Preloved, but It Was Once Loved

Mahasiswi aktif program studi Ilmu Komunikasi di Universitas Bunda Mulia
·waktu baca 2 menit
Tulisan dari Davina Isabel Sutanto tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

Barang preloved sering kali dianggap sebagai barang yang sudah tidak lagi digunakan karena ukurannya kekecilan, kondisinya masih layak tetapi sudah jarang dipakai, atau pemiliknya telah memiliki selera yang berbeda sejak pertama kali membelinya. Padahal, barang yang sudah tidak lagi dibutuhkan oleh seseorang belum tentu kehilangan nilainya bagi orang lain. Pakaian, mainan, hingga buku yang masih layak pakai dapat diberikan kepada mereka yang membutuhkan melalui kegiatan donasi. Hal ini menjadi salah satu cara untuk memperpanjang usia barang sekaligus memberikan manfaat baru bagi orang lain. Sebab, sesuatu yang sudah tidak lagi loved oleh pemilik lamanya belum tentu berhenti menjadi sesuatu yang lovely bagi pemilik berikutnya.
Co-founder Setali, Intan, mengatakan bahwa kesadaran mengenai prinsip sustainable fashion sebenarnya sudah tercermin dalam kebiasaan masyarakat Indonesia. Prinsip tersebut dapat diterapkan melalui beberapa cara, seperti memperbaiki pakaian untuk memperpanjang masa pakainya (repair) dan mengurangi kebiasaan membeli barang baru secara berlebihan (reduce). Selain itu, pakaian yang masih layak juga dapat digunakan kembali (reuse) atau dialihkan kepada pemilik baru melalui pembelian barang preloved dan thrifting (relove), sehingga pakaian tersebut tetap memiliki nilai dan tidak langsung menjadi limbah. Sementara itu, pakaian yang sudah tidak dapat digunakan sebagaimana mestinya masih dapat diolah melalui proses recycle, baik dengan mengubahnya menjadi produk lain (upcycle) maupun mengolahnya menjadi sesuatu dengan fungsi atau nilai yang berbeda (downcycle).
Salah satu cara yang dapat dilakukan adalah dengan mengikuti kegiatan donasi barang layak pakai. Masyarakat dapat menyumbangkan pakaian, mainan, buku, maupun barang lain yang kondisinya masih baik kepada komunitas, organisasi sosial, atau lembaga yang menyalurkan donasi kepada kelompok yang membutuhkan. Bagi sebagian orang, pakaian bekas mungkin hanya berarti barang yang sudah tidak sesuai ukuran atau selera. Namun, bagi penerima donasi yang kebutuhan pangan, sandang, dan papannya belum sepenuhnya terpenuhi, barang-barang tersebut dapat memiliki arti yang jauh lebih besar. Sebuah buku dapat menjadi kesempatan untuk belajar, mainan dapat menghadirkan ruang untuk bermain dan merasa senang, sementara pakaian dapat menjadi kebutuhan sehari-hari yang membantu seseorang menjalani aktivitas dengan lebih nyaman.
Setali Indonesia merupakan gerakan yang bergerak di bidang keberlanjutan dengan mengajak masyarakat memberikan kehidupan kedua bagi barang-barang yang sudah tidak lagi digunakan. Melalui kegiatan seperti pengumpulan dan penyaluran pakaian serta barang layak pakai, Setali berupaya memperpanjang masa guna barang sekaligus mendorong masyarakat untuk lebih bijak dalam mengonsumsi. Gagasan ini menunjukkan bahwa barang yang sudah tidak terpakai bagi seseorang masih dapat memiliki nilai dan manfaat bagi orang lain.
- Davina Isabel Sutanto, Mahasiswi aktif program studi Ilmu Komunikasi
