Konten dari Pengguna

Bikin Laper: Antara Konsistensi dan Inovasi

Davina Alda Fuadiyah

Davina Alda Fuadiyah

Saya adalah Mahasiswa Universitas Pamulang

·waktu baca 4 menit

google
Ikuti kumparan di Google
info
Jadikan kumparan sebagai preferensi terpercayamu di Google
comment
2
sosmed-whatsapp-white
copy-circle
more-vertical

Tulisan dari Davina Alda Fuadiyah tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

Menu makanan di brok m.  Sumber foto: dokumentasi pribadi
zoom-in-whitePerbesar
Menu makanan di brok m. Sumber foto: dokumentasi pribadi

Televisi masih menjadi salah satu media yang menyajikan berbagai informasi dan hiburan kepada masyarakat. Salah satu jenis program yang cukup banyak diminati adalah program kuliner. Melalui program tersebut, penonton dapat memperoleh informasi mengenai makanan, tempat makan, serta berbagai kuliner yang menarik.

Salah satu program kuliner yang tayang di Trans TV adalah Bikin Laper. Program ini membahas berbagai makanan, mulai dari kuliner Indonesia hingga makanan kekinian. Program ini juga mengandalkan host yang ekspresif dan menghibur untuk menambah daya tarik tayangan.

Namun, perkembangan media digital membuat konten kuliner semakin mudah ditemukan. Penonton sekarang dapat melihat berbagai rekomendasi makanan melalui TikTok, YouTube, Instagram, dan platform lainnya. Kondisi tersebut menjadi tantangan bagi program televisi untuk tetap menarik dan tidak monoton.

Oleh karena itu, masalah yang dapat dianalisis dari Bikin Laper adalah bagaimana program tersebut dapat mempertahankan daya tariknya di tengah persaingan konten kuliner. Analisis ini menggunakan Modul 5, yaitu Elemen Kunci Programming.

Analisis Berdasarkan Elemen Kunci Programming

1. Conflict (Konflik)

Konflik menjadi salah satu elemen yang dapat menciptakan dinamika dan menarik perhatian penonton. Konflik tidak selalu berbentuk pertengkaran, tetapi dapat berupa perbedaan pendapat atau benturan yang membuat sebuah tayangan menjadi lebih menarik.

Pada Bikin Laper, konflik dapat diterapkan melalui perbedaan selera antarhost atau tantangan yang berkaitan dengan makanan. Misalnya, host diberikan beberapa pilihan makanan untuk menentukan makanan yang paling disukai atau melakukan tantangan mencoba makanan dengan tingkat kepedasan berbeda.

Dengan cara tersebut, kegiatan mencicipi makanan tidak hanya menjadi aktivitas biasa, tetapi memiliki dinamika yang membuat penonton penasaran.

2. Durability (Daya Tahan)

Program yang ingin bertahan lama harus memiliki konsep yang menarik dan tidak mudah membosankan dari episode ke episode. Salah satu caranya adalah dengan menghadirkan variasi karakter dan cerita yang berbeda.

Bikin Laper memiliki peluang untuk mempertahankan daya tahannya karena kuliner Indonesia sangat beragam. Namun, tantangannya adalah menghindari pola tayangan yang terlalu berulang.

Program dapat mengeksplorasi lebih banyak jenis makanan, daerah, tempat makan, serta cerita di balik makanan agar setiap episode memiliki sesuatu yang berbeda.

3. Likeability

Likeability berkaitan dengan daya tarik pengisi acara. Wajah yang sudah familiar cenderung memberikan rasa akrab dan nyaman kepada penonton.

Dalam Bikin Laper, host menjadi salah satu bagian penting karena mereka berinteraksi langsung dengan makanan dan menyampaikan pengalaman kepada penonton. Karakter host yang ekspresif dan menghibur dapat membuat tayangan terasa lebih hidup.

Namun, karakter host juga dapat terus dikembangkan melalui interaksi, permainan, atau tantangan agar tidak hanya berfungsi sebagai orang yang mencicipi makanan.

4. Consistency (Konsistensi)

Menurut Modul 5, konsistensi dalam tema, karakter, dan tujuan program penting untuk menjaga ekspektasi penonton.

Bikin Laper perlu mempertahankan identitasnya sebagai program kuliner. Meskipun melakukan berbagai inovasi, program tetap harus memiliki hubungan yang kuat dengan makanan dan eksplorasi kuliner.

Dengan demikian, penonton tetap mengetahui karakter utama Bikin Laper meskipun bentuk penyajiannya mengalami perkembangan.

5. Innovation and Freshness

Program juga membutuhkan inovasi dan sesuatu yang baru agar penonton tidak merasa melihat hal yang sama secara terus-menerus. Inovasi tidak harus mengubah seluruh format program, tetapi dapat dilakukan melalui cara penyajian atau pengembangan konsep.

Misalnya, ketika Bikin Laper meliput tempat makan yang ramai seperti Kedai Penuh Nikmat, program tidak hanya menampilkan makanan dan reaksi host. Liputan dapat dikembangkan dengan membahas alasan tempat tersebut ramai, cerita pemilik usaha, keunikan menu, dan pengalaman pelanggan.

Dengan begitu, penonton tidak hanya mendapatkan informasi mengenai rasa makanan, tetapi juga cerita yang membuat tempat tersebut menarik.

6. Getting Crossover Viewers (Penonton Lintas Segmen)

Setiap program memiliki target audiens, tetapi program juga dapat menarik penonton dari kelompok lain di luar target utamanya. Hal tersebut disebut sebagai crossover viewers.

Bikin Laper dapat menarik penonton lintas segmen dengan mengangkat kuliner yang sedang ramai dibicarakan, makanan unik, kuliner daerah, maupun tren makanan yang muncul di media sosial.

Selain itu, potongan tayangan yang menarik dapat dikembangkan ke media sosial sehingga Bikin Laper tidak hanya bergantung pada penonton televisi, tetapi juga dapat menjangkau pengguna platform digital.

Solusi yang Tepat

Berdasarkan keenam elemen tersebut, Bikin Laper tidak perlu meninggalkan identitasnya sebagai program kuliner. Hal yang lebih penting adalah melakukan penyegaran terhadap cara penyajiannya.

Beberapa solusi yang dapat dilakukan adalah membuat segmen baru, memberikan tantangan kepada host, memperkuat storytelling mengenai pemilik dan makanan, serta mengeksplorasi lebih banyak kuliner lokal. Program juga dapat memanfaatkan media sosial untuk memperluas jangkauan penonton.

Dengan mempertahankan konsistensi sekaligus menghadirkan inovasi, Bikin Laper dapat memiliki variasi tanpa kehilangan ciri khasnya.