Konten dari Pengguna

Pasir Berbisik Sebagai Bacaan Bumi

David Efendi

David Efendi

Pegiat Kader Hijau Muhammadiyah, Pendiri Rumah Baca Komunitas dan staf pengajar di UMY

·waktu baca 4 menit

comment
0
sosmed-whatsapp-white
copy-circle
more-vertical

Tulisan dari David Efendi tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

cover Buku, koleksi pribadi
zoom-in-whitePerbesar
cover Buku, koleksi pribadi

Di tengah krisis iklim, keterasingan manusia dari alam, dan kegagalan sistem sosial modern menjawab persoalan ketimpangan, Sand Talk, yang secara sembrono penulis artikan sebagai pasir berbisik, hadir bukan sebagai buku resep makan enak, melainkan sebagai undangan untuk mengubah cara berpikir kita. Ditulis oleh Tyson Yunkaporta—seorang intelektual Aborigin dari klan Apalech—buku ini menantang pembaca untuk melepaskan pola pikir linear, reduksionis, dan hierarkis khas kolonialis Barat, lalu mencoba melihat dunia melalui lensa pengetahuan Indigenous yang berbasis relasi, pola, dan nalar keberlanjutan.

Sejak awal, Yunkaporta menyatakan bahwa dunia bukanlah sesuatu yang sederhana, dan upaya untuk menyederhanakannya justru berujung pada kehancuran (hlm. 3–5). Pernyataan ini menjadi fondasi seluruh buku: bahwa krisis hari ini bukan disebabkan oleh kurangnya pengetahuan, melainkan oleh cara mengetahui yang keliru.

“Sand talk” merujuk pada praktik Aborigin menggambar pola di tanah—menggunakan garis, simbol, dan bentuk—sebagai sarana berpikir, mengajar, dan berdialog. Bagi Yunkaporta, gambar di pasir bukan alat bantu visual, melainkan cara bernalar. Ia menjelaskan bahwa sebelum menulis, ia lebih dulu membuat pahatan dan diagram sebagai proses berpikir (hlm. 17–19).

Di titik ini, Sand Talk sudah jelas tidak dimaksudkan sebagai buku nonfiksi konvensional. Tidak ada daftar isi yang linier. Sebagai gantinya, pembaca disuguhi ikon-ikon simbolik yang merepresentasikan bab dan konsep. Struktur ini sengaja dibuat “mengganggu” kebiasaan membaca modern agar pembaca ikut merasakan dislokasi kognitif—pengalaman keluar dari kenyamanan berpikir lurus.

Salah satu gagasan penting dalam buku ini adalah konsep “us-two”, sebuah bentuk subjek ganda yang berasal dari bahasa Aborigin, yang tidak sepenuhnya setara dengan “kita” dalam bahasa Indonesia atau “we” dalam bahasa Inggris. Yunkaporta menggunakan “us-two” untuk menunjukkan bahwa identitas manusia selalu terbagi: antara diri yang relasional dan diri yang dibentuk oleh sistem kolonial-modern (hlm. 22).

Konsep ini menjadi kritik tajam terhadap individualisme Barat. Dalam Sand Talk, manusia tidak pernah dipahami sebagai entitas otonom, melainkan sebagai simpul dalam jejaring relasi—dengan keluarga, komunitas, leluhur, tanah, bahkan makhluk non-manusia. Dengan demikian, kerusakan ekologis bukan sekadar kegagalan etika lingkungan, tetapi kegagalan mengenali diri sebagai bagian dari relasi tersebut.

Alih-alih argumen akademik yang kaku, buku ini disusun melalui proses “yarning”, yaitu dialog berbasis cerita, humor, dan pengalaman bersama. Yunkaporta menjelaskan bahwa yarning bukan obrolan santai, melainkan metode transmisi pengetahuan yang memiliki protokol: mendengarkan aktif, saling menghormati, dan membangun makna secara kolektif (hlm. 131).

Pendekatan ini menantang asumsi bahwa pengetahuan adalah milik individu jenius atau institusi elite. Dalam tradisi Indigenous, pengetahuan muncul dari relasi, dan karenanya harus dijaga, dipertanyakan, serta diuji secara bersama-sama. Di sinilah Sand Talk menjadi relevan bagi dunia pendidikan dan riset yang semakin terjebak pada metrik, kepakaran sempit, dan produktivitas semu.

Yunkaporta dengan tajam mengkritik apa yang ia sebut sebagai “kecerdasan tanpa kebijaksanaan”. Ia menyindir bagaimana peradaban modern sangat bangga pada teknologi, tetapi terus-menerus gagal menjaga keseimbangan ekologis dan sosial (hlm. 54–60). Dalam salah satu bagian, ia membandingkan masyarakat pemburu-peramu yang bertahan puluhan ribu tahun dengan peradaban industri yang dalam waktu singkat membawa planet ke ambang kehancuran.

Buku ini tidak menolak sains atau teknologi, tetapi menolak penggunaan pengetahuan yang terlepas dari tanggung jawab relasional. Pengetahuan yang baik, menurut Yunkaporta, adalah pengetahuan yang menjaga kelangsungan hubungan—bukan yang memaksimalkan eksploitasi.

Tema sentral lain dalam Sand Talk adalah pola. Yunkaporta mengajak pembaca melihat dunia sebagai sistem kompleks yang saling terkait, bukan kumpulan objek terpisah (hlm. 88–94). Dengan ilustrasi sederhana—lingkaran, garis, simpul—ia menunjukkan bagaimana sistem sosial, ekonomi, dan ekologi seharusnya dibaca sebagai jaringan.

Pendekatan ini berlawanan dengan logika sebab-akibat tunggal. Masalah sosial tidak bisa diselesaikan dengan satu kebijakan; krisis lingkungan tidak bisa ditangani tanpa perubahan cara hidup. Dengan kata lain, dunia memerlukan pemikiran ekologis, bukan teknokratis.

Secara gaya, Sand Talk jauh dari netral atau sopan. Yunkaporta menulis dengan nada sinis, lucu, kadang marah, kadang sangat personal. Ia mengakui dirinya bukan guru bijak, melainkan seseorang yang juga terluka oleh sejarah kolonial dan sistem pendidikan modern (hlm. 120–123). Justru dari kejujuran inilah kekuatan ‘bacaan bumi’ ini muncul.

Pembaca mungkin merasa tersesat, terganggu, atau bahkan tidak setuju. Namun pengalaman membaca Sand Talk memang dimaksudkan sebagai latihan ketidaknyamanan—sebuah proses “unlearning” sebelum belajar kembali, relearning.

Bagi konteks Indonesia—negara dengan keragaman masyarakat adat, krisis ekologis, dan pendidikan yang masih sangat kolonial—Sand Talk menawarkan cermin yang tajam. Banyak komunitas Nusantara memiliki pengetahuan berbasis relasi dengan tanah, namun tersingkir oleh logika pembangunan ekstraktif. Buku ini membantu memberi bahasa dan kerangka berpikir untuk membela pengetahuan lokal tanpa menjebaknya dalam romantisme.

Lebih jauh, Sand Talk relevan bagi siapa pun yang merasa bahwa dunia modern terlalu cepat, terlalu bising, dan terlalu jauh dari makna.

Sand Talk bukan buku yang “mudah”, tetapi ia jujur, berani, dan mendesak. Ia tidak meminta pembaca untuk menjadi Aborigin, melainkan untuk kembali menjadi manusia yang berelasi. Dengan membaca pola di pasir, Yunkaporta mengingatkan kita bahwa pengetahuan sejati tidak selalu tertulis di buku atau algoritma—kadang ia hanya perlu digambar di tanah, dilihat bersama, lalu diceritakan kembali.