Farouk, Pemuda Jos yang Cinta Indonesia

Pejalan dan Pemelajar di Sesdilu75
Tulisan dari Darius Erlangga tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan
Perkenalanku dengan seorang pemuda Hausa yang berasal dari sebuah kota kecil di Utara Nigeria yang bernama Jos, berawal dari sebuah acara perayaan peringatan hari besar nasional yang diselenggarakan di Wisma Duta Besar RI di Abuja sekira bulan Agustus 2019. Penampilannya yang rapih, tutur bahasanya yang halus, serta tindak tanduknya yang santun membuatnya terlihat berbeda dengan kebanyakan anak muda lainnya. Meski baru berusia 30 tahun, pola pikirnya cukup visioner jauh melampaui usianya yang relatif muda pada saat itu.

Hashim Umar Farouk Lawal… ya… pemuda yang pernah mengenyam pendidikan di Indonesia ini mengaku mengenal Indonesia dari mentornya Ajululu Okeke yang pernah berprofesi sebagai seorang diplomat. Cerita mengenai budaya dan alam Indonesia yang begitu memesona membuatnya terkagum-kagum dan terkesima hingga memutuskan untuk mengambil beasiswa Kemitraan Negara Berkembang (KNB) dan meneruskan studi-nya dengan mengambil Master di bidang Manajemen Sumber Daya Lingkungan Hidup di Universitas Padjadjaran, Bandung pada tahun 2014. “I was so amazed with the country’s culture and landscape. Coming from the Geology and mining department (First Degree), I saw the potential and interest in knowing more about Indonesia”, begitu tuturnya.
Pengalamannya selama di Indonesia, diakuinya, merupakan salah satu episode terbaik dalam hidupnya. Sebagai anak muda Afrika yang datang dengan mimpi yang membuncah tentang masa depan yang lebih cerah, dirinya tentu mendapatkan dukungan dari orang-orang terdekat terutama dari kedua orang tuanya. Namun, jarak yang jauh dan perbedaan budaya serta adat istiadat sempat menjadikan dirinya harus berpikir ulang untuk meninggalkan orang-orang tersayang, terutama ibunda tercinta. Tidak mudah memang… apalagi untuk meyakinkan dirinya bahwa keputusannya ini adalah keputusan terbaik yang akan menentukan perjalanan hidupnya ke depan.
Perbedaan budaya dan latar belakang diatasi dengan mempelajari Bahasa Indonesia dan bergaul dengan orang-orang di sekitar baik di kampus maupun tempat tinggal di Bandung. Berbekal penguasaan Bahasa Indonesia dan kepercayaan diri yang kuat, keragu-raguan yang sempat muncul akhirnya sirna dan dirinya semakin yakin dengan pilihannya untuk menyelesaikan studi-nya di Indonesia untuk 3 tahun ke depan.
Keikutsertaan dan keaktifannya dalam berbagai kegiatan di luar kampus seperti menjadi anggota Sahabat Museum di Gedung Merdeka, Bandung hingga menjadi bagian dari kegiatan atau konferensi mahasiswa Asia Afrika pada tahun 2015 yang diselenggarakan untuk menghidupkan kembali semangat Konferensi Asia Afrika 1955 menjadi awal sukses perjalanannya tinggal di Indonesia. Keterlibatannya dalam berbagai kegiatan tersebut, diakuinya, membuatnya semakin mengenal dan bersyukur berada dalam lingkungan orang-orang yang memiliki pemikiran dan minat yang sama. Masa-masa indah yang menurutnya telah membentuk karakter dirinya yang kuat serta mengasah kepemimpinan di antara rekan-rekan mahasiswa lainnya yang berasal dari berbagai negara di dunia.
Keaktifannya dalam berbagai kegiatan internasional yang melibatkan mahasiswa-mahasiswa asing lainnya di Indonesia tidak hanya terbatas sebagai anggota atau pengurus biasa. Farouk… demikian dirinya biasa dipanggil oleh sesama rekan mahasiswa lainnya… pernah terpilih sebagai Ketua Konferensi Mahasiswa Asia-Afrika pada tahun 2015, Presiden dari asosiasi ‘Young African Ambassadors in Asia’ pada tahun 2016, dan terakhir sebagai Presiden untuk Mahasiswa Internasional di Indonesia periode 2016-2017. Salah satu yang memotivasi dirinya untuk terlibat aktif dalam setiap kesempatan selama di Indonesia adalah kesenangannya untuk mengenal dan belajar hal-hal yang baru dan mimpinya yang besar untuk bisa memberikan kontribusi agar menjadikan dunia sebagai tempat yang lebih baik dan lebih indah untuk ditinggali.
Berbagai kegiatan sosial, olahraga hingga seminar dan konferensi diadakan di berbagai tempat terpisah di Indonesia selama masa kepemimpinannya sebagai Presiden Mahasiswa Internasional. Menurutnya, pendidikan menjadi salah satu elemen dasar yang sangat penting bagi pembangunan manusia dalam konteks berbangsa dan bernegara. Kampanye mengenai pentingnya kesadaran akan pendidikan dilakukannya bekerjasama dengan berbagai pihak, termasuk Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan dan universitas-universitas di Indonesia. Hal ini telah memberinya banyak kesempatan aktualisasi diri dan menyalurkan aspirasinya untuk mewujudkan mimpinya. Sedikitnya, berdasarkan pengalaman yang dimilikinya, Farouk telah mengisi dan menjadi pembicara di 40 (empat puluh) kegiatan seminar dengan topik seputar pendidikan dan isu-isu lainnya seperti perubahan iklim, pembangunan berkelanjutan, sharing session mengenai pengalaman sebagai mahasiswa asing yang tinggal di Indonesia hingga peran pemuda dalam perdamaian dunia.
Tiga tahun tinggal di Indonesia telah meninggalkan kenangan indah dan memberikan pengalaman berharga yang semakin menguatkan fondasi bagi perjalanan karirnya ke depan. ‘Personally, Indonesia is now my future interest because my carrier is already built towards Indonesia. I have never connect with any country the way I connect with Indonesia. I called Indonesia my second country anywhere I go. I was well known in Indonesia for my work and talent. Culturally, I adapted very fast and I was loved by almost everyone I had the chance to meet with. It’s a place where I think my life will connect with sustainably’, pungkasnya.
Saat ini, Farouk tinggal dan menjadi salah satu bagian dari diplomasi yang dilakukan oleh Kedutaan Besar Republik Indonesia di Abuja. Bekerja sebagai local staff pada kantor Atase Pertahanan KBRI Abuja, dirinya mengaku dapat menyalurkan aspirasinya yang lebih besar untuk membantu memfasilitasi hubungan kerjasama yang lebih erat antara Indonesia dan Nigeria, khususnya bagi kerjasama yang melibatkan anak-anak muda kedua negara agar dapat memberikan kontribusi yang lebih baik bagi kepentingan kedua negara dan dunia pada umumnya. Dirinya percaya melalui pendidikan, saling kunjung, konferensi, program pertukaran budaya, hubungan masyarakat terutama antar pemuda di kedua negara akan mendorong saling pemahaman dan interaksi yang akan berujung pada kerjasama yang lebih konkrit dan membawa kemaslahatan bersama.
Nigeria, menurutnya, dapat belajar banyak dari Indonesia. Kemajuan di sektor pendidikan, peaceful co-existence, ekonomi, budaya kerja, ilmu pengetahuan dan teknologi, budaya dan cagar budaya, dan stabilitas keamanan yang dinikmati oleh Indonesia saat ini dapat menjadi contoh bagi Nigeria. Dirinya berharap anak-anak muda Nigeria yang brilian dan memiliki keinginan keras untuk maju dapat memainkan peran yang lebih aktif lagi bagi pembangunan negaranya, dan menjadi bagian dari solusi atas permasalahan dunia. Dirinya selalu optimis bahwa suatu saat nanti negaranya akan sejajar dengan negara-negara maju lainnya. Untuk itu, perlu kerjasama yang lebih erat dan konkrit baik dalam kerangka bilateral maupun dalam konteks kerjasama yang lebih luas dengan negara-negara sahabat, terutama Indonesia.
Farouk menjadi contoh model keberhasilan soft diplomacy yang dilakukan Indonesia melalui pemberian beasiswa di bidang pendidikan. Hubungan emosional antara dirinya dengan Indonesia terus terjaga meski tidak lagi tinggal di Indonesia. Interaksi dan pengalamannya selama di Indonesia telah berhasil menanamkan citra positif mengenai Indonesia yang terus meninggalkan kenangan indah yang terus-menerus dibagikannya kepada siapa saja yang ditemuinya dalam perjalanan hidupnya. Semoga… akan lebih banyak lagi orang-orang seperti Farouk… yang mencintai Indonesia karena keramahan, keindahan dan kemajuannya di berbagai bidang. InshaAllah….
--000--
