Setelah 'Jalan Ketiga' Cornelis Lay, Inilah Jalan Pulang Demokrasi

David Efendi
Pegiat Kader Hijau Muhammadiyah, Pendiri Rumah Baca Komunitas dan staf pengajar di UMY
Konten dari Pengguna
12 Februari 2024 12:19 WIB
·
waktu baca 8 menit
comment
0
sosmed-whatsapp-white
copy-link-circle
more-vertical
Tulisan dari David Efendi tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan
Guru Besar Fakultas Ilmu Sosial dan Politik (Fisipol) UGM, Prof Cornelis Lay. Foto: UGM
zoom-in-whitePerbesar
Guru Besar Fakultas Ilmu Sosial dan Politik (Fisipol) UGM, Prof Cornelis Lay. Foto: UGM
ADVERTISEMENT
Membicarakan Pak Pratikno tidak mungkin kita melupakan Pak Cornelis Lay, atau akrab dipanggil mas Conny. Ari Dwipayana adalah pembimbing tesis saya saat saya bereskan program Ilmu Politik di UGM. Mereka semua sangat kredible sebagai guru, nyaris tanpa cela bagi kami sehingga kami pun lebih banyak nyaman belajar dengan guru-guru kami tersebut.
ADVERTISEMENT
Keterlibatan club UGM masuk ke Istana memang berita baik dan berita menakutkan. Hanya periode Jokowi peranan akademisi UGM sampai pada puncaknya dan deretan alumni menteri yang banyak disumpah melayani rakyat semesta. Sampai pada akhirnya, jelang pemilu pasangan-pasangan Kagama berlaga di dua pasangan capres yang sedikit banyak mengguncang UGM karena ada satu kubu keluarga petahan punya kaki intelektual di Gajah mada.
Hari hari jelang pemilu, atau setahun ini begitu nyata pelanggaran etik dan abuse of power di banyak lini kehidupan. Kesengasaraan di tapak-tapak proyek negara sangat faktual dan seolah kita harus melumrahkan belum lagi infrastruktur hukum politik tata kelola pemerintahan yang makin represif dan kehilangan nalar demokrasi-partisipatorisnya. Kami sedih, juga ingin melawan.
ADVERTISEMENT
Mas Conny orang penting di balik merapatnya Pak Tik ke Istana, menuliskan pidato guru besar secara baik dan gamblang mana batas etika intelektual jika masuk ke dalam jantung kekuasaan. Ini adalah ringkasan yang paling dahsyat untuk meneladaninya:
ADVERTISEMENT
Di tengah pandemi COVID-19, seorang pemikir dan pejuang telah pergi meninggalkan kita semua. Rabu 5 Agustus 2020 lalu, Cornelis Lay pulang menghadap Sang Pencipta. Kepergian Mas Cony, begitu panggilan akrab beliau, menyisakan duka bagi keluarga, rekan-rekan, dan murid-murid beliau.
Semua kenangan tentang kebaikan dan pelajaran yang diberikan oleh Mas Cony mewujud dalam berbagai tulisan obituary yang tersebar luas baik di media massa maupun media sosial. Pastinya, saya punya banyak kenangan dibimbing skripsi saya oleh mas Conny.
Sebagai bagian dari mahasiswa DPP UGM, saya turut menyampaikan surat ini terbaca di publik luas.
Kepada:
ADVERTISEMENT
ADVERTISEMENT
Suara suara pelantang kebenaran akan memburuknya demokrasi terus berdengung 24 jam yang tak mungkin panca indra kami diam saja. Kami harus juga menjadi bagian dari pendukung kekuasaan yang beretika dan welas asih bagi semuanya. Karena, kekuasaan itu alat memuliakan manusia bukan tujuan jangka pendek semata.
Setalah Mas Conny menunjukkan jalan ketiga intelektual yang dipraktikkan dengan baik oleh Pak Pratikno di awal periode kepemimpinan Jokowi kini kekuasaan itu semakin menyimpang dan dinormalisasi oleh akademisi jejaring Pak Tik atau yang disebut Pratikno Boys.
Gambar prof Cornelis Lay, guru yang sangat memajukan alam pikiran saya.
Dulu mas Conny kasih petunjuk jalan ketiga intelektual, sayang sekali Mas Conny kini tak bisa mengarahkan pak Tik Pulang, sehingga biarlah murid muridnya ini yang menyambung jalan pulang pak Tik: Bagi kami, Pak Tik dan Mas Ari adalah guru, rekan, sahabat, kerabat, dan bapak.
ADVERTISEMENT
Hari ini kami berseru bersama: kembalilah pulang. Kembalilah membersamai yang tertinggal, yang tertindas, yang tersingkirkan. Kembalilah ke demokrasi; dan kembalilah mengajarkannya kepada kami, dengan kata dan perbuatan.