Konten dari Pengguna

Kita Punah atau lestari Bersama

David Efendi

David Efendi

Pegiat Kader Hijau Muhammadiyah, Pendiri Rumah Baca Komunitas dan staf pengajar di UMY

·waktu baca 8 menit

comment
0
sosmed-whatsapp-white
copy-circle
more-vertical

Tulisan dari David Efendi tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

Foto Koleksi sendiri
zoom-in-whitePerbesar
Foto Koleksi sendiri

Saya ingin melanjutkan materi Edisi Ekoliterasi, bacaan untuk kader Hidjo Muhammadiyah se alam semesta. Bacaan yang bukan dimaksudkan untuk menghebatkan diri tapi sejenis merangkumkan cerita agar puzzle pengetahuan itu ringkas dan manfaat.

Dari website ini dapat dijumpai khasanah penting https://www.encyclopedia.com/arts/culture-magazines/shabecoff-philip. Ia adalah seorang jurnalis, salah satu nama yang penting yang mendokumentasikan detail apa yang terjadi diAmerika perihal urusan krisis lingkungan dari kegelisahan sampai perang energi dan panen petaka. Dari sekian banyak bukunya, ini tiga yang dahsyat yang membicarakan secara ensiklopedik atau kronologis apa yang sudah diperbuat Amerika. A Fierce Green Fire: The American Environmental Movement, 1993; A New Name for Peace: International Environmentalism, Sustainable Development, and Democracy, 1996; Earth Rising: American Environmentalism in the 21st Century, 2000. Ada satu yang sudah diterjemahkan oleh Obor dengan judul Sebuah Nama Baru untuk perdamaian.

Perihal buku terakhir yang saya sebut di atas ini sangat penting karena juga kita hidup di zaman kapitalosen yang mencekam ini.

Paradok Indonesia: dibentuk kementerian lingkungan hidup, lingkungan makin rusak. Dibentuk kementerian kehutanan, hutan makin hilang dan rakyatnya miskin. Banyaknya NGO dan program ormas terkait lingkungan dan hutan, masalah pun semakin banyak.

Adalah Philip Shabecoff, Seorang wartawan yang masgul akan kualitas lingkungan hidup yang terus merosot berusaha mengungkapkan permasalahannya secara menyeluruh dari kaca mata sejarah. Suatu bacaan yang amat menarik, menuntut kepedulian dan tindakan. Harapan akan hari depan yang baik atau lebih baik tergantung dari apa yang akan kita kerjakan bersama dalam skala global. Gambaran amat suram terlukis muram semua akan menjadi kenyataan bila kita gagal bertindak bersama-sama.

Profesor RK Sembiring mengapresiasi hadirnya buku itu sebagaimana yang saya sajikan ini dengan editing tipis untuk konteks lebih kekinian di sebagian sudut tulisan pengantarnya.

Kita memaklumi, sejak dulu manusia cenderung bertindak sebagai penguasa bumi, menganggap bumi ini harus ditaklukkan, diperas demi kenikmatan (sementara) manusia, dan bumi akan dapat menjaga dirinya sendiri tidak terpengaruh oleh tindakan manusia. Pandangan ini mendapat dukungan dari Alkitab (Genesis) dan sangat dominan di Abad Pencerahan. Sekarang juga umumnya umat manusia bertindak seolah-olah, sadar atau tidak, paham ini masih benar. Kesulitannya ialah bahwa sesuatu yang dulu berlaku atau dianggap benar tidaklah otomatis juga masih benar sekarang, apalagi di masa depan. Philip Shabecoff berusaha meyakinkan kita untuk mengubah sikap dan tindakan: Bumi ini cuma satu dan sudah terasa amat kecil dan perlu diperlakukan dan dirawat dengan kasih sayang. Sikap ini bersifat simbiosis-mutualistik.

Philip, Seseorang wartawan lingkungan hidup, perekam sejarah yang cermat, pengagum Maurice Strong, yaitu pendekar utama Konferensi Puncak Bumi (Earth Summit) di Rio de Jainero, Juni 1992, dalam salah saty bukunya bercerita tentang pengalaman seseorang dalam melestarikan lingkungan hidup tertentu atau suatu hasil penelitian karena penulisnya bukan anggota LSM ataupun peneliti.

Ia juga membahas secara cermat perkembangan lingkungan hidup internasional sejak Stockholm 1972: Hanya Satu Bumi. Penulis mengulas panjang lebar semua permasalahan besar dalam gerakan lingkungan hidup internasional sampai pertemuan Puncak di Rio de Janeiro 1992.

Ia katakan bahwa perjuangan lingkungan itu jauh dari sederhana, menuntut kesabaran, dedikasi, diplomasi, dan di atas segalanya kerjasama demi hari depan yang baik atau lebih komprehensif.

Pembicaraan tentang lingkungan hidup internasional tentunya tidak dapat terlepas dari pembangunan berkelanjuta dan demokrasi. Ketiganya ternyata terjalin dalam rantaian tali temali yang rumit dan menyentuh segala segi kehidupan dan alam yang tidak terpisah: hubungannya jarang dalam bentuk kausal sederhana. Akibatnya, kita gampang mengabaikannya dan mencari solusi sederhana berjangka pendek. Cara hidup seperti ini memang menguntungkan, mudah dinikmati untuk generasi yang lalu dan barangkali juga yang sekarang. Tapi jelas merupakan malapetaka bagi generasi yang akan datang.

Penduduk yang terus bertambah memerlukan bahan mentah lebih banyak, menghasilkan sampah dalam segala bentuk yang lebih masif pula. Pendidikan yang lebih tinggi akan menaikkan tingkat kesehatan dan harapan hidup yang lebih tinggi serta tuntutan atas kehidupan yang lebih layak. Bayangkan kalau penduduk pulau Jawa sudah semaju Singapura apalagi Amerika Serikat dalam bidang ekonomi. Pulau Jawa sudah akan penuh dengan gedung pencakar langit dan jalan raya, seperti pernah dibayangkan oleh Prof. Sumitro Djojohadikusumo sekitar 46 tahun lalu.

Jakarta pun kini jadi suatu kota besar. Megapolitan. Pertanyaanya Bagaimana dengan kualitas udara, air, dan sebagainya? Penuh gulma dan polusi tentu saja hingga mengundang gugatan warga. Belum lagi bicara soal makanan dan rumput hijau; tidak dapat dibayangkan apakah orang muda masih punya perhatian pada orang tua, nenek dan kakek, masihkah mereka rajin sembahyang dan seterusnya. Dengan pertambahan penduduk 2% setahun maka suatu penduduk akan menjadi dua kali lipat jumlah semula dalam 35 tahun; pertambahan 1,5% setahun menjadikannya dua kali lipat dalam 47 tahun. Mengingat keadaan ekonomi yang sulit dewasa ini (fasilitas

untuk KB sulit dijangkau rakyat miskin), maka pertambahan penduduk Indonesia masih akan tinggi dan kelihatannya

dibutuhkan ratusan tahun lagi untuk mencapai kestabilan.

Keadaan kita menjadi lebih rumit lagi karena perhatian dewasa ini untuk jangka waktu cukup panjang ke depan masih berkutat di sekitar soal kelangsungan hidup, baik secara harfiah maupun sebagai bangsa. Pada kampanye pemilihan umum yang lalu tidak ada satu partai pun bicara tentang permasalahan lingkungan hidup (kendati beberapa di antaranya mencantumkannya dalam program kerja); mereka lebih tertarik menghimpun massa dan merebut kekuasaan tanpa menjelaskan bagaimana kekuasaan itu mau dipakai.

Kepedulian bersama hanya akan tumbuh dan berkelanjutan di alam demokrasi. Sejarah kaya akan buktinya. Di zaman Orde Baru kita telah menyaksikan bagaimana suara orang seperti Harmoko jauh lebih menentukan daripada suara orang seperti Emil Salim. Kita juga sama-sama telah menyaksikan bagaimana hutan kita dijarah dan dilahap api, sedikit sekali usaha mencegahnya. Kepedulian akan lingkungan ditumbuhkan melalui pendidikan (formal dan informal), membutuhkan kesabaran dan biaya yang tidak sedikit. Tidak mudah mengalihkan perhatian mereka yang biasa hidup di kota besar tentang pelestarian hutan dan isinya. Hutan bukanlah tempat tinggal yang nyaman (gambarannya sering menakutkan, bukan romantis), dan harimau bukanlah kawan seiring yang menggairahkan. Kita beruntung hidup di bagian bumi yang pemurah dengan cuaca yang ramah sehingga rata- rata kita menjadi anak manja. Akibatnya kita jarang bekerja menurut perencanaan jangka panjang, lebih banyak menggunakan "cara kerja Sangkuriang." Sedangkan mereka yang hidup di daerah Nordik, seperti Swedia, tidak akan dapat bertahan hidup dengan cara kerja seperti itu. Karena itu mereka sangat peduli lingkungan. Beberapa pokok pikiran yang dibahas penulis ingin saya manfaatkan di sini.

Pertama, Permasalahan lingkungan hidup berdimensi lokal, tonjolkan kembali secara nasional dan internasional. Hutan tropis merupakan paru-paru dunia, jadi bukan hanya urusan negara tropis. Negara sub- tropis pun perlu memberi sumbangan demi pelestariannya. Negara maju jauh lebih rakus dalam mengkonsumsi bahan mentah dan menghasilkan sampah dan polusi. Sulit bicara soal keadilan dan hak asasi dalam hal ini, sebab yang dominan adalah kekuasaan. Akan tetapi, perdamaian dunia hanya akan langgeng bila ada keadilan. Eksploitasi suatu negara atau kebudayaan atas yang lainnya akan selalu menimbulkan sengketa.

Seperti dikemukakan oleh Emil Salim : "..kita akan selamat atau hancur bersama; jika yang lemah tidak bertambah kuat maka semua akan lemah". Di sini kata kuncinya ialah kerja-sama. Fusi, bukan benturan, kebudayaan akan menolong seperti disarankan oleh K. Mahbubani dalam "Can Asians Think?" dari Singapura.

Kedua, Pembangunan berkelanjutan (Sustainable development). Suatu istilah yang saling bertentangan dalam bumi yang terbatas. Para ekonom sudah semestinya mulai berpikir tidak lagi dalam bentuk "pertumbuhan." Sejak akhir dekade 60-an para mahasiswa di Berkeley sudah meneriakkan hal ini, tapi sampai sekarang belum berubah. Khusus untuk Indonesia saat ini mungkin sedikit sekali yang mau meluangkan waktu untuk itu. Prioritasnya masih rendah, tirani dari kebutuhan mendesak. Jelas bumi ini masih akan mampu memikul pertumbuhan ekonomi dan penduduk beberapa lipat lagi, tapi sampai berapa? Dewasa ini rata-rata global penduduk sekitar 35 orang/km², bandingkan dengan Singapura, lebih 4600 orang/km² (negara terpadat di bumi).

Dari segi ini terlihat masih banyak ruang gerak pertumbuhan penduduk, kendati sama sekali tidak praktis apalagi nyaman mengumpulkan semua penduduk bumi ini dalam satu kota raksasa dan bagian lainnya untuk pertanian/peternakan, misalnya. Ekonomi pasar bebas yang berdasarkan homo economicus (kerakusan) tidak akan dapat dipertahankan lagi, sebab bertentangan dengan entropy. Pertumbuhan ada batasnya. Ekonomi dan ekologi harus kawin (teori Gaia). Syukur bahwa kelompok usahawan internasional sudah mulai menyadari bahwa memperhatikan lingkungan menguntungkan dunia usaha. Sebab bila berpikir dan bertindak sebaliknya, mungkin biayanya amat mahal. Ingat peristiwa Exxon Valdez.

Ketiga, perihal Demokrasi. Kekuasaan pemerintah, apalagi yang terpusat alias sentralistik, perlu dibagi dengan daerah. Daerah harus diberdayakan agar dapat ikut bertanggung jawab menjaga lingkungan dan mendapat manfaat daripadanya. Eksploitasi hutan oleh segelintir manusia tidak boleh lagi terjadi. Kaum pinggiran (marginal) perlu diberdayakan sehingga mereka dapat ikut mendapat manfaat dan bertanggung jawab atas lingkungannya.

Philip mengakhiri bukunya dengan suatu harapan bagi generasi penerus, suatu harapan wajar berdasarkan: Pax Gaia. Sesungguhnya harapan itu bukan alternatif dari berbagai pilihan, melainkan satu-satunya pilihan demi kelangsungan hidup manusia. Harapan penulis itu juga merupakan harapan kita bersama.

Jangan semangat tetap putus asa. Lalu yang waras bangun pagi pagi Lebih banyak berharap dan kita nunut doanya Emil Salim juga:

".... Semoga Ibu Pertiwi melahirkan bayi Indonesia baru dengan derita sesedikit mungkin dan dalam kesempurnaan jasmani dan rohani sebesar mungkin, agar bisa membangun hutan dan masa depan yang lebih cerah"