Tekno & Sains
·
20 Oktober 2020 12:49

Pemanfaatan Potensi Laut dan Mitigasi Bencana di Pesisir Selatan Jawa

Konten ini diproduksi oleh Darma Setiawan

Pengelolaan Wilayah Pesisir Dan Laut, Institut Teknologi Sepuluh Nopember Surabaya.

ADVERTISEMENT
Indonesia terletak pada daerah yang sangat rawan dengan bencana alam khususnya adalah tsunami. Tsunami yang diisukan akhir-akhir ini yang ada di daerah selatan Jawa bukan merupakan hal baru sehingga perlu adanya perhatian bagi pemerintah dan masyarakat untuk bisa meminimalisir suatu bencana yang akan terjadi tersebut. Untuk itu diperlukannya sebuah ICM (Integrated Coastal Management) khususnya pada bidang mitigasi bencana dan pemanfaatan potensi laut yang ada di daerah selatan pantai Jawa. Oleh karena itu, pemerintah dan masyarakat harus bisa bersinergi untuk melakukan mitigasi tersebut. Supaya kerusakan dan korban dapat diminimalisir atau tidak sama sekali.
Pada daerah pesisir pantai selatan Jawa banyak isu yang beredar tentang akan dadanya potensi Tsunami dengan ketinggian 20 meter. Hal tersebut merupakan isu yang sebenarnya sudah diprediksi sejak lama. Secara geografis Daerah selatan Jawa terletak pada pertemuan empat lempeng tektonik yaitu lempeng Asia, lempeng Australia, lempeng Samudera Hindia, dan lempeng Samudera Pasifik. Jika ke-empat lempeng tersebut mengalami pergerakan tektonik maka kemungkinan akan terjadi sebuah bencana yang sangat besar seperti tsunami dan gempa bawah laut. Hal tersebut akan membahayakan pemukiman-pemukiman yang ada di daerah pesisir tersebut. Serta gempa dan tsunami kemungkinan akan berpotensi menjalar ke seluruh bagian selatan Jawa.
ADVERTISEMENT
Data secara historis dapat dilihat bahwa Indonesia telah mengalami beberapa kali bencana alam. Karena letaknya juga Indonesia merupakan wilayah yang diketegorikan wilayah dengan tigkat kerawanan bencana khususnya tsunami. Dari data tahun 1990 sampai sekarang tercatat terjadi 9 kali terjadi tsunami yang memakan jumlah korban yang sangat besar. Dimana yang paling parah adalah bencana tsunami yang terjadi di Pantai Barat-Utara Sumatera, khususnya di wilayah Provinsi Nanggroe Aceh Darussalam dan Sebagian Sumatera Utara yang terjadi pada tanggal 26 Desember 2004. Kejadian tersebut telah menelan korban jiwa lebih dari 250.000 orang. Sehingga dari kejadian ini dapat menjadikan perhatian lebih oleh masyarakat dan pemerintah jika tsunami merupakan salah satu bencana yang memerlukan perhatian khususnya untuk warga daerah pesisir.
ADVERTISEMENT
Oleh karena itu, pembuatan sebuah Manajemen wilayah pesisir di daerah laut selatan sangat penting dilakukan, khususnya untuk pembuatan mitigasi bencana alam seperti abrasi, tsunami, dan lain sebagainya. Serta pembuatan manajemen yang terintegrasi dan berkelanjutan. Merupakan hasl yang sangat penting untuk dipertimbangkan kedepannya. Salah satu solusinya yaitu dengan pembuatan ICM (Integrated Coastal Management). ICM sendiri menurut beberapa ahli seperti dalam bukunya Dahuri, dkk., 1996) “Pengelolaan wilayah pesisir secara terpadu merupakan pendekatan pengelolaan yang melibatkan dua atau lebih ekosistem, sumberdaya dan kegiatan pemanfaatan secara terpadu, agar tercapai tujuan pembangunan wilayah pesisir secara berkelanjutan (sustainable), sehingga keterpaduannya mengandung tiga dimensi; dimensi sektoral, bidang ilmu, dan keterkaitan ekologis. Keterpaduan sektor diartikan sebagai perlunya koordinasi tugas, wewenang dan tanggung jawab antara sektor atau instansi pemerintah pada tingkat pemerintah tertentu (horizontal integration), dan antara tingkat pemerintah mulai tingkat desa, kecamatan, kabupaten, dan propinsi sampai tingkat pusat (vertical integration).”
ADVERTISEMENT
Menurut GESAMP (Group of Experts on the Scientific Aspects of Marine Environmental Protection) “Integrated Coastal Management (ICM) merupakan suatu proses dinamis dan berkelanjutan yang menyatukan pemerintah dan masyarakat, ilmu pengetahuan dan pengelolaan, serta kepentingan sektoral dan masyarakat umum dalam menyiapkan (preparing) dan melaksanakan (implementing) suatu rencana terpadu untuk perlindungan dan pengembangan sumberdaya dan ekosistem pesisir (GESAMP, 1996).”
Tujuan pembuatan ICM (Integrated Coastal Management) untuk membuat sebuah tatanan daerah wilayah pesisir daerah selatan Jawa supaya dapat dimanfaatkan potensinya secara maksimal, dapat terjaga lingkungannya, dan bisa menjadi lingkungan yang aman dari bencana alam (daerah dengan sistem mitigasi bencana yang baik).
Karena di Indonesia masih banyak daerah yang belum mengimplementasikan ICM (Integrated Coastal Management) secara optimal. Sehingga untuk masasalah kebijakan dan sebagai hal yang mengatur tentang penglolaan wilayah pesisir dan pantai masih belum sepenuhnya diatur dan dimanfaatkan maksimal oleh pemerintah Indonesia. Seperti Contoh pada daerah Pesisir Selatan Kabupaten Blitar masih banyak terdapat pedagang-pedagang yang masih berjualan didaerah dekat pantai serta banyak sampah-sampah (bekas es degan) yang berserakan di daerah pesisir. Melalui tulisan ini diharapkan masalah tentang manajemen wilayah pesisir dan pantai menjadi sebuah perhatian khusus bagi pemerintah. Karena pantai dan pesisir merupakan salah satu potensi sumber daya yang besar bagi Indonesia mengingat wilayah mayoritas adalah lautan.
ADVERTISEMENT
Dalam implementasinya dapat menggunakan metode Penginderaan Jauh (Remote Sensing) untuk mitigasi bencana awal. Dimana tujuannya untuk melihat wilayah-wilayah yang memiliki potensi besar kerusakan wilayah pantai jika terjadi abrasi hingga kemungkinan terburuk seperti tsunami. Dengan analisa menggunakan citra satelit Penginderaan Jauh untuk melihat daerah yang memiliki hutan mangrove sebagai tanaman pencegah abrasi. Serta daerah-daerah pantai yang masih belum teratur masyarakatnya terkait dengan pedagang-pedagang yang masih belum mentaati peraturan. Dengan citra setelit dan analisanya dapat diklasifikasikan daerah pantai-pantai yang masih belum mengikuti Peraturan Daerah yang mengharuskan pemanfaatan daerah pantai sesuai dengan RTRW (Rencana Tata Ruang Wilayah) yang telah dibuat oleh pemerintah daerah setempat.
Dalam penanganan permasalahan pada wilayah pesisir pantai selatan Jawa sangat penting peran dari pemerintah untuk mempertegas peraturan yang ada sesuai dengan RTRW (Rencana Tata Ruang Wilayah) yang telah dibuat. Pertama dianalisa karakteristik dari wilayah laut selatan Jawa terjadi sebuah pengurangan wilayah daratan rata-rata dengan kecepatan 2-8 mm/tahun menurut penelitian Kementerian Energi dan Sumberdaya Mineral yang ditulis oleh H. Prabowo dan P Astjario. Oleh karena itu, hal ini mengakibatkan daerah tersebut tergenang oleh air laut. Dimana proses pengurangan ini diakibatkan oleh Proses abrasi yang menggerus perlahan daerah pantai selatan Jawa. Sehingga hal tersebut akan memicu kenaikan muka air laut. Kemudian dampaknya akan membuat daerah pesisir yang banyak sampah dan daerah pedagang-pedagang yang ada di daerah pesisir akan tergenang sehingga sampah-sampah akan ikut arus ke laut. Sehingga hal tersebut juga akan membahayakan ekosistem lautan. Dampaknya akan membuat ikan-ikan dilaut akan semakin sulit ditangkap oleh nelayan karena terlalu banyak sampah yang tergenang di laut.
ADVERTISEMENT
Pemanfaatan Potensi Laut dan Mitigasi Bencana di Pesisir Selatan Jawa (59253)
Peta Tingkat kerentanan Wilayah Pantai disekitar pulau Jawa, Madura dan Bali (sumber jurnal geologi kelautan, Kementerian ESDM)
Dilihat dari analisa kerentanan bencana daerah pesisir selatan memiliki tingkat kerentanan yang tinggi. Untuk itu dapat dijadikan prioritas utama dalam penyelenggaraan mitigasi bencana secara terintegrasi. Kedua, dianalisa daerah pantai yang tidak sesuai dengan penggunaan lahan berdasarkan dokumen RTRW (Rencana Tata Ruang Wilayah). Hal tersebut dapat dilakukan dengan menggunakan metode Penginderaan Jauh (Remote Sensing). Dimana remote sensing menghasilkan citra (foto satelit) yang dapat dianalisa daerah-daerah yang sesuai dengan pemanfaatannya. Dengan cara membuat klasifikasi keeadaan lapangan saat ini kemudian membuat sebuah peta daerah yang tidak sesuai dengan pemanfaatan lahannya. Dengan menggunakan peta tersebut daerah-daerah tidak sesuai dapat ditertibkan dan dialih fungsikan lahannya menjadi sebuah daerah vegetasi pencegah abrasi. Ini merupakan sebuah langkah awal yang digunakan untuk membuat sebuah mitigasi bencana lewat penataan lahan yang sesuai.
ADVERTISEMENT
Mitigasi bencana yang harus dilakukan selain menggunakan lingkungan sebagai tameng utama. Cara yang paling penting yaitu melakukan edukasi terhadap masyarakat yang ada di daerah pesisir tersebut. Karena terlihat pada daerah-daerah pantai selatan khususnya, untuk permasalahan pendidikan mitigasi bencana basih banyak yang masih belum memahaminya. Karena jauhnya daerah-daerah pantai selatan Jawa dengan pusat pemerintahan. Sehingga untuk perhatian pembangunan dan penataan masih terihat sangat kurang pertahiannya. Pendidikan mitigasi tersebut dapat dilakukan mulai dari anak-anak yang sasarannya adalah sekolah Dasar, SMP, SMA, dan masyarakat-masyarakat lainnya. Sehingga tidak membuat masyarakat panik jika mengalami bencana di daerah tersebut.
Kemudian, setelah itu dapat dianalisa daerah-daerah laut yang memiliki kadar klorofil yang tinggi menggunakan metode penginderaan jauh. Karena kadar klorofil yang tinggi dapat mengindikasikan kadar fitoplankton yang tinggi. Sehingga mengindikasikan ketersediaan sumber pakan alami bagi fauna yang ada di laut khususnya adalah ikan. Semua pemanfaatan teknologi Penginderaan Jauh (Remote Sensing) menggunakan satelit dapat digunakan untuk mendeteksi berbagai masalah kelautan serta dapat memaksimalkan potensi yang dimiliki oleh laut sehingga berguna bagi masyarakat setempat yang mayoritas adalah nelayan. Kemudian data-data tersebut dapat diintegrasikan menjadi sebuah kebijakan dan dibuatkan sebuah peta yang di update secara realtime yang dapat diakses dan tersedia disetiap pantai-pantai daerah selatan Jawa. Sehingga dapat memberikan informasi dini tentang mitigasi bencana, pemanafaatan potensi laut yang tinggi, serta dapat mensejahterakan masyarakat sekitar.
ADVERTISEMENT
Dalam pemanfaatan teknologi yang saat ini dapat membantu mensukseskan kebijakan tentang ICM (Integrated Coastal Management). Karena terlihat di Indonesia masih banyak daerah-daerah yang belum dimanfaatkan potensinya serta maksimal, serta banyak daerah yang belum melakukan upaya-upaya mitigasi bencana khususnya pada daerah pantai selatan Jawa. Serta masih banyak masyarakat yang tidak perduli dengan bahayanya bencana tsunami yang berpotensi terjadi dimasa yang akan datang. Untuk itu semua hal tersebut dapat terlaksana jika terdapat ketegasan dari pemerintah dalam melakukan pengelolaan. Serta sebagai pokok utama yang harus diselesaikan juga yaitu tentang aspek hukum yang tegas untuk membuat sebuah ICM (Integrated Coastal Management). Hal tersebut juga harus disukseskan dengan Kerjasama antara masyarakat yang ada di daerah pesisir tersebut. Dpaat dilihat Sebagian besar pantai selatan Jawa banyak yang merupakan daerah pantai wisata, yang dimana hanya dapat dimanfaatkan secara ekonomi tetapi tidak memperhatikan aspek-aspek keselatamatan dan kebencanaan. Hal tersebut dilihat dengan adanya korban-korban orang tengelam karena berwisata dan mandi di daerah pantai tersebut. Semoga dengan ini dapat membuat pemerintah dan masyarakat dapat memberikan perhatian khusus terkait pemanfaatan potensi dan bahayanya bencana yang terjadi di lingkungan laut selatan Jawa.
ADVERTISEMENT

sosmed-whatsapp-whitesosmed-facebook-whitesosmed-twitter-whitesosmed-line-white