Menelusuri Warisan Reformasi: Mengenal Gereja Lutheran

Mahasiswa aktif Universitas Bunda Mulia
·waktu baca 1 menit
Tulisan dari Darren Surya tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

Sejarah
Di dalam aliran protestan, ada banyak tradisi dan denominasi yang berbeda-beda. Salah satunya adalah Gereja Lutheran. Gereja Lutheran berakar dari gerakan Reformasi yang dimulai pada tahun 1517 setelah seorang rahib dari Jerman yang bernama Martin Luther memaku 95 tesis di pintu Gereja Kastil Wittenberg untuk menantang praktik penjualan indulgensi. Pada masa itu, Gereja sedang mengalami masa penyimpangan, dan Luther berniat mereformasinya agar umat kembali mengutamakan otoritas penuh Alkitab sebagai satu-satunya sumber doktrin yang tidak dapat salah (Sola Scriptura).
Sebetulnya, Luther tidak ingin namanya digunakan sebagai nama aliran. Luther menginginkan umat Kristen tetap mengaku sebagai “Kristen” karena kata Kristen berasal dari nama Yesus Kristus.
"Pertama-tama, aku meminta agar orang-orang tidak menyebut-nyebut namaku; biarlah mereka menyebut diri mereka Kristen, bukan Lutheran. Apa itu Luther? Lagipula, ajaran ini bukan milikku. Aku juga tidak disalibkan untuk siapa pun." Kata Martin Luther, di dalam pamflet kertasnya (Flugschrift).
Sakramen di Gereja Lutheran
Tradisi Lutheran mengakui dua sakramen di dalam teologinya. Yang Pertama, pembaptisan. LCMS (The Lutheran Church – Missouri Synod) menyatakan bahwa baptisan bukan hanya sekedar symbol, melainkan merupakan sarana anugerah Ilahi (Means of grace) yang menganugerahkan iman dan pengampunan dosa. Yang kedua, perjamuan kudus. Gereja Lutheran percaya bahwa roti dan anggur hadir bersama dengan tubuh dan darah Yesus, seperti yang diperintahkannya di 1 Korintus 11:24-27:
“dan sesudah itu Ia mengucap syukur atasnya; Ia memecah-mecahkannya dan berkata: ”Inilah tubuh-Ku, yang diserahkan bagi kamu; perbuatlah ini menjadi peringatan akan Aku!””
“Demikian juga Ia mengambil cawan, sesudah makan, lalu berkata: ”Cawan ini adalah perjanjian baru yang dimeteraikan oleh darah-Ku; perbuatlah ini, setiap kali kamu meminumnya, menjadi peringatan akan Aku!””
“Jadi barangsiapa dengan cara yang tidak layak makan roti atau minum cawan Tuhan, ia berdosa terhadap tubuh dan darah Tuhan.”
Liturgi dan Tata Ibadah
Dalam Praktiknya, ibadah Gereja Lutheran sangat tradisional dan liturgis. Tata ibadah mereka menyatukan unsur-unsur tradisional yang kaya, seperti himne, pengakuan dosa, pembacaan Alkitab, dan perayaan perjamuan kudus yang rutin. Setiap unsur ibadah Lutheran mengarahkan jemaat untuk mendengarkan firman Tuhan dan menerima anugerah-Nya.
