Sekolah Lapang Besar Bertani & Edufarmers: Tanah Sebagai Kunci Produktivitas

Daru Kartiko Aji (23 tahun). Lulusan Sarjana Terapan Bisnis di IPB University dengan keahlian di manajemen proyek & strategis pemasaran, serta fokus menciptakan solusi inovatif di sektor pertanian berkelanjutan.
·waktu baca 4 menit
Tulisan dari Daru Kartiko Aji tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

Dalam upaya memperkuat sektor pertanian dan meningkatkan kesejahteraan petani, Bertani sebagai komunitas pertanian yang berkomitmen untuk memberikan edukasi serta akses ke fasilitas penting bagi para petani, berkolaborasi dengan Edufarmers International menghadirkan Kompetisi Sentra Bertani di tahun 2025. Kompetisi ini dirancang bagi Pelopor Tani dan kelompok petani dalam pengelolaan budidaya tanaman di lahan garapannya agar dapat mengelola secara optimal, efektif, dan efisien.
Kompetisi ini berlangsung di Garut untuk budidaya komoditas kentang, serta di Subang dan Indramayu untuk budidaya komoditas padi. Melalui program ini, petani tidak hanya berkompetisi, tetapi juga mendapatkan kesempatan untuk menerapkan praktik pertanian terbaik serta mengadopsi inovasi terbaru dalam sektor pertanian. Bertani dan Edufarmers International memberikan berbagai edukasi dan juga kegiatan yang mendukung peningkatan wawasan dan pengetahuan pertanian.
Sebagai bagian dari inisiatif ini, Bertani dan Edufarmers International telah menyelenggarakan Sekolah Lapang Besar pada bulan Februari 2025 ini di ketiga wilayah tersebut, dengan tema besar Kesehatan Tanah. Kegiatan ini menghadirkan Dr. (C) Dadang Gusyana, S.Si., MP., seorang pakar kesehatan tanah yang memiliki pengalaman lebih dari 18 tahun di bidang keahliannya. Beliau membagikan wawasan mendalam dan menyeluruh mengenai strategi menjaga keseimbangan tanah, optimalisasi pupuk, serta penerapan teknik budidaya yang lebih efisien dan ramah lingkungan.
"Tanah yang sehat adalah aset terbesar petani. Dengan menjaga keseimbangan pH dan menambahkan bahan organik yang cukup, kita tidak hanya meningkatkan hasil panen, tetapi juga memperpanjang umur kesuburan tanah." ungkap Pak Dadang
Sehingga menyadarkan kita semua sebagai audiens untuk lebih memahami bahwa kita harus serius dalam memahami tanah yang kita miliki.
Tanah yang sehat adalah fondasi utama pertanian yang produktif dan berkelanjutan
Namun, masih banyak petani yang menghadapi tantangan dalam menjaga kualitas tanah akibat ketidakseimbangan pH dan pemupukan yang kurang tepat. Utamanya banyak petani yang belum mengetahui keadaan tanah mereka dan bagaimana cara melakukan pengujian kualitas tanah tersebut.
Mendalami tingkat keasaman tanah (pH), tanah pertanian yang ideal memiliki pH berkisar antara 6.5 hingga 7. Jika pH tanah melebihi 8, penggunaan kapur seperti kaptan, dolomit, atau ferthiphos perlu dikurangi untuk mencegah dampak negatif pada kesuburan tanah. Sebaliknya, jika pH terlalu rendah, asam humat dan bahan organik menjadi solusi utama untuk meningkatkan keseimbangan tanah dan mendukung pertumbuhan tanaman.
Sangat penting untuk menyesuaikan jadwal pemupukan dengan kebutuhan tanaman dalam setiap fase pertumbuhan. Dapat dirangkum seperti sebagai berikut:
Fase Vegetatif: Tanaman membutuhkan Nitrogen (N) dalam jumlah tinggi untuk merangsang pertumbuhan daun dan batang.
Fase Generatif: Fosfor (P) dan Kalium (K) menjadi unsur utama untuk memperkuat akar, meningkatkan kualitas bunga, serta hasil panen.
"Banyak petani yang masih menggunakan pupuk secara asal-asalan. Padahal, pemupukan harus sesuai dengan fase pertumbuhan tanaman agar nutrisi yang diberikan benar-benar terserap optimal dan meningkatkan hasil panen”, tegas Pak Dadang.
Kesehatan tanah tidak hanya bergantung pada pemupukan, tetapi juga pada strategi pengelolaan lahan yang cerdas
Penggunaan pestisida harus tepat sasaran, disesuaikan dengan kondisi cuaca dan jenis lahan agar efektif serta menghindari dampak buruk pada lingkungan.
Pengendalian hama dan penyakit memerlukan SOP yang fleksibel, menyesuaikan dengan dinamika ekosistem sekitar.
Menurut Pak Dadang, "Pestisida memang penting, tetapi penggunaannya harus bijak. Jika berlebihan, bukan hanya hama yang mati, tetapi juga keseimbangan ekosistem terganggu. Petani perlu memahami cara aplikasi yang tepat agar tidak menciptakan masalah baru di kemudian hari,"
Untuk memastikan pertanian yang berkelanjutan, beberapa langkah utama harus diterapkan:
Pemupukan yang tepat guna dan berkualitas tinggi.
Pengelolaan tanah yang baik dengan menjaga pH optimal, menambahkan bahan organik, serta menerapkan sistem rotasi tanaman.
Pemilihan pestisida berkualitas dan penggunaannya yang bijak guna mencegah resistensi.
Pencatatan budidaya secara berkala sebagai alat evaluasi dan peningkatan praktik pertanian.
Pak Dadang menutup dengan pesan inspiratif, "Pertanian bukan sekadar soal menanam dan panen. Ini adalah proses panjang yang harus dikelola dengan ilmu dan strategi. Jika kita menjaga tanah dengan baik hari ini, generasi mendatang masih bisa menikmati kesuburan yang sama."
Dengan memahami dan menerapkan langkah-langkah ini, petani dapat meningkatkan produktivitas pertanian secara signifikan sekaligus menjaga keseimbangan ekosistem tanah untuk masa depan yang lebih berkelanjutan.
Sekolah lapang besar ini memberikan informasi dan pengetahuan yang lebih jelas untuk memenuhi kebutuhan wawasan para petani. Acara ini telah sukses diselenggarakan di Subang, Indramayu, dan Garut pada 13–14 Februari 2025 yang melibatkan seluruh peserta Kompetisi Sentra Bertani yaitu para pelopor tani dan kelompok petaninya. Antusiasme dari semua partisipan tidak hanya terbatas dari petani tetapi termasuk beberapa stakeholder juga seperti dari BPP, PPL, kantor desa, dan lembaga eksternal lainnya.
