Konten dari Pengguna

Mukbang: Dulu Jadi Teman Makan, Sekarang Jadi Alasan Kerakusan

google
Ikuti kumparan di Google
info
Jadikan kumparan sebagai preferensi terpercayamu di Google
comment
0
sosmed-whatsapp-white
copy-circle
more-vertical

Tulisan dari Davina Isabel Sutanto tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

Mengonsumsi porsi yang berlebihan. Sumber foto: AI
zoom-in-whitePerbesar
Mengonsumsi porsi yang berlebihan. Sumber foto: AI

Konten mukbang di media sosial awalnya dikenal sebagai hiburan yang menemani seseorang saat makan di platform seperti Instagram maupun YouTube. Namun, seiring berkembangnya tren tersebut, mukbang tidak lagi sekadar menjadi “teman makan”, tetapi juga dapat berkaitan dengan kebiasaan konsumsi berlebihan. Tampilan makanan dalam jumlah besar, visual yang menggugah selera, suara saat menyantap makanan, serta tren makanan yang ditampilkan dapat mendorong penonton untuk ikut membeli atau mencoba makanan tersebut. Kondisi ini membuat mukbang menarik untuk dilihat lebih jauh, terutama mengenai bagaimana konten yang awalnya hanya ditujukan sebagai hiburan dapat memengaruhi keinginan dan kebiasaan konsumsi penontonnya.

Dokter spesialis gizi klinik, Dr.Dewi Susanti W, Sp.GK menyatakan bahwa mukbang yang dilakukan terus-menerus dengan porsi besar dan komposisi makanan yang tidak seimbang dapat berbahaya bagi kesehatan. Jika menjadi kebiasaan, pola makan tersebut dapat meningkatkan risiko obesitas, gangguan pencernaan, serta berbagai gangguan kesehatan serius lainnya, bahkan dapat meningkatkan risiko kematian.

Istilah mukbang berasal dari gabungan dua kata dalam bahasa Korea, yaitu meokneun (먹는) yang berarti “makan” dan bangsong (방송) yang berarti “siaran”. Fenomena ini mulai berkembang di Korea Selatan sekitar 2010 melalui platform streaming AfreecaTV. Pada masa tersebut, gaya hidup modern membuat cukup banyak masyarakat Korea Selatan tinggal sendiri dan terbiasa makan seorang diri. Mukbang kemudian hadir sebagai bentuk hiburan yang sekaligus memberikan sensasi kebersamaan bagi mereka yang makan sendirian, melalui tayangan seseorang yang menyantap makanan di depan kamera. Seiring popularitasnya meningkat, konsep mukbang pun mengalami perubahan dan semakin sering dikaitkan dengan penyajian makanan dalam jumlah besar sebagai daya tarik utama. Padahal, tubuh tetap memerlukan asupan energi dan zat gizi yang seimbang, seperti karbohidrat, protein, lemak, serat, vitamin, mineral, dan air sesuai dengan kebutuhan setiap individu. Di Indonesia, kebutuhan tersebut menjadi bagian dari Angka Kecukupan Gizi (AKG), yang menetapkan kebutuhan energi dan zat gizi berdasarkan kelompok masyarakat.

Berbeda dengan pola makan sehari-hari yang seharusnya menyesuaikan kebutuhan tubuh, konten mukbang saat ini kerap menampilkan makanan dalam porsi sangat besar, makanan tinggi energi, serta kombinasi makanan yang tidak selalu menggambarkan pola makan seimbang. Penelitian mengenai konten mukbang juga menemukan bahwa konsumsi berlebihan menjadi salah satu karakteristik yang sering digunakan dalam konten tersebut dan berkaitan dengan perhatian terhadap dampak pola makan.