Konten dari Pengguna

Jalur Sutra Digital RI-Tiongkok, Drama Mikro, & Gelombang Belanja di TikTok

Darynaufal Mulyaman

Darynaufal Mulyaman

Dosen Prodi HI FISIPOL UKI

ยทwaktu baca 3 menit

comment
0
sosmed-whatsapp-white
copy-circle
more-vertical

Tulisan dari Darynaufal Mulyaman tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

Ilustrasi Tiktok (Unsplash/Solen Feyissa)
zoom-in-whitePerbesar
Ilustrasi Tiktok (Unsplash/Solen Feyissa)

Ada yang berubah dalam cara jutaan orang Indonesia menghabiskan waktu luang mereka. Bukan sekadar menonton, melainkan menonton sekaligus berbelanja. Drama mikro Tiongkok, yakni video vertikal berdurasi 90 detik hingga dua menit per episode, telah menjadi mesin komersial yang diam-diam merestrukturisasi pola konsumsi digital Indonesia.

Angkanya bicara keras. Pendapatan drama mikro Tiongkok melonjak dari 500 juta dolar pada 2021 menjadi 7 miliar dolar pada 2024, bahkan melampaui pendapatan bioskop tradisional Tiktok yang mencapai 50 miliar yuan. Sementara itu, TikTok Shop membukukan gross merchandise value senilai 6,2 miliar dolar di Indonesia sepanjang 2024, menjadikan Indonesia pasar terbesar kedua TikTok secara global. Dua fenomena ini bukan kebetulan, keduanya adalah dua sisi koin yang sama.

Infrastruktur Lunak yang Tak Terlihat

Sementara proyek kereta cepat dan pelabuhan menuai sorotan, produk budaya digital Tiongkok melintasi perbatasan hampir tanpa hambatan, menyusup ke rutinitas harian masyarakat Indonesia. Narasi CEO dominan dan kisah-kisah balas dendam romantis yang mendominasi drama mikro bukan sekadar hiburan. Konten semacam itu mempromosikan gaya hidup aspirasional yang mendorong pembelian impulsif. Kategori kecantikan dan perawatan diri mendominasi ekosistem ini, menciptakan permintaan yang menggerakkan rantai produksi, pengemasan, hingga logistik lintas kepulauan.

Inilah yang kerap luput dari perhatian. Ekosistem digital ini memiliki jejak energi yang masif. Pusat data, pengisian daya perangkat, serta pengiriman last-mile ke ribuan pulau semuanya membutuhkan energi dalam jumlah besar. Data semester pertama 2024 mencatat penjualan barang rumah tangga via TikTok Shop Asia Tenggara mencapai 2,3 miliar dolar, sedangkan kosmetik menembus 1,7 miliar dolar. Volume ini menghasilkan limbah kemasan, emisi karbon logistik, dan siklus manufaktur padat energi yang berbenturan dengan komitmen transisi energi Indonesia.

Peluang di Balik Tantangan

Namun menutup mata terhadap kontribusi ekonominya juga tidak bijak. Platform ini telah membuka akses pasar bagi jutaan penjual kecil Indonesia, mendorong literasi digital, dan menciptakan peluang wirausaha baru sebagai modal penting menuju Visi Indonesia Emas 2045. Pertanyaannya bukan apakah ekosistem ini harus ada, melainkan bagaimana mengarahkannya.

Indonesia sesungguhnya memiliki daya tawar yang nyata. Sebagai pasar terbesar kedua TikTok di dunia, pemerintah dapat menegosiasikan syarat keterlibatan, misalnya insentif algoritma bagi produk hemat energi, standar kemasan berkelanjutan, hingga integrasi konten edukasi konsumsi hijau dalam drama mikro. Tiongkok pun sedang bergeser ke drama mikro premium kelas S berbujet antara 400.000 hingga 600.000 dolar, sebuah peluang ko-produksi konten yang menggabungkan kekuatan produksi Tiongkok dengan kekayaan budaya Indonesia.

Keberhasilan hubungan Tiongkok-Indonesia di era digital tidak cukup diukur dari volume perdagangan atau proyek infrastruktur. Yang lebih penting adalah apakah integrasi digital ini mampu menghasilkan kemakmuran bersama yang berkelanjutan. Drama mikro dan TikTok Commerce adalah wajah paling intim dari keterlibatan bilateral itu. Ia membentuk bukan hanya apa yang dibeli warga Indonesia, tetapi bagaimana mereka membayangkan masa depan dan seberapa besar energi yang akan dibutuhkan untuk mewujudkannya.

Apakah para pembuat kebijakan Indonesia akan memanfaatkan momentum ini, atau sekadar menjadi konsumen pasif revolusi budaya yang dirancang untuk mengekstrak nilai komersial sebesar-besarnya. Jawaban atas pertanyaan itulah yang akan menentukan arah kisah ini.