'Catatan Pinggir' bagi Kota Putih: Antara Persepsi dan Realita

Pejalan dan Pemelajar di Sesdilu75
Tulisan dari Darius Erlangga tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan
Kisah bermula ketika saya ditugaskan sebagai diplomat muda di salah satu negara di kawasan Balkan. Ya... penugasan singkat yang akhirnya membawa saya dan keluarga pada perjalanan yang penuh makna. Menjadi saksi betapa fakta, realita atau kenyataan itu... boleh jadi berbeda dengan citra negatif yang selama ini disematkan atau ditampilkan melalui cerita dan berita yang disajikan tentang sebuah negeri bernama Serbia.
“If they told us what to believe, and we didn't come to it on our own, is it still true?” (Anonymous)
Tepat 7 Februari 2021, di pagi hari yang cerah, pesawat yang membawa kami sekeluarga terbang dari Dubai setelah melakukan perjalanan yang cukup panjang dari bandara Soekarno-Hatta menuju Serbia, mendarat mulus di Beograd. Udara pagi yang berhembus terasa cukup dingin. Meski waktu baru menunjukkan pukul 08.00 di pagi hari, suasana bandara mulai terlihat ramai dengan lalu lalang penumpang.
‘Dobar dan’, sapa seorang petugas dalam bahasa setempat kepada kami dengan ramahnya. Saya hanya mengangguk pelan dan kami pun diarahkan untuk melakukan pemeriksaan Covid-19 sebelum menuju pos pemeriksaan imigrasi. ‘Indonesia..? Welcome to Beograd’, sembari tersenyum dengan bahasa Inggris yang terpatah-patah, seorang petugas imigrasi kemudian mempersilahkan saya dan keluarga untuk melewati pos pemeriksaan. Saya pun membalas dengan senyuman dan menyampaikan terima kasih atas keramahannya seraya berjalan perlahan untuk mengambil bagasi dan menuju pintu keluar.
Kesan pertama yang cukup melegakan. Meski tak kenal, tetapi semua orang bersikap sopan dan ramah. Jauh dari kesan dingin, kaku atau bahkan hostile seperti yang selama ini digambarkan.
Beograd - Kota Putih yang Penuh Sejarah
Beograd, dalam bahasa setempat, memiliki arti sebagai Kota Putih. Grad berarti Kota dan Beo berarti Putih. Kota yang dulunya merupakan ibu kota dari Yugoslavia itu kini menjadi ibu kota Serbia yang mayoritas penduduknya merupakan etnis Serbia.
Tak ubahnya kota-kota lain di dunia, Beograd pun terus berbenah. Gedung-gedung tinggi mulai dibangun, pusat-pusat bisnis didirikan, dan renovasi fasilitas publik secara besar-besaran mulai dari bandara hingga jalur kereta api yang digadang-gadang akan menghubungkan Beograd dengan kota-kota lain di kawasan Balkan dan Eropa lainnya terus dikerjakan. Lantas... apa yang spesial darinya?
Keistimewaan Beograd utamanya dilekatkan pada peristiwa bersejarah yang membuatnya banyak dikenal dunia. Ketika pertemuan monumental yang terjadi di era perang dingin yang melibatkan 25 (dua puluh lima) kepala negara di dunia yang kemudian bersepakat mendirikan gerakan internasional untuk dengan tegas menolak aliansi dengan dua kekuatan besar dunia pada masa itu. Yah… di tengah-tengah pertentangan ideologi dan ancaman perang dunia ketiga antara Blok Barat dan Blok Timur, Gerakan Non-Blok yang dimotori oleh Soekarno, Tito, Nehru, Nasser, dan Kwame Nkrumah lahir di Beograd pada tahun 1961.
Hubungan antara Indonesia dan Yugoslavia pun cukup spesial. Hubungan baik kedua kepala negara yaitu Presiden Soekarno yang bersahabat baik dengan Presiden Tito kerap ditunjukkan dengan banyaknya surat-menyurat antara kedua kepala negara hingga intensitas kunjungan yang cukup sering dilakukan oleh Presiden Soekarno ke Beograd baik dalam rangkaian kunjungan kenegaraan maupun kunjungan resmi lainnya. Tiap kali berkunjung ke Beograd, Bung Karno selalu mendapatkan tempat spesial dan disambut dengan jamuan makan istimewa oleh Presiden Tito. Konon, salah satu restoran yang kerap menjadi tempat pertemuan keduanya, yang juga menjadi favorit Presiden Soekarno kala itu ketika berada di Beograd adalah Restoran Vinogradi.
Sebuah restoran yang terletak di pinggiran sungai Danube yang indah dan berjarak hanya sekira 45 menit perjalanan dengan kendaraan roda empat dari pusat kota Beograd. Tentunya… saya pun tak ingin melewatkan kesempatan langka yang hanya bisa dilakukan ketika bertugas atau berkunjung ke Serbia. Mencicipi sajian makanan tradisional seperti Cevapi atau sosis daging giling dengan cita rasa yang khas dan keju Kajmak di pinggir sungai Danube yang indah pastinya menjadi agenda wajib yang tak boleh dilewatkan sembari membayangkan perbincangan intim antara Soekarno dan Tito yang dilakukan pada waktu itu guna membahas masa depan dunia yang lebih baik.
Makanan, Keluarga, dan Tradisi Slavic
Selain alasan sejarah, nilai-nilai dalam keluarga, tradisi dan kekerabatan yang kuat diantara orang-orang Serbia memberikan kesan yang cukup mendalam bagi saya dan keluarga.
Orang-orang Serbia memiliki tradisi yang kental dan sangat menjunjung tinggi nilai-nilai kekerabatan. Tradisi orang-orang di Serbia banyak dipengaruhi oleh agama yang dianut oleh mayoritas masyarakat Serbia yang beragama Kristen Orthodoks. Setidaknya, dalam setiap perayaan yang dilakukan oleh orang-orang di Serbia, terdapat dua hal yang harus selalu tersedia dan hadir sebagai syarat wajib yaitu makanan tradisional dan keluarga.
Momen penting peringatan hari-hari besar seperti Natal Orthodoks dan Paskah biasanya menjadi hari khusus keluarga. Sehingga, jangan heran misalnya, ketika berkunjung ke Beograd atau kota-kota besar lainnya di Serbia, maka toko-toko dan pusat-pusat perbelanjaan akan tutup setidaknya 2 (dua) atau 3 (tiga) hari di tanggal 7 Januari setiap tahunnya. Suasana kota yang sepi juga dirasakan di saat peringatan hari Slava yang biasanya jatuh di musim dingin. Sebagaimana halnya ketika perayaan Idul Fitri di Indonesia, orang-orang muda yang tinggal di kota-kota besar seperti Beograd, Novi Sad, atau Nis melakukan perjalanan pulang kampung untuk mengunjungi sanak saudara dan keluarganya agar bisa bersama-sama melakukan ritual untuk memperingati hari spesial yang diperuntukkan bagi figur pelindung atau Santo (saint) dalam keluarga.
Momen peringatan hari-hari besar keagamaan di Serbia seperti ini biasanya kami manfaatkan untuk mengajarkan nilai-nilai toleransi kepada anak-anak. Memberikan pemahaman bahwa berbeda itu hal yang biasa, dan keyakinan yang kuat pada agama yang dianut dan Tuhan Yang Maha Kuasa akan terbentuk sejalan dengan makin banyaknya pengetahuan, pengalaman dan toleransi yang tinggi atas keberagaman di sekitar kita.
Lagipula, orang-orang Serbia juga melihat anak-anak dan keluarga sebagai bagian penting dalam keseharian mereka. Rasanya hampir di setiap kesempatan yang kami lakukan ketika melakukan perjalanan atau berada di tempat-tempat umum, kami selalu diberikan prioritas untuk mengambil antrian terdepan. Rasanya lucu juga… justru karena anak-anak lah perasaan aman itu hadir, dan kami bisa mendapatkan perlakuan yang istimewa. Pengalaman menyenangkan yang hampir tidak pernah kami rasakan ketika berada di tanah air.
Lalu… kenapa tragedi pembantaian etnis di Srebenica, Kosovo dan konflik berdarah lainnya yang melibatkan etnis Serbia bisa terjadi jika mereka dianggap cukup toleran, sayang dan senang dengan anak-anak dan keluarga? Pertanyaan yang terus menuntut jawaban dalam pikiran dan perasaan saya, yang mungkin hanya bisa terjawab oleh orang-orang seperti Slobodan Milosevic atau Ratko Mladic, dan pengikut-pengikutnya yang berpikiran sempit dan chauvinistik lainnya.
