Konten dari Pengguna

Fenomena "Loneliness Economy": Kenapa Kelas Pekerja Rela Borong Hobi Mahal?

google
Ikuti kumparan di Google
info
Jadikan kumparan sebagai preferensi terpercayamu di Google
comment
0
sosmed-whatsapp-white
copy-circle
more-vertical

Tulisan dari Darmawansyah tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

Sumber: unsplash.com
zoom-in-whitePerbesar
Sumber: unsplash.com

Jam menunjukkan pukul delapan malam. Kamu baru sampai kos atau apartemen setelah delapan jam duduk di depan laptop, ditambah dua jam terjebak macet. Ponsel dibuka, scroll TikTok, pesan makanan online, lalu diam. Tidak ada siapa-siapa untuk diajak cerita soal betapa melelahkannya hari ini. Familiar?

Kalau iya, kamu tidak sendirian — dan datanya memang bicara begitu. Laporan Workplace Happiness Index 2025-2026 dari Jobstreet by SEEK menunjukkan Gen Z jadi generasi dengan tingkat kebahagiaan kerja terendah di Indonesia, hanya 76 persen, tertinggal dari Gen X (85 persen) dan milenial (84 persen). Penyebabnya bukan cuma soal gaji, tapi rasa tidak dihargai dan merasa terputus dari makna pekerjaan itu sendiri. Sejalan dengan itu, survei Jakpat terhadap pekerja Gen Z pada 2024 menemukan lebih dari separuh responden menyebut penguatan hubungan sosial pribadi sebagai alasan penting kenapa work-life balance krusial buat mereka, dan sepertiganya secara spesifik menyebut hobi. Singkatnya: makin banyak anak muda pulang kerja dengan dompet penuh tapi hati kosong, lalu mencari pelarian lewat hobi.

Di sinilah makna hobi bergeser. Dulu, hobi itu sederhana — lari cukup pakai sepatu bekas dan taman kota gratis. Sekarang, "running culture" berubah jadi identitas: sepatu carbon plate jutaan rupiah, jersey custom, ikut race bersertifikat medali, lalu wajib posting Strava. Di sisi lain, rak-rak toko mainan diserbu demi satu boneka Labubu edisi terbatas yang harganya bisa menyentuh jutaan di pasar sekunder. Belum lagi anak muda yang rela war ticket dan antre demi kartu TCG langka. Semua tren ini punya satu benang merah: bukan soal barangnya, tapi soal rasa "diterima" oleh komunitas digital yang merayakan hobi serupa. Inilah yang disebut loneliness economy — ekonomi yang tumbuh subur karena orang rela membayar mahal untuk merasa tidak sendirian.

Tapi mari jujur sebentar. Apakah unboxing Labubu di depan kamera benar-benar menyembuhkan sepi, atau cuma memindahkan rasa hampa dari kamar tidur ke kolom komentar Instagram? Validasi dari likes dan komentar "worth it kak!" itu nyata, tapi umurnya pendek. Begitu notifikasi berhenti berdenting, sepi itu balik lagi — dan dompet sudah lebih tipis. FOMO membuat kita mengejar rasa terhubung lewat konsumsi, padahal koneksi sejati tidak pernah lahir dari transaksi. Kita membeli objek hobi, tapi yang sebenarnya kita cari adalah orang untuk diajak bicara. Dua hal itu tidak selalu sama, dan di situlah jebakannya.

Bukan berarti hobi itu salah. Yang perlu digeser adalah orientasinya: dari "membeli barang" menjadi "membangun hubungan". Coba cari komunitas lari kampung yang gratis dan rutin ketemu tiap minggu, bukan sekadar ikut race berbayar sekali setahun. Gabung klub baca di perpustakaan daerah, ikut kelas memasak bareng tetangga kos, atau sekadar menelepon satu-dua teman lama, bukan cuma react story mereka. Jalan kaki keliling komplek bareng tetangga jauh lebih murah dan manusiawi dibanding menimbun action figure demi konten. Intinya, cari hobi yang memaksa kita bertemu manusia sungguhan, bukan sekadar memelototi layar sambil menunggu notifikasi masuk.

Merasa sepi itu manusiawi. Sehebat apa pun circle pertemanan seseorang, rasa itu pasti pernah singgah. Yang membedakan adalah cara meresponsnya. Sepi bukan masalah yang bisa dibeli solusinya di e-commerce, apalagi dilunasi dengan cicilan. Ia hanya bisa diobati dengan kehadiran — kehadiran orang lain, dan kehadiran diri kita sendiri untuk diri sendiri. Jadi sebelum checkout hobi baru berikutnya, coba tanya dulu: ini beneran mau healing, atau cuma lari dari sepi yang belum selesai kita hadapi?