Konten dari Pengguna

Penelitian Terbaru Menunjukkan Burung Dapat Merespons Perubahan Cuaca Esktrem

Dasar Binatang

Dasar Binatang

Menyajikan sisi unik dunia binatang, menjelajah ke semesta eksotisme lain margasatwa

comment
0
sosmed-whatsapp-white
copy-circle
more-vertical

Tulisan dari Dasar Binatang tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

Burung Robin. Foto: EvgeniT from Pixabay
zoom-in-whitePerbesar
Burung Robin. Foto: EvgeniT from Pixabay

Studi terbaru menemukan bagaimana spesies burung dapat mengidentifikasi cuaca ekstrem dalam jangka waktu berbeda. Peristiwa alam tersebut mencakup gelombang panas hingga peristiwa musiman seperti kekeringan.

Selain itu, ciri-ciri unik ini ditemukan pada spesies yang berbeda, seperti seberapa jauh bermigrasi atau seberapa sering burung-burung muncul dalam memprediksi kerentanan populasinya terhadap cuaca ekstrem. Melansir dari Science Daily, begini penjelasannya.

Penelitian ini dilakukan olen Prof. Ben Zuckenberg dari University of Wisconsin-Madison bersama dengan rekannya, Daniel Fink dari Cornell Lab of Ornithology. Keduanya mengamati 109 spesies di bagian timur Amerika Utara selama 15 tahun, dengan mengintegrasikan informasi secara baik, meliputi skala pada suhu satelit dan data curah hujan.

Zuckenberg memberi pernyataan bahwa burung memiliki kemampuan responsif dan sensitif terhadap perubahan lingkungan, termasuk perubahan cuaca esktrem dan pemanasan global.

video youtube embed

Penelitian yang diterbitkan pada jurnal Global Change Biology sepakat tidak semua burung memiliki level kerentanan yang sama akibat dari perubahan iklim. Saat planet menghangat, kemampuan beradaptasi akan dilakukan oleh beberapa spesies, sedangkan yang lain mungkin berjuang tanpa tindakan konservasi.

Burung yang bermigrasi dengan jarak pendek, seperti burung robin merespons gelombang panas secara negatif. Sedangkan burung gagak yang mendiami wilayah kering terbukti tangguh dalam menghadapi kekeringan parah yang berlangsung lama.

Selain itu, penelitian kelompok pada tahun 2019 yang dipimpin oleh Lucy C. Mason memberi sumbangsih fakta bahwa spesies burung yang hidup pada lahan basah pedalaman justru lebih responsif terhadap perubahan lingkungan karena sifat musiman dan ekosistem yang kurang stabil. Burung yang hidup pada vegetasi basah akan melakukan migrasi jarak yang lebih jauh dibandingkan dengan burung habitat kering.

Secara keseluruhan, misi yang termuat dalam jurnal Climate Change itu mengulik fakta perubahan kesesuaian iklim memengaruhi sifat ekologi dan asosiasi habitat spesies burung, namun dampaknya mungkin tidak selalu konsisten antar benua. Sehingga, analisa secara universal mungkin tidak akan kuat, dan akan lebih efektif pada studi geografis dalam tingkat lokal.

Hasil eksplorasi ini memberikan keluaran terhadap para konservasionis untuk memulai aksi dalam perlindungan spesies yang paling rentan, serta lokasi di mana peristiwa cuaca ekstrem diperkirakan.

“Jika burung benar-benar penjaga perubahan iklim, kemungkinan besar kekeringan, banjir, dan kondisi suhu ektrem seperti gelombang panas akan memiliki konsekuensi yang signifikan,” kata Zuckenberg. “Kita perlu memikirkan tentang bagaimana membantu spesies beradaptasi dengan iklim ekstrem,” Zuckenberg mengakhiri.

Burung Gagak. Foto: Free-Photos from Pixabay