ASN sebagai Duta Budaya: Kiprah Ibu Mahiang dari Lamandau

ASN KABUPATEN LAMANDAU
·waktu baca 4 menit
Tulisan dari DAVID PERDANA KUSUMA tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan
Ketika kita berbicara tentang bentuk pengabdian Aparatur Sipil Negara (ASN) baik itu PNS dan PPPK( Pegawai dengan perjanjian kerja), sering kali bayangan yang muncul adalah rutinitas birokrasi, administrasi, atau pelayanan publik. Namun, pengabdian sejati justru tampak jelas pada sosok-sosok yang bekerja senyap di ruang kelas, di panggung budaya, dan di arena diplomasi.
Mengutip pernyataan Prof Zudan Arif Fakhruloh Kepala BKN RI, bahwa ASN adalah orang-orang yang bekerja dalam senyap dan hampir tidak ada sorotan publik. Salah satu dari sekian banyak orang tersebut adalah Ibu Mahiang, guru Bahasa Prancis di Kabupaten Lamandau, Kalimantan Tengah. Ia bukan sekadar pengajar bahasa asing. Ia mencoba untuk menjembatani antara pengaruh global dan kebangkitan kearifan lokal. Ia adalah bukti bahwa ASN dapat menjadi duta budaya, bahkan dari sebuah daerah yang jauh dari pusat perhatian.
Mengajar Bahasa Prancis di Lamandau tentunya bukanlah tugas yang ringan dan sepele. Menjadi guru merupakan pilihan yang mengernyitkan banyak kepala. Ada orang yang dengan secara sadar mendedikasikan hidup untuk membuat orang-orang yang nantinya akan menjadi penerus sebuah negeri. Ada orang seperti Ibu Mahiang dan orang-orang hebat lainnya, yang dipanggil guru, tetap setia dengan profesi mereka, dengan gaji yang seadanya, bertanggung jawab mewujudkan generasi emas 2045.
Begitu banyak kendala dan tantangan tentunya. Sejak kapan di dunia ini yang namanya mewujudkan sesuatu itu, selalu gratis? Semua hal ada harganya. Pertama, keterbatasan fasilitas membuat proses belajar mengajar harus dilakukan dengan kreativitas tinggi. Buku referensi terbatas, akses internet tidak selalu stabil, dan perangkat multimedia sering kali tidak memadai.
Kedua, minat siswa terhadap bahasa asing masih rendah. Banyak yang menganggap Bahasa Prancis terlalu sulit, tidak relevan, atau sekadar “bahasa orang kota.” Bukan hanya Bahasa Prancis, banyak yang menganggap kalau berbahasa asing itu tidak penting, semuanya pakai AI. Di sinilah Mahiang menunjukkan kepiawaiannya: ia mengaitkan pembelajaran dengan budaya Dayak, sehingga siswa merasa belajar bahasa asing bukan berarti meninggalkan identitas lokal.
Ketiga, beban ganda ASN. Sebagai guru, ia harus mengajar, membimbing, sekaligus aktif dalam kegiatan pengabdian kepada masyarakat. Semua ini menuntut energi ekstra, tetapi ia menjalaninya dengan semangat .
Meski tantangan begitu besar, Mahiang berhasil menorehkan prestasi yang layak diapresiasi. Pada tahun 2025, ia membawa Tari Manasai ke Polandia dalam program EuroWeek School of Leaders. Tidak hanya memperkenalkan tarian khas Dayak, ia juga mengajak siswa asing menari bersama. Momen ini menjadi simbol diplomasi budaya: bahasa dan seni menjadi jembatan persahabatan antarbangsa. Selain itu, ia aktif memperkenalkan potensi wisata Lamandau melalui Babukung, sebagai bagian dari diplomasi budaya. Kiprahnya sebagai liaison officer dalam ajang internasional seperti UCI MTB Eliminator World Cup memperkuat citra positif daerah.
Di tingkat organisasi, ia menjadi pengurus APPBIPA Kalteng, yang berfokus pada pengajaran Bahasa Indonesia bagi penutur asing. Artinya, ia tidak hanya mengajarkan bahasa asing, tetapi juga memperluas diplomasi kebahasaan Indonesia.
Ibu Mahiang juga aktif menjadi Pengurus Taruna Emas Generasi Bangsa, APEBSKID, HISKI, BPPD(Badan Promosi Pariwisata Daerah), Himpunan Pramuwisata Indonesia, Komunitas Literasi Lamandau, dan PGRI Lamandau. Selain itu beliau juga anggota Himpunan Penerjemah Indonesia, Asosiasi Guru Bahasa Prancis Indonesia (AGBPI), dan terakhir Perhimpunan Pengajar Bahasa Prancis Seluruh Indonesia (PPPSI) atau dalam nama bahasa Prancisnya, Association des Professeurs de Français d'Indonésie (APFI).
Pengabdian Mahiang membuka jalan bagi siswa Lamandau untuk mengenal dunia melalui Bahasa Prancis. menjadikan budaya Dayak sebagai bagian integral dari pembelajaran, sehingga siswa tetap bangga dengan identitasnya, dan membawa budaya Lamandau ke panggung dunia, membuktikan bahwa guru daerah pun bisa menjadi duta bangsa.
Kebijakan pemerintah yang mendorong pengajaran Bahasa Prancis di sekolah-sekolah Indonesia menimbulkan perdebatan. Ada yang menilai kebijakan ini terlalu ambisius, ada pula yang melihatnya sebagai peluang. Namun, bagi guru seperti Mahiang, kebijakan ini justru menjadi ruang aktualisasi. Ia sudah memiliki pengalaman dan kompetensi, sehingga dapat menjadi pionir dalam implementasi kebijakan tersebut di daerah. Di era globalisasi, penguasaan bahasa asing adalah kebutuhan. Namun, identitas lokal tidak boleh hilang. Ibu Mahiang sudah menulis buku berbahasa Dayak yang nantinya akan diterjemahkan ke Bahasa Indonesia dan Bahasa Prancis. Mahiang menunjukkan bahwa keduanya bisa berjalan beriringan: bahasa asing sebagai jembatan, budaya lokal sebagai fondasi.
Ke depan, tantangan yang dihadapi akan semakin kompleks. Digitalisasi pendidikan menuntut adaptasi teknologi agar pembelajaran Bahasa Prancis bisa dilakukan secara daring. Kebijakan kurikulum harus realistis, agar tidak menambah beban siswa dan guru. Yang lebih penting, pelestarian budaya harus terus diperjuangkan. Tantangan besar adalah menjaga agar budaya lokal tidak sekadar menjadi “hiasan” dalam pembelajaran, melainkan benar-benar dipahami dan dihargai siswa.
Pengabdian Mahiang adalah teladan nyata bahwa ASN bukan hanya pelayan administrasi, tetapi juga penggerak perubahan sosial dan budaya. Ia menghadapi keterbatasan fasilitas, motivasi siswa yang rendah, dan beban ganda ASN. Namun, semua itu tidak menghalanginya untuk menorehkan prestasi internasional dan memperkenalkan budaya Dayak ke dunia. ASN seperti Mahiang adalah fondasi penting bagi masa depan pendidikan dan diplomasi budaya Indonesia. Ia membuktikan bahwa dari Lamandau, dari sebuah ruang kelas sederhana, dari sebuah tempat yang jauh dekat perbatasan dengan Kalimantan Barat kita bisa mengharumkan nama tempat kita mengabdi.
