Konten dari Pengguna

Agama Ekologis

David Efendi

David Efendi

Pegiat Kader Hijau Muhammadiyah, Pendiri Rumah Baca Komunitas dan staf pengajar di UMY

·waktu baca 14 menit

comment
0
sosmed-whatsapp-white
copy-circle
more-vertical

Tulisan dari David Efendi tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

Agama Ekologis
zoom-in-whitePerbesar

Seluruh kehidupan-mulai dari sel yang paling primitif, hingga masyarakat, korporasi, dan negara-bangsa, bahkan ekonomi global ditata menurut pola dan prinsip dasar yang sama. Fritjof Capra, penulis best seller The Tao of Physics, menjelaskan ekosistem terpadu yang mengintegrasikan dimensi biologis, kognitif, dan sosial dari kehidupan dan memperlihatkan bagaimana pemahaman hal ini akan sangat penting bagi keberlangsungan hidup man usia. Karena, seiring terbentangnya abad yang baru ini, dua perkembangan yang akan amat berpengaruh terhadap kemanusiaan-kapitalisme global dan perencanaan ecodesign yang berwawasan ekologis untuk masyarakat yang berkelanjutan terpasang pada jalur yang bertabrakan. Tantangan terbesar kita adalah mengubah sistem nilai yang melandasi ekonomi global sebelum terlambat. Buku The Hidden Connections-nya Capra memperlihatkan pada kita bagaimana caranya.

Agama pernah diserang dan ditersangkakan sebagai akar krisis ekologis. Bukan hanya krisis lingkungan, kemiskinan dan penderitaan manusia di alam raya ini sejatinya dapat dialamatkan kepada agama-agama samawi yang kerap menumpahkan darah lingkaran alam. Tuduhan yang punya historis dengan segala kelebihan dan kekurangannya, segala jenis kemalasan epistimologis dan kebodohan ontologisnya.

Ada kawan di Facebook yang pernah menantang kaum agama. Kalau krisis ekologi, agama bisa apa? kira-kira begitu rasa frustasinya dicurhatkan ke media sosial. Tentu saja kan ada iman yang mendorong keshalehan ekologis. Tentu saja saya smenyaksikan adanya sekte agama bernama environmentalisme religius. Daya iman inilah yang menopang politik harapan ini dalam menghadapi krisis lingkungan yang semakin mematikan: pemanasan dan pendidihan global, bencana sosioekologis, kepunahan spesies, pulau-pulau sampah di lautan, kiamat serangga, triple planetary krisis. Mengutip Henry David Thoreau, banyak orang dituntut percaya bahwa di dalam agama terletak nilai-nilai pelestarian lingkungan semesta.

Akhir tahun 69-70-an, para teolog dan praktisi agama mulai refleksi dan menilai kembali peran agama terhadap praktik keadilan lingkungan sebagai respon terhadap esai sejarawan Lynn White yang mendakwah agama Kristenlah penyebab degradasi lingkungan. Pada tahun 1967, White menerbitkan "The Historical Roots of Our Ecological Crisis" di jurnal Science, di mana ia menghubungkan sikap arogan Barat terhadap alam dengan ajaran Kristen dan pemberantasan animisme pagan. Dalam esai yang sama yang memicu perdebatan mengenai kesalahan agama Kristen, White sendiri menyarankan bahwa agama harus memberikan obatnya. Cendekiawan muslim memberikan respon cukup signifikan dari para filosof dan teologi modern seperti Hossein Nasr, Fazlun Khalid, dan sebagainya.

Dalam beberapa tahun terakhir, Sam Harris, Richard Dawkins, dan Christopher Hitchens telah menulis buku-buku yang dipublikasikan secara luas yang menyerang agama (sebagai institusi), teisme, dan Kristen. Banyak pembacanya yang memuji karya-karya mereka, dan memandangnya sebagai senjata ampuh yang menentang meningkatnya kekuatan dan kehadiran keyakinan agama (faiths) tertentu di panggung global. Banyak sekali dampak yang ditimbulkan atas kebangkitan agama Kristen evangelis di Amerika Serikat, dan ancaman kaum fundamentalis agama di seluruh dunia. Sebagian besar komentar ini bersifat negatif, khususnya mengenai komentar berrkarakter 'islamophobia.

Kaum anti agama bahkan seorang akademisi tengahan, jika ditanyakan apa pendapatnya mengenai kegunaan agama pada masalah iklim dan kemanusiaan, ada yang berargumentasi bahwa agama tampak lebih merugikan daripada bermanfaat bagi kemanusiaan dan alam. Saya pernah melihat dialog ini didalam postingan antropolog asal Indonesia.

Memahami sosok Roger S. Gottlieb

Sebagai pembelajaran, kita perlu menemukenali sosok yang dapat memberikan pencerahan agar kita tidak keliru sepanjang hayat. Dalam mengedepankan ekoliterasi bagi kalangan muda-mudi, salah bacaan atau salah paham itu penting karena proses belajar memang meniscayakan keragaman pandangan dan pengalaman.

Gootlieb sendiri merupakan seorang profesor filsafat. Dia memberikan argumen tandingan mengenai kegunaan agama di dunia yang sedang tunggang langgang ini secara sangat positif. Dalam bukunya A Greener Faith, Gottlieb menawarkan analisis deskriptif tentang “lingkungan hidup keagamaan” kontemporer dengan menyatakan bahwa agama memegang kunci dalam mengelola dan menyelesaikan krisis lingkungan hidup saat ini. Kelompok pemeluk agama tentu sangat terbantu memperkuat imannya dengan membacai pemikirannya yang tertuang dengan jelas di bukunya. Buku ini berhasil memerinci alur pemikiran utama dalam lingkungan hidup keagamaan dan kontribusi unik yang telah (dan dapat diberikan) agama terhadap gerakan lingkungan hidup.

Argumen utama Gottlieb adalah bahwa agama, yang dulunya didakwah mengabaikan alam dan secara tidak kritis lebih menyukai peradaban industri dan membela modernitas, dalam beberapa dekade terakhir ini kemonutas agama menjadi “suara utama” penuh kelantangan yang mendesak para penganutnya “untuk menghormati bumi, mencintai non-manusia serta sesama manusia, dan memikirkan secara mendalam tentang kehidupan sosial yang lebih adil dan beradab. Konsekuensi dari kosmopolitannya kelompok agama, mereka pun mendesakkan pula kebijakan dan prioritas ekonomi" (hal. 9) yang lebih ramah lingkungan. Dalam buku penuh warna ini Gottlieb meyakini dengan argumennya bahwa agama tentu saja bukan bagian dari persoalan, melainkan solusi yang berguna dan efektif bagi kemaslahatan planet bumi. Mengapa disebut efektif?

Pikiran Fundamentalisme Agama berguna untuk pemulihan Planet Bumi?

Sebagai seorang filsuf Marxis, Gottlieb mengambil beberapa gagasan dari Teori Sistem Dunia dan memodifikasi situasi dialektika antara negara-negara maju dan berkembang dengan mengatakan bahwa imperialisme jauh melampaui ekonomi dan kekuasaan, dan menempatkannya dalam kategori dosa. A Greener Faith mengusulkan cara yang berani dalam memandang konservasionisme berdasarkan penafsiran ulang teks-teks suci dari berbagai agama monoteistik, dan kemudian dilakukan politisasi atas penafsiran ulang tersebut. Saya memberikan penekanan khusus pada kata berani, karena pendekatan ini mempunyai dampak yang luar biasa terhadap tiga poin utama: konsumerisme, neoliberalisme global, dan fundamentalisme agama. Posisi yang pertama mengungkapkan potensi dampak dari Environmentalisme Religius terhadap pola konsumsi, dan, pada gilirannya, terhadap ekonomi politik.

Sementara itu, dengan menafsirkan kembali teks-teks beberapa tradisi agama, Environmentalisme Religius mempertanyakan keabsahan penafsiran literal atau tradisional atas tulisan-tulisan tersebut, dan dengan demikian, seluruh legitimasi otoritas agama dan sistem gerejawi. Ketiga poin inilah yang menjadikan buku ini menarik bagi para ilmuwan sosial yang seharusnya senang dengan fakta bahwa, dengan menyerang “dosa dialektis”, buku ini mewakili antagonisme terbuka terhadap kebiadaban modal dan proses globalisasi.

Gottlieb menawarkan posisi yang menyenangkan untuk diperdebatkan dan “menarik untuk dipikirkan” tentang bagaimana menyikapi kondisi lingkungan hidup dari sudut pandang holistik. Para ilmuwan sosial pasti akan menentang beberapa penilaian pribadi Gottlieb mengenai kesenjangan sosial dan keadaan lingkungan hidup di planet ini. Namun, para pembaca akan mengapresiasi dampak revolusioner yang ditimbulkan oleh tren Environmentalisme Religius terhadap politik, konservasi, ekonomi, dan etika.

Dia dengan pengalaman empirisnya menyaksikan munculnya suara politik baru di masa depan global yang tak jauh atau yang akan datang, di mana umat manusia akan mengalami perubahan besar dalam moral, politik, dan ekonomi ketika mencoba untuk menyelaraskan berbagai pandangan masyarakat global dengan kepentingan planet bumi versus imperealisme ekologis.

Pada mulanya orang mungkin tidak berpikir bahwa agama dapat menyelesaikan permasalahan lingkungan hidup, mengingat sebagian besar permasalahan tersebut terutama berkaitan dengan permasalahan metafisik dan bukan permasalahan bumi. Gottlieb berpendapat bahwa agama dapat membantu dalam banyak hal dan bertujuan untuk memberikan "cakupan penuh lingkungan hidup keagamaan" untuk mendukung tesisnya.

Dengan mengkaji pergeseran pemikiran agama yang terjadi belakangan ini, komitmen banyak lembaga keagamaan terhadap isu lingkungan hidup, dan kolaborasi antara paham lingkungan hidup yang religius dan sekuler, Gottlieb berusaha membuktikan bahwa agama dapat memberikan harapan kepada manusia dan mengubah arah hubungan manusia dengan alam.

Dalam bukunya A Greener Faith, Gottlieb berupaya mendeskripsikan paham lingkungan hidup keagamaan kontemporer, namun ia tidak secara spesifik mendefinisikan apa arti istilah ini. Pada awalnya, ia mendefinisikan “agama” secara luas, sebagai “sistem kepercayaan, ritual, kehidupan institusional, aspirasi spiritual, dan orientasi etis” yang berhubungan dengan hal-hal non-materi dan kepercayaan pada hal-hal gaib (hal. viii).

Agama spesifik yang terutama sekali dibahas dan dikaji Paman Gottlieb ini adalah Yudaisme, Kristen, Islam, dan Budha, meskipun ia sering menggunakan contoh spiritualitas versi "Zaman Baru", agama penduduk asli Amerika, dan sistem kepercayaan animisme. Gottlieb mendefinisikan spiritualitas sebagai “tidak bertentangan dengan agama,” tetapi sebagai istilah yang “hanya menekankan cara tertentu dalam beragama” (hal. ix).

Dengan menggunakan definisi "agama" yang begitu luas, Gottlieb dapat menganggap kualitas keagamaan berasal dari banyak isu dan penyebab yang berkaitan dengan lingkungan. Dengan melakukan hal ini, dia pasti akan membuat orang terkejut, terutama karena dia menggunakan banyak sekali contoh dari latar belakang yang sangat berbeda untuk mendukung klaimnya.

Secara umum, ketika Gottlieb mengacu pada "lingkungan hidup keagamaan", yang ia maksudkan adalah bagian dari gerakan lingkungan hidup global yang memiliki semacam nuansa keagamaan, baik itu hari raya Yahudi yang merayakan pepohonan atau perintah syekh Islam yang melarang penggunaan dinamit ikan di lepas pantai. Madagaskar. Gottlieb sengaja "menebarkan jaring yang luas" untuk menunjukkan berbagai inkarnasi lingkungan hidup religius, namun dengan melakukan hal tersebut menimbulkan keraguan pada semantiknya.

Gottlieb percaya bahwa "krisis lingkungan memerlukan perubahan besar dalam pemahaman agama tentang keberadaan manusia" (hal. 19). Permasalahan lingkungan hidup yang dramatis dalam beberapa dekade terakhir membuat banyak teolog dan penganutnya mempertanyakan iman mereka dan maknanya bagi dunia, sehingga mendorong mempertimbangkan kembali hubungan antara alam dan iman. Menurutnya, rekonseptualisasi ini menghasilkan “ekoteologi” baru yang menafsirkan kembali teks-teks suci (Alkitab dan Alquran), mengkritik cara agama sebelumnya mendekati alam, dan berkontribusi pada evolusi kreatif agama. Gottlieb memandang berbagai deskripsi hubungan manusia-alam memberikan landasan yang kuat bagi pandangan dunia dan kode moral baru, yang mendorong para pengikutnya untuk mengubah pemikiran mereka mengenai semua hubungan (hal. 42).

Sepanjang buku penting ini, Gottlieb berulang kali berpendapat bahwa lingkungan hidup keagamaan harus dipandang sebagai gerakan politik progresif, karena gerakan ini mengharuskan individu untuk memperluas kode moral mereka. Ia berargumentasi bahwa paham lingkungan hidup keagamaan, sebagaimana dijelaskan olehnya, mengikuti tradisi gerakan progresif yang diilhami agama sebelumnya seperti abolisionisme dan pasifisme (hal. 56). Menurut Gottlieb, paham lingkungan hidup keagamaan sangat kuat karena ia mereformasi tradisi keagamaan dan juga menantang penindasan dalam masyarakat. Dengan berfokus pada hubungan yang lebih ekologis antara manusia dan alam, gerakan ini menantang masyarakat dan institusi untuk melawan rasisme, seksisme, dan kesenjangan ekonomi.

Pemberantasan segala penindasan merupakan tujuan mulia agama, dan dalam beberapa hal ini merupakan tujuan yang relatif baru. Selama berabad-abad, umat Kristen dan Muslim berusaha membasmi musuh dan orang yang tidak beriman masing-masing. Menanggapi fakta sejarah ini dan karena kepedulian terhadap kesejahteraan masyarakat, banyak warga dunia yang mungkin angkat bicara dan berpendapat bahwa agama tidak memiliki tempat dalam politik atau dalam memberikan solusi terhadap masalah ilmiah tersebut. Dalam bab 2, Gottlieb menghadapi lawan-lawan ini dengan menyangkal argumen sekuler bahwa agama dan demokrasi tidak sejalan, irasionalitas keyakinan agama, tuduhan bahwa nilai-nilai agama tidak ada hubungannya dengan lingkungan hidup, gagasan bahwa campur tangan agama dalam politik adalah ide yang buruk, dan klaim bahwa agama tidak relevan dengan kehidupan modern. Peran agama dalam politik telah lama diperdebatkan, dan pembaca akan mengangguk setuju atau mencemooh argumen Gottlieb atas nama aktivisme keagamaan.

Kekuatan sintesa Gottlieb mengenai lingkungan hidup religius kontemporer terletak pada pengetahuannya yang sangat luas mengenai masyarakat, institusi, organisasi, dan sistem kepercayaan. A Greener Faith memuat sejumlah contoh nyata yang dapat digunakan untuk memperkuat argumen Gottlieb dalam mendukung keterlibatan agama dalam gerakan lingkungan hidup. Beberapa bab dikhususkan untuk merinci tindakan kelompok agama, pernyataan lingkungan oleh para pemimpin agama terkemuka, wawancara dengan aktivis lingkungan agama terkemuka, dan contoh ritual khusus yang digunakan oleh berbagai agama untuk menghormati alam.

Argumen Gottlieb adalah bahwa "lingkungan hidup keagamaan" adalah gerakan global antaragama (hal. 113). Ia mengemukakan pendapatnya dengan merujuk dan mendiskusikan banyak agama, kelompok, dan organisasi, mulai dari Dewan Gereja Dunia yang relatif liberal (mewakili lebih dari 400 juta umat Kristen) hingga Gerakan Sarvodaya Buddha di Sri Lanka, dari aktivis penduduk asli Amerika, Charon Asetoyer. Menurutnya akar agama berdaya guna untuk memperkuat hubungan antara agama dan gerakan lingkungan hidup.

Pada satu titik ia berargumen bahwa adanya kesamaan antara “organisasi lingkungan sekuler" dan yang berasis institusi agamaa"membuat cukup sulit untuk membicarakan hubungan” di antara keduanya karena “keduanya begitu menyatu sehingga sulit untuk membedakannya” (hal. 148). Argumen ini mungkin yang paling kontroversial. Ada banyak contoh tokoh agama, dan individu yang mendukung pelestarian hutan belantara dengan menggunakan analogi agama, dalam gerakan lingkungan. Salah satu kutipan John Muir yang paling banyak dikutip penuh dengan gambaran religius: "Dam Hetch Hetchy! Begitu pula bendungan untuk tangki air katedral dan gereja rakyat, karena tidak ada kuil yang lebih suci yang pernah disucikan oleh hati manusia" (hal. 152). Namun, hanya karena individu menggunakan istilah keagamaan seperti “penghormatan” atau “suci” ketika berbicara tentang alam, tidak berarti seseorang dapat dengan mudah menyamakan paham lingkungan hidup dengan agama.

Namun itulah yang dilakukan Gottlieb, dengan menyatakan bahwa "environmentalisme dapat berfungsi sebagai sebuah agama karena ia dimulai dengan emosi keagamaan dan ia menghubungkannya dengan seperangkat keyakinan yang diartikulasikan tentang tempat manusia di alam semesta" (hal. 160). Namun demikian, menurutnya tidak semua pengalaman, keyakinan, atau tindakan aktivis lingkungan bersifat spiritual. Gottlieb hanya menunjuk pada manajemen rasional Gifford Pinchot dan kepedulian Alice Hamilton terhadap kesehatan masyarakat di kota-kota awal abad ke-20 sebagai pengecualian terhadap aturan ini; dalam melakukan hal ini, ia menolak tujuan-tujuan “hijau” yang ada sebelumnya karena tidak memiliki visi global yang memadai dan berfokus pada religiusitas dan spiritualitas lingkungan hidup modern. Dalam hal ini, argumennya mengenai dimensi spiritual dari beberapa bagian gerakan lingkungan hidup modern adalah benar. sebagai contohnya adalah meluasnya gerakan ekofeminisme. Namun, klaim Gottlieb mengenai kesamaan menyeluruh antara agama dan paham lingkungan hidup akan menimbulkan skeptisisme di banyak pembaca.

Gottlieb menempatkan paham lingkungan hidup dalam konteks yang lebih luas dan membantu memperkuat argumennya mengenai tempat agama dalam politik lingkungan hidup. Gottlieb memandang konsumerisme, fundamentalisme agama, dan globalisasi sebagai tiga ancaman besar terhadap dunia, dan menjelaskan bagaimana lingkungan hidup keagamaan yang unik dapat memerangi ketiga fenomena yang menurutnya merugikan bagi semua ini. Sebagaimana dikemukakan Gottlieb dalam bukunya, agama dapat menawarkan pandangan dunia yang tidak bisa diberikan oleh masyarakat sekuler.

Salah satu kontribusi terpenting dari paham lingkungan hidup religius adalah konsep harapan, gagasan bahwa melakukan sesuatu lebih baik daripada tidak melakukan apa pun. Hal ini merupakan gambaran yang menyegarkan mengenai situasi lingkungan hidup dunia saat ini, yang sering kali memberikan gambaran yang suram. Pandora mungkin membiarkan semua kejahatan di dunia dirayakan, tapi dia berhasil menyelamatkan satu hal yang berhasil menopang umat manusia selama ribuan tahun terakhir.

Roger Gottlieb menulis buku A Greener Faith karena dia merasa "sangat berbesar hati dengan gerakan baru yang menakjubkan dari paham lingkungan hidup religius" (hal. vii). Keterlibatan agama dalam gerakan lingkungan hidup bukanlah hal baru, begitu pula dengan anggapan bahwa agama berpotensi membantu menyelesaikan krisis lingkungan hidup. Gottlieb juga bukan orang pertama yang mendeskripsikan dan menganalisis kemunculan paham lingkungan hidup religius. Sejarawan Roderick Nash merinci "penghijauan agama" dalam salah satu babnya Hak Alam (1989). Nash berargumen bahwa agama sudah mulai menjadi "hijau" pada tahun 1980-an, dan bahwa "ekoteologi tidak hanya menjadi sebuah kata baru tetapi juga sebuah pandangan dunia yang menarik."

Gottlieb tidak membuat terobosan baru, tapi itu sebenarnya bukan tujuannya. A Greener Faith melakukan pekerjaan yang sangat baik dalam merinci aspek-aspek lingkungan hidup keagamaan kontemporer yang luas dan beragam, dengan memanfaatkan pengetahuan luas dan keakraban penulis dengan gerakan tersebut. Dalam melakukan hal ini, Gottlieb memberikan beberapa alasan yang kuat dan dapat diperdebatkan dengan baik mengenai mengapa agama (dalam bentuk tertentu) harus memainkan peran penting dalam politik lingkungan hidup.

Tidak semua orang akan setuju dengan pendapatnya, namun Gottlieb pasti akan menginspirasi banyak orang beriman dengan kata-kata dan sarannya yang penuh harapan. Saya yakin, inilah tujuan utama dia mencurahkan gagasannya.

*Tulisan ini sebagian besar diterjemahkan dari bacaan sebagaimana tercantum di bawah ini

Roderick Frazier Nash, The Rights of Nature: A History of Environmental Ethics (Madison: University of Wisconsin Press, 1989), 120.

Megan Jones. Review of Gottlieb, Roger S., A Greener Faith: Religious Environmentalism and Our Planet's Future. H-Environment, H-Net Reviews. January, 2008. https://networks.h-net.org/node/19397/reviews/20563/jones-gottlieb-greener-faith-religious-environmentalism-and-our-planets

http://www.h-net.org/reviews/showrev.php?id=14077

https://digitalcommons.unl.edu/cgi/viewcontent.cgi?article=1027&context=icwdmeea

Roger S. Gottlieb. A Greener Faith: Religious Environmentalism and Our Planet's Future. New York: Oxford University Press, 2006.

Roger S. Gottlieb, ‘Religion and the Environment’, in John Hinnells (ed.), Routledge Companion to Religion, 2nd edn. (Routledge, 2009), pp. 492–508 diakses di https://www.academia.edu/634382/religion_and_the_environment

Other books by Roger S. Gottlieb

History and Subjectivity: The Transformation of Marxist Theory Joining Hands: Politics and Religion Together for Social Change Marxism 1844–1990: Origins, Betrayal, Rebirth

A Spirituality of Resistance: Finding a Peaceful Heart and Protecting the Earth

Edited by Roger S. Gottlieb

An Anthology of Western Marxism: From Luka ́cs and Gramsci to Socialist-Feminism

Deep Ecology and World Religions: New Essays on Sacred Ground (with David Landis Barnhill)

The Ecological Community: Environmental Challenges for Philosophy, Politics, and Morality

Liberating Faith: Religious Voices for Justice, Peace, and Ecological Wisdom

A New Creation: America’s Contemporary Spiritual Voices Radical Philosophy: Tradition, Counter-Tradition, Politics Thinking the Unthinkable: Meanings of the Holocaust

This Sacred Earth: Religion, Nature, Environment(First and Second Editions)