Konten dari Pengguna

Gajah Memiliki Duka Serupa Manusia Ketika Melihat Kerabatnya Mati

Dasar Binatang

Dasar Binatang

Menyajikan sisi unik dunia binatang, menjelajah ke semesta eksotisme lain margasatwa

comment
0
sosmed-whatsapp-white
copy-circle
more-vertical

Tulisan dari Dasar Binatang tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

video youtube embed

Kisah interaksi unik antara hidup dan mati yang dialami oleh gajah sebenarnya sudah sangat familiar pada dunia pengetahuan fauna.

Sebuah penelitian terbaru pada tahun 2020 dilakukan oleh Goldenberg dan Wittemyer mencoba untuk mengulik interaksi gajah dalam menghadapi kematian di koloninya, mengingat makhluk raksasa ini dikenal sebagai salah satu hewan yang memiliki empati layaknya manusia.

Science Daily dan Jurnal Primates mengulas tentang penemuan perilaku gajah dalam merespons kematian, terutama saat mendapati kerabatnya tewas.

Misi kolaboratif antara San Diego Zoo Institute dan Colorado State University menggunakan studi literatur dari 32 observasi bangkai gajah liar dan 12 sumber lainnya di seluruh Afrika.

Keluarga Gajah. Foto: luxtorm from Pixabay

Studi menghasilkan penemuan gajah yang menunjukkan minat umum pada kematian, bahkan setelah tubuh individu lain membusuk. Terkadang gajah yang mati tidak terbukti memiliki kedekatan personal dengan individu yang diteliti. Perilaku umum teramati mencakup mendekati mayat, menyentuh, dan memeriksa bangkai.

“Tidak diketahui dengan jelas motivasi yang mendasari perilaku ini, namun dipercaya berbeda antar individu. Beberapa gajah ditemukan berkunjung berkali-kali pada bangkai. Ada dugaan kelenjar temporal yang mengalir di lokasi bangkai ibunya terkait dengan emosi yang mengikat pada anaknya,” Goldenberg memberi keterangan.

Selain itu, indra penciuman juga berperan dalam mengidentifikasi gajah yang mati. Ketika diamati, gajah akan mengeluarkan suara atau mencoba menarik indivudu yang jatuh atau baru saja mati.

Individu gajah mempertahankan populasinya sebagai bentuk hubungan langgeng dalam koloni selama beberapa dekade. Sebagai makhluk sosial, gajah bergabung dengan suatu kelompok yang bisa saja terpisah lalu menemukan kelompok lainnya.

Hubungan sosial tersebut dibangun melalui pengenalan dan pengingatan berbagai individu pada spesiesnya. Dunia sains telah mengenal bahwa gajah memiliki kemampuan kognitif yang sangat baik, dengan ingatan yang lama, serta penciuman yang canggih.

“Sangat mengharukan melihat gajah berinteraksi dengan sesama gajah yang mati. Jelas apa yang ditemukan menunjukkan mereka memiliki perasaan maju,” ungkap Wittemyer.

Gajah yang menyapa kerabat lamanya setelah terpisah melakukan identifikasi melalui penciuman dan sentuhan. Tak banyak disangka, perilaku tersebut memunjukkan bahwa hewan berbelalai ini terus memperbarui informasi sosial dan spasial.

Respons gajah terhadap bangkai memiliki tujuan yang sama dengan siapa gajah berinteraksi dan memiliki implikasi penting dalam kelangsungan hidup individu.

Para ilmuwan mengharapkan studi lebih lanjut untuk diterapkan dalam hal eksplorasi ingatan gajah dan kemungkinan kesedihan, serta emosi ketika melihat kematian pada anggota spesiesnya.

Anak Gajah. Foto: Comfreak from Pixabay