Konten dari Pengguna

Kurangnya Budaya Belajar “Proses” dalam Dunia Pendidikan

David Hutahaean

David Hutahaean

Mahasiswa Program Doktor Universitas Negeri Semarang. Dosen Universitas HKBP Nommensen Pematangsiantar

·waktu baca 6 menit

comment
0
sosmed-whatsapp-white
copy-circle
more-vertical

Tulisan dari David Hutahaean tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

Belajar tidak hanya mencari jawaban, tetapi juga memahami prosesnya. Foto: Generated by AI
zoom-in-whitePerbesar
Belajar tidak hanya mencari jawaban, tetapi juga memahami prosesnya. Foto: Generated by AI

Perkembangan teknologi digital sudah pasti membawa perubahan besar di segala bidang, terkhusus dalam dunia pendidikan, kehadiran internet, media sosial, mesin pencari, hingga kecerdasan buatan memberikan kemudahan luar biasa bagi mahasiswa dalam memperoleh informasi.

Dalam hitungan detik, jawaban atas berbagai pertanyaan dapat ditemukan dengan mudah. Namun di balik kemudahan tersebut, muncul sebuah fenomena yang mulai terasa di ruang-ruang perkuliahan: hilangnya budaya belajar proses dan meningkatnya budaya belajar instan.

Fenomena ini semakin terlihat ketika dosen atau guru memberikan tugas atau pertanyaan kepada mahasiswa. Banyak mahasiswa tampak kesulitan menjawab ketika soal diberikan secara langsung di kelas. Mereka bingung menyusun argumentasi, sulit menjelaskan konsep, bahkan terkadang tidak mampu menjawab pertanyaan sederhana yang sebenarnya sudah pernah dipelajari.

Ini merupakan sebuah fenomena yang saya alami, yaitu ketika saya menyuruh anak didik saya mengerjakan sebuah tugas, mereka kerap sekali merasa kesulitan untuk memahami walaupun saya sudah menjelaskannya.

Namun, situasinya berubah ketika pertanyaan yang sama dijadikan tugas rumah. Mahasiswa dapat mengerjakannya dengan sangat baik, lengkap, bahkan terlihat bagus. Hal ini menimbulkan pertanyaan besar: Apakah mahasiswa benar-benar memahami materi, atau mereka hanya mampu mencari jawaban secara instan melalui teknologi?

Ilustrasi Artificial Intelligence (AI). Foto: Shutterstock

Fenomena tersebut menunjukkan adanya perubahan pola belajar mahasiswa di era digital. Mahasiswa saat ini hidup di tengah budaya serba cepat. Segala sesuatu dapat diperoleh hanya dengan mengetik beberapa kata di Google atau pencarian yang sejenisnya. Mereka tidak lagi terbiasa melalui proses panjang dalam memahami sebuah materi. Ketika menghadapi kesulitan, sebagian mahasiswa lebih memilih mencari cara cepat dibanding mencoba memahami konsep secara mendalam. Akibatnya, proses berpikir kritis mahasiswa perlahan mulai berkurang.

Teknologi memang tidak dapat disalahkan sepenuhnya. Kehadiran teknologi sebenarnya memberikan banyak manfaat dalam pendidikan. Mahasiswa dapat mengakses jurnal internasional, membaca buku digital, mengikuti kelas daring, bahkan berdiskusi dengan berbagai komunitas akademik di seluruh dunia. Namun, masalah muncul ketika teknologi tidak lagi digunakan sebagai alat bantu belajar, tetapi sebagai pengganti proses berpikir itu sendiri, sehingga mahasiswa tersebut hanya mengandalkan teknologi tersebut.

Saat ini, banyak mahasiswa lebih fokus pada hasil akhir daripada proses pembelajaran. Yang terpenting bagi mereka adalah tugas selesai, jawaban terkumpul, dan nilai diperoleh. Sementara itu, proses memahami materi, menganalisis persoalan, dan membangun argumentasi sering kali diabaikan. Inilah yang menyebabkan munculnya budaya belajar instan di lingkungan kampus.

Fenomena ini juga terlihat dalam penggunaan kecerdasan buatan atau AI. Tidak sedikit mahasiswa yang menggunakan AI untuk menjawab pertanyaan, membuat rangkuman, bahkan menulis tugas akademik. Contohnya, ketika ada mahasiswa yang menampilkan slide power point-nya di depan kelas dengan kalimat dan kata-kata yang sangat bagus, mereka merasa bingung, bahkan tidak bisa menjawab, ketika saya bertanya terkait dengan topik yang disajikan mahasiswa tersebut.

Hal ini merupakan sebuah contoh bahwa teknologi seperti AI memang dapat membantu mahasiswa mengerjakan tugas, tetapi membuat mahasiswa tersebut tidak memahami apa tugas atau materi yang disajikannya. Hal ini menunjukkan bahwa mahasiswa hanya akan menjadi penerima jawaban instan. Mereka mungkin mampu menghasilkan tulisan yang baik secara struktur, tetapi tidak benar-benar memahami isi tulisan tersebut.

Ilustrasi Artificial Intelligence (AI). Foto: Shutterstock

Sebagai contoh yang lain, seorang mahasiswa dapat dengan mudah meminta AI membuat analisis sastra atau menjawab pertanyaan linguistik. Hasilnya mungkin terlihat akademis dan rapi. Namun ketika dosen meminta mahasiswa menjelaskan kembali jawabannya secara lisan, banyak di antara mereka justru kesulitan untuk menjawab.

Mereka tidak mampu mempertahankan argumen atau menjelaskan makna dari jawaban yang telah mereka kumpulkan sendiri. Hal ini menunjukkan bahwa pengetahuan yang dimiliki bersifat dangkal dan tidak melalui proses pemahaman yang mendalam.

Dari sini kita memahami bahwa budaya belajar instan juga memengaruhi kemampuan berpikir kritis mahasiswa. Dalam pembelajaran di perguruan tinggi, mahasiswa seharusnya dilatih untuk tahu bagaimana menganalisis, menginterpretasi, mengevaluasi, serta membangun pemikiran kritis.

Namun ketika mahasiswa terlalu bergantung pada jawaban cepat dari internet atau teknologi (AI), kemampuan tersebut menjadi lemah. Mereka terbiasa menerima informasi tanpa mempertanyakan kembali apakah informasi tersebut benar, relevan, atau memiliki dasar akademik yang kuat.

Itu artinya media sosial turut memperkuat budaya instan dalam pembelajaran. Konten-konten singkat seperti video pendek, ringkasan cepat, dan informasi instan membuat mahasiswa semakin sulit berkonsentrasi dalam membaca materi yang panjang dan mendalam.

Ilustrasi membaca materi. Foto: Shutterstock

Banyak mahasiswa lebih tertarik melihat penjelasan singkat satu menit dibanding membaca buku atau artikel, serta jurnal atau sumber lainnya yang mengajak untuk berpikir kritis. Akibatnya, kemampuan membaca kritis dan memahami teks kompleks mengalami penurunan.

Fenomena ini pasti menjadi tantangan besar bagi dunia pendidikan tinggi. Perguruan tinggi seharusnya menjadi tempat pembentukan pola pikir ilmiah dan kemampuan intelektual mahasiswa. Namun jika budaya instan terus berkembang tanpa kontrol, kampus berisiko menghasilkan lulusan yang hanya mampu mencari jawaban, tetapi tidak mampu memahami makna dari jawaban tersebut—dengan kata lain mereka tahu, tetapi tidak mengerti.

Oleh karena itu, dosen memiliki peran penting dalam membangun kembali budaya belajar proses di kalangan mahasiswa. Pembelajaran tidak boleh hanya berorientasi pada hasil akhir atau nilai semata. Dosen perlu menciptakan proses belajar yang mendorong mahasiswa untuk berpikir aktif dan mandiri. Salah satu caranya adalah dengan memberikan pertanyaan yang bersifat analitis dan reflektif, bukan sekadar pertanyaan hafalan yang mudah dicari jawabannya di internet.

Selain itu, mahasiswa perlu dibiasakan untuk menjelaskan kembali pemikirannya secara langsung melalui diskusi, presentasi, atau tanya jawab di kelas. Dengan cara ini, dosen dapat melihat sejauh mana pemahaman asli mahasiswa terhadap materi yang dipelajari. Tugas akademik juga sebaiknya tidak hanya berfokus pada hasil tulisan, tetapi juga pada proses penyusunan argumentasi dan kemampuan mahasiswa mempertanggungjawabkan jawabannya.

Di sisi lain, mahasiswa juga harus perlu menyadari bahwa proses belajar memiliki nilai yang jauh lebih penting daripada sekadar memperoleh jawaban cepat. Pemahaman yang dibangun melalui proses berpikir, membaca, dan menganalisis akan bertahan lebih lama dibanding pengetahuan instan yang diperoleh hanya melalui copy-paste atau pencarian cepat di internet.

Ilustrasi belajar. Foto: Shutterstock

Teknologi seharusnya menjadi alat untuk memperkuat pembelajaran, bukan menggantikan kemampuan berpikir manusia. Mahasiswa tetap perlu membaca, berdiskusi, bertanya, dan merenungkan materi secara mendalam. Pendidikan sejatinya bukan hanya tentang menemukan jawaban, melainkan juga tentang bagaimana seseorang memahami, memproses, dan mengembangkan pengetahuan tersebut.

Budaya belajar proses memang membutuhkan waktu yang lebih panjang dan usaha yang lebih besar. Namun melalui proses itulah, mahasiswa sebenarnya dapat menciptakan berbagai pemikiran kreatif, aktif, serta bijaksana dan bertanggungjawab. Sebaliknya, budaya belajar instan hanya akan menghasilkan pemahaman yang dangkal dan ketergantungan terhadap teknologi.

Fenomena kurangnya budaya belajar proses di kalangan mahasiswa saat ini menjadi refleksi penting bagi dunia pendidikan Indonesia. Kemajuan teknologi tidak boleh membuat mahasiswa kehilangan kemampuan berpikir mandiri.

Mahasiswa dapat menggunakan teknologi seperti AI, tetapi mereka jangan menjadi budak teknologi. Jika pendidikan hanya berorientasi pada kecepatan memperoleh jawaban, kampus akan kehilangan esensi utamanya sebagai tempat pembentukan karakter yang akademik.

Pada akhirnya, tantangan terbesar pendidikan modern bukanlah bagaimana membuat mahasiswa mendapatkan informasi dengan cepat, melainkan bagaimana agar mahasiswa tetap mau berpikir, memahami, dan menghargai proses belajar itu sendiri.