
info
Jadikan kumparan sebagai preferensi terpercayamu di Google
comment
0
sosmed-whatsapp-white
copy-circle
more-vertical

Tulisan dari Karina Rina tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

Sejumlah anak menggunakan topi bergambar Raden Ajeng (RA) Kartini saat peringatan Hari Kartini di TK Kartika XX/46 Kendari, Sulawesi Tenggara, Selasa (21/4/2026). Foto: Andry Denisah/ANTARA FOTO
zoom-in-whitePerbesar
Sejumlah anak menggunakan topi bergambar Raden Ajeng (RA) Kartini saat peringatan Hari Kartini di TK Kartika XX/46 Kendari, Sulawesi Tenggara, Selasa (21/4/2026). Foto: Andry Denisah/ANTARA FOTO

Ada banyak hal yang kami pelajari dari anak-anak di sekolah. Sebagian kami dapatkan dari buku, pelatihan guru, atau diskusi dengan sesama pendidik. Namun, sebagian lainnya justru kami pelajari dari hal-hal sederhana yang terjadi setiap hari di ruang kelas. Salah satunya adalah tentang makanan.

Sebagai salah satu pemangku kebijakan di TK Islam Al Barokah di Jakarta, saya melihat sendiri bahwa kondisi fisik anak sangat berhubungan dengan bagaimana mereka mengikuti kegiatan belajar.

Anak yang datang ke sekolah dengan tubuh bugar biasanya lebih mudah diajak beraktivitas. Sebaliknya, ketika anak terlihat lemas, mengantuk, mudah rewel, atau kehilangan semangat, guru harus mengeluarkan usaha lebih untuk mengembalikan perhatian mereka.

Pada usia dini, belajar memang tidak selalu berarti duduk diam mendengarkan guru menjelaskan. Anak belajar melalui bermain, bergerak, berbicara, bernyanyi, menggambar, bertanya, dan berinteraksi dengan teman. Semua kegiatan itu membutuhkan energi.

Karena itu, bagi kami para guru, persoalan gizi bukan sesuatu yang berada di luar dunia pendidikan. Gizi adalah bagian dari proses belajar itu sendiri.

Sejak tengah 2026, TK Islam Al Barokah menjadi salah satu sekolah yang menerima Program Makan Bergizi Gratis (MBG). Dalam beberapa bulan pelaksanaannya, kami mendapatkan pengalaman yang menarik.

Sampai sejauh ini, tidak ada kendala seperti keracunan ataupun makanan basi. Menu yang diterima anak-anak juga cukup variatif.

Namun, ada satu pemandangan sederhana yang bagi saya justru sangat bermakna. Anak-anak datang membawa tempat bekal mereka sendiri dari rumah.

Bukan karena kami meminta mereka melakukannya. Mereka justru terlihat antusias membawa wadah masing-masing untuk memindahkan makanan MBG ke tempat bekal mereka.

Bagi orang dewasa, mungkin ini terlihat sepele. Tetapi bagi saya sebagai pendidik anak usia dini, kebiasaan kecil seperti itu menunjukkan bahwa makanan juga dapat menjadi bagian dari pengalaman belajar anak.

Mereka belajar mengenal makanan, belajar mengambil dan membawa makanan dengan hati-hati, belajar makan bersama, belajar mengenali rasa, sekaligus belajar bahwa makanan adalah bagian penting dari aktivitas mereka di sekolah.

Tidak Hanya Butuh Buku

Sejumlah Anak TK di Pulau Terluar Natuna Santap MBG. Foto: Dok. Bakom RI

Kita sering membicarakan kualitas pendidikan dengan berbagai ukuran: kualitas guru, kurikulum, sarana belajar, teknologi, metode pengajaran, hingga hasil akademik. Semua itu penting.

Tetapi ada satu pertanyaan yang kadang terlupakan: apakah tubuh anak siap menerima semua proses belajar tersebut?

Anak yang lapar tentu tidak otomatis menjadi anak yang tidak bisa belajar. Tetapi rasa lapar, kelelahan, atau kondisi gizi yang tidak memadai dapat menjadi salah satu hambatan bagi anak untuk mengikuti kegiatan belajar secara optimal.

Kementerian Kesehatan juga menekankan pentingnya sarapan bagi anak. Dalam materi edukasinya, sarapan disebut dapat membantu menjaga energi serta mendukung konsentrasi anak selama belajar.

UNICEF juga menempatkan gizi anak usia sekolah sebagai hal yang berkaitan erat dengan pertumbuhan, proses belajar, dan kesehatan jangka panjang.

Artinya, hubungan antara makanan dan pendidikan bukan sekadar asumsi yang lahir dari pengamatan guru di kelas. Keduanya memang memiliki hubungan yang perlu diperhatikan dalam pembangunan sumber daya manusia.

Dari ruang guru, kami melihat hubungan itu dalam bentuk yang sangat sederhana. Ketika anak merasa nyaman secara fisik, guru lebih mudah mengajaknya bermain dan belajar.

Ketika anak memiliki energi untuk bergerak, kegiatan kelas berjalan lebih hidup. Ketika anak tidak sibuk dengan rasa lapar atau lelah, perhatian mereka lebih mudah diarahkan kepada aktivitas yang sedang dilakukan.

Inilah mengapa menurut saya program seperti MBG sebaiknya tidak dilihat hanya sebagai program pemberian makanan. Ia harus dilihat sebagai bagian dari ekosistem pendidikan.

Makanan Bergizi Juga Harus Sesuai dengan Usia Anak

Anak-anak PAUD Anak Hebat tengah menyantap MBG di Kartasura, Kabupaten Sukoharjo, Jawa Tengah. Foto: Dok. Bakom RI

Namun, dari pengalaman kami sebagai sekolah yang berada di jenjang pendidikan anak usia dini, ada satu hal yang menurut saya penting untuk terus diperhatikan: kebutuhan makanan anak tidak selalu sama pada setiap jenjang pendidikan.

Makanan yang baik dan bergizi tentu sangat penting. Tetapi makanan bergizi tidak hanya ditentukan oleh nama atau jenis menunya.

Kualitas bahan yang digunakan juga menjadi bagian penting. Bahan makanan yang segar atau fresh, diolah dengan baik, dan sesuai dengan kebutuhan anak akan lebih mendukung tujuan tersebut.

Hal ini karena kebutuhan anak di jenjang TK tentu berbeda dengan anak SD, bahkan SMP.

Ada perbedaan dari sisi usia, kemampuan mengunyah, ukuran porsi, tekstur makanan, selera, hingga jenis olahan yang dapat diterima anak. Karena itu, menurut saya, tidak selalu tepat apabila makanan yang diberikan kepada anak SMP kemudian diterapkan dengan cara yang sama kepada anak TK.

Anak TK masih berada pada tahap perkembangan yang sangat berbeda.

Jika anak usia dini dipaksakan menerima makanan dengan bentuk, tekstur, atau jenis olahan yang lebih sesuai untuk anak SMP, menurut saya rasanya kurang pas.

Bukan berarti makanan tersebut tidak bergizi, tetapi cara makanan itu disiapkan perlu mempertimbangkan siapa yang akan memakannya.

Pengalaman sehari-hari di sekolah menunjukkan bahwa anak usia dini memiliki karakter yang khas ketika berhadapan dengan makanan. Mereka masih belajar mengenal rasa, tekstur, bentuk makanan, sekaligus membangun kebiasaan makan.

Karena itu, saya melihat pengelompokan dapur MBG berdasarkan karakteristik jenjang pendidikan sebagai hal yang layak dipertimbangkan.

Dapur yang melayani TK dan SD mungkin masih dapat dikelompokkan karena kebutuhan anak relatif berdekatan dibandingkan jika langsung disatukan dengan jenjang SMP.

Perlu digarisbawahi bahwa dapur yang sama harus melayani anak TK sekaligus anak SMP, tentu perlu ada perhatian lebih terhadap perbedaan kebutuhan tersebut.

Jangan sampai efisiensi dalam sistem penyediaan makanan justru membuat kebutuhan anak yang paling kecil kurang terakomodasi.

Pada akhirnya, makanan yang bergizi adalah makanan yang benar-benar dapat diterima dan dikonsumsi anak sesuai dengan tahap tumbuh kembangnya.

Makanan Datang, Kebiasaan Juga Terbentuk

Ilustrasi dapur MBG. Foto: Shutterstock

Ada hal menarik lain yang kami rasakan sejak MBG hadir di sekolah.

Anak-anak tidak hanya mendapatkan makanan. Mereka juga mendapatkan pengalaman baru tentang makanan.

Menu yang cukup variatif membuat anak berhadapan dengan jenis makanan yang mungkin berbeda dari makanan yang biasa mereka konsumsi di rumah.

Setiap hari, informasi mengenai menu beserta kandungan nutrisi atau gizinya juga dibagikan kepada pihak sekolah.

Bagi kami, informasi seperti ini penting karena guru dapat mengetahui apa yang diberikan kepada anak dan pada saat yang sama memiliki bahan untuk menjelaskan makanan tersebut secara sederhana kepada peserta didik.

Anak mungkin belum memahami istilah protein, karbohidrat, vitamin, atau mineral secara utuh. Tetapi mereka bisa belajar bahwa ada makanan yang membantu tubuh menjadi kuat.

Ada makanan yang membantu mereka memiliki tenaga. Ada sayuran yang baik untuk tubuh. Ada lauk yang perlu dihabiskan.

Dari hal-hal kecil itulah kebiasaan terbentuk.

BGN sendiri menyebut sekolah sebagai ruang penting untuk membentuk selera dan kesiapan belajar anak. Pengalaman makan di sekolah dapat memengaruhi hubungan anak dengan makanan dan membentuk kebiasaan yang terbawa hingga kemudian hari.

Bagi saya, gagasan tersebut sangat relevan dengan apa yang kami lihat sehari-hari.

Sekolah memang bukan hanya tempat anak belajar membaca, menulis, berhitung, atau mengenal lingkungan. Sekolah juga merupakan tempat anak belajar hidup. Dan makan adalah bagian dari hidup.

Karena itu, pengalaman makan yang baik di sekolah seharusnya tidak berhenti pada apakah makanan tersebut habis dimakan atau tidak.

Kita perlu memikirkan apakah anak mengenal makanan bergizi, apakah mereka menikmati proses makan, apakah mereka belajar menjaga kebersihan, dan apakah kebiasaan tersebut dapat terbawa ke rumah.

MBG Tidak Bisa Dipisahkan dari Keluarga

Siswa SMP Kemala Bhayangkari 3 mengikuti uji coba program Makan Bergizi Gratis (MBG) dengan sistem prasmanan saat jam istirahat, Jakarta, Kamis (15/10/2026). Foto: Jamal Ramadhan/kumparan

Pada saat yang sama, saya kira kita perlu berhati-hati agar MBG tidak dipahami sebagai pengganti seluruh tanggung jawab keluarga dalam memenuhi kebutuhan gizi anak.

Program ini justru akan lebih kuat apabila sekolah dan keluarga berjalan bersama. Anak makan di sekolah, tetapi pola makannya tetap dibentuk di rumah.

Karena itu, informasi mengenai menu dan kandungan gizi yang dibagikan setiap hari menjadi hal yang menurut saya memiliki nilai lebih.

Orang tua dapat mengetahui apa yang sudah diterima anak di sekolah sehingga kebutuhan makanan di rumah dapat disesuaikan.

Misalnya, jika pada siang hari anak sudah mendapatkan sumber protein tertentu, orang tua dapat memberikan variasi makanan lain pada waktu makan berikutnya. Sederhana, tetapi penting.

Sebab pendidikan gizi tidak seharusnya berhenti di pagar sekolah. Ia harus berjalan sampai ke meja makan keluarga.

Di sinilah saya melihat peluang yang masih sangat besar untuk dikembangkan dalam pelaksanaan MBG.

Program ini tidak hanya dapat memberikan makanan kepada anak, tetapi juga dapat menjadi sarana komunikasi antara sekolah, orang tua, dan pengelola program tentang pola makan sehat.

Ketika Ada Masalah, Komunikasi Menjadi Sangat Penting

Pengalaman kami juga menunjukkan bahwa keberhasilan program makanan di sekolah bukan hanya ditentukan oleh isi piring. Lebih dari itu, komunikasi antara sekolah dan SPPG juga menjadi bagian penting dalam pelaksanaannya.

Sekolah merupakan pihak yang berhadapan langsung dengan anak dan orang tua. Karena itu, informasi mengenai menu, waktu pengantaran, kondisi makanan, perubahan jadwal, maupun situasi tertentu perlu disampaikan dengan cepat dan jelas.

Bagi sekolah, kepastian informasi sangat penting agar guru dapat menyesuaikan kegiatan dan orang tua dapat mengetahui kebutuhan anak.

Di sisi lain, SPPG juga membutuhkan informasi dari sekolah mengenai kondisi peserta didik dan situasi di lapangan. Dengan komunikasi dua arah yang baik, berbagai persoalan dapat dibicarakan sebelum berkembang menjadi masalah yang lebih besar.

Menurut saya, mekanisme komunikasi antara sekolah dan SPPG perlu dibuat semakin jelas.

Siapa yang menjadi pihak penghubung, bagaimana menyampaikan perubahan jadwal, bagaimana sekolah menyampaikan kondisi khusus, serta bagaimana keputusan diambil ketika terjadi perubahan situasi merupakan hal-hal yang sebaiknya memiliki prosedur yang jelas.

Dengan begitu, sekolah dan pengelola MBG tidak perlu saling menunggu ketika membutuhkan keputusan atau informasi.

Komunikasi yang cepat dan jelas bukan sekadar persoalan administrasi. Ia berkaitan dengan kepercayaan.

Program yang menyentuh anak-anak membutuhkan tingkat kepercayaan yang tinggi dari orang tua. Karena itu, selain memastikan makanan aman dan bergizi, pengelola program juga perlu memastikan informasi mengenai menu, keamanan pangan, perubahan jadwal, dan berbagai hal penting lainnya tersampaikan secara jelas kepada sekolah.

Menurut saya, ini adalah bagian yang tidak boleh dianggap sebagai pelengkap.

Jangan Hanya Mengukur dari Berapa Porsi yang Dibagikan

Program MBG merupakan program dengan skala yang sangat besar. Pemerintah menargetkan program ini menjadi bagian dari upaya membangun generasi yang sehat, cerdas, dan produktif.

Dalam kerangka tersebut, UNICEF dan pemerintah juga menempatkan MBG sebagai salah satu intervensi yang berkaitan dengan perkembangan fisik dan kognitif anak usia sekolah.

Karena skalanya besar, cara kita menilai keberhasilannya juga seharusnya tidak semata-mata berdasarkan berapa banyak porsi makanan yang berhasil dibagikan.

Tentu jumlah penerima manfaat penting. Tetapi bagi kami di sekolah, ada pertanyaan yang lebih dekat dengan keseharian anak.

Apakah anak makan dengan baik?

Apakah anak mendapatkan menu yang beragam?

Apakah makanan sesuai dengan kebutuhan mereka berdasarkan usia dan jenjang pendidikan?

Apakah makanan aman?

Apakah bahan makanan yang digunakan benar-benar dalam kondisi baik dan segar?

Apakah anak semakin mengenal makanan sehat?

Apakah guru dan orang tua mendapatkan informasi yang cukup?

Dan dalam jangka panjang, apakah kebiasaan makan yang dibangun melalui program tersebut ikut mendukung tumbuh kembang dan kesiapan anak untuk belajar?

Pertanyaan-pertanyaan seperti inilah yang menurut saya perlu terus diperhatikan.

Sebab satu porsi makanan mungkin hanya habis dalam beberapa menit. Tetapi kebiasaan yang dibangun dari satu porsi makanan dapat berlangsung jauh lebih lama.

Dari Piring ke Ruang Kelas

Kepala BGN Sudaryono meninjau pembagian MBG di SDN Cot Meuraja, Aceh Besar, Selasa (13/10/2026). Foto: BGN

Saya tidak ingin mengatakan bahwa setelah adanya MBG semua persoalan pendidikan menjadi selesai. Tentu tidak.

Guru tetap membutuhkan kompetensi. Sekolah tetap membutuhkan sarana. Anak tetap membutuhkan lingkungan keluarga yang mendukung.

Kurikulum tetap harus diperbaiki. Dan proses belajar tetap membutuhkan perhatian serta pendampingan.

Namun, makanan memberikan fondasi yang tidak bisa diabaikan. Sulit mengharapkan anak belajar secara optimal jika kebutuhan dasar tubuhnya diabaikan.

Itulah pelajaran sederhana yang kami dapatkan dari ruang guru.

Kami melihat anak-anak bukan sebagai angka dalam daftar penerima manfaat. Mereka datang dengan kondisi yang berbeda-beda.

Ada yang aktif, ada yang pemalu, ada yang mudah lelah, ada yang lahap makan, ada yang masih memilih-milih makanan.

Tugas sekolah adalah membantu mereka tumbuh. Dan pertumbuhan itu bukan hanya soal kemampuan mengenal huruf atau angka.

Tubuh mereka juga sedang tumbuh. Kebiasaan mereka sedang terbentuk. Selera mereka sedang berkembang.

Cara mereka memperlakukan makanan sedang dipelajari.

Karena itu, saya berharap MBG terus berkembang menjadi program yang tidak hanya memastikan anak mendapatkan makanan, tetapi juga membantu sekolah membangun budaya makan yang sehat.

Informasi gizi yang setiap hari kami terima dapat terus diperkuat. Guru dapat dibekali pengetahuan sederhana agar mampu menjelaskan makanan kepada anak.

Orang tua dapat dilibatkan melalui komunikasi yang lebih intensif.

Pada saat yang sama, evaluasi program dapat melihat bukan hanya aspek distribusi, tetapi juga penerimaan anak, variasi menu, kualitas dan keamanan bahan pangan, kesesuaian makanan dengan jenjang usia, serta perubahan kebiasaan makan.

Dan yang paling penting, suara sekolah perlu terus didengar. Sebab sekolah adalah tempat kebijakan tersebut akhirnya bertemu dengan anak.

Di atas kertas, program dapat terlihat sangat rapi. Tetapi di ruang kelas, kami melihat bagaimana anak benar-benar menerima makanan tersebut, bagaimana mereka bereaksi terhadap menu, bagaimana mereka makan bersama teman, dan bagaimana makanan itu menjadi bagian dari rutinitas belajar mereka.

Anak yang Sehat, Anak yang Siap Belajar

Siswa SMP Kemala Bhayangkari 3 mengikuti uji coba program Makan Bergizi Gratis (MBG) dengan sistem prasmanan saat jam istirahat, Jakarta, Kamis (15/10/2026). Foto: Jamal Ramadhan/kumparan

Pada akhirnya, saya kembali kepada pemandangan sederhana yang setiap hari kami lihat.

Anak-anak datang ke sekolah. Mereka bermain. Mereka belajar. Mereka tertawa. Lalu pada waktunya, makanan datang.

Sebagian anak bahkan sudah membawa tempat bekalnya sendiri dari rumah dengan antusias. Mereka memindahkan makanan ke wadah masing-masing, kemudian menikmati makanan bersama.

Bagi orang lain, mungkin itu hanya rutinitas makan siang. Bagi kami sebagai pendidik, ada pesan yang lebih besar di sana.

Anak membutuhkan tubuh yang sehat untuk menjalani proses belajar. Pendidikan dan kesehatan bukan dua jalan yang berjalan sendiri-sendiri.

Keduanya bertemu di dalam diri seorang anak.

Karena itu, ketika kita berbicara tentang mencerdaskan kehidupan bangsa, kita tidak cukup hanya berbicara tentang buku, guru, ruang kelas, dan kurikulum.

Kita juga harus berbicara tentang apa yang ada di dalam piring anak.

Program Makan Bergizi Gratis memiliki kesempatan untuk menjadi jembatan antara keduanya: memenuhi kebutuhan dasar anak sekaligus menciptakan lingkungan sekolah yang mendukung tumbuh kembang dan kesiapan belajar.

Dari ruang guru, kami belajar satu hal yang sebenarnya sangat sederhana: anak tidak hanya datang ke sekolah untuk belajar.

Mereka datang sebagai manusia yang harus terlebih dahulu merasa sehat, nyaman, dan memiliki tenaga untuk belajar.

Dan mungkin, salah satu cara paling nyata untuk memastikan mereka siap belajar adalah memastikan bahwa tidak ada anak yang harus menjalani hari sekolah dengan perut kosong.