Konten dari Pengguna

September Ini, Saatnya Bicara: Kenapa Kesehatan Mental Tak Boleh Dinomorduakan

google
Ikuti kumparan di Google
info
Jadikan kumparan sebagai preferensi terpercayamu di Google
comment
0
sosmed-whatsapp-white
copy-circle
more-vertical

Tulisan dari Davina Isabel Sutanto tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

Konseling online secara daring, cukup lewat handphone (Sunber foto: shutterstock)
zoom-in-whitePerbesar
Konseling online secara daring, cukup lewat handphone (Sunber foto: shutterstock)

Ketika badan sakit, hampir semua orang tahu harus ke mana, minum obat, ke dokter, atau kalau parah langsung ke rumah sakit. Tapi ketika yang sakit adalah pikiran, banyak yang justru bingung harus berbuat apa, atau lebih sering lagi, memilih diam saja. Padahal keduanya, kesehatan fisik dan mental, sama-sama penting bagi kualitas hidup seseorang dan seharusnya tidak dipisahkan begitu saja. Kabar baiknya, jalur bantuan sebenarnya sudah tersedia sejak lama lewat call center darurat 119 yang sejak 1 Juli 2016 dilengkapi dengan ekstensi 8, dikenal sebagai Layanan Sehat Jiwa atau SEJIWA, dan bisa diakses siapa saja di seluruh Indonesia.

Namun ada satu hal penting yang perlu dipahami, begitu kondisi sudah masuk fase gawat darurat medis, jalurnya berubah, bukan lagi lewat ekstensi 8, melainkan langsung ke 119 seperti biasa, karena yang dibutuhkan saat itu adalah pertolongan medis segera, bukan sekadar percakapan.

Sayangnya, stigma dan minimnya literasi membuat banyak orang menunda mencari bantuan, dan angkanya berbicara sendiri. Kasus bunuh diri yang dilaporkan polisi terus naik tiga tahun beruntun, dari 1.332 kasus pada 2023, menjadi 1.403 kasus pada 2024, dan 1.503 kasus pada 2025. Kemenkes sendiri mengakui angka ini pun belum mencerminkan kondisi sebenarnya, sebab estimasi Institute for Health Metrics and Evaluation (IHME) pada 2023 saja sudah menyentuh 5.236 kasus.

Yang lebih mengejutkan, Kemenkes mencatat satu kasus bunuh diri bisa berdampak psikologis pada sekitar 30 orang di sekitarnya. Artinya, ini bukan sekadar persoalan satu individu, melainkan persoalan sosial yang menyentuh banyak pihak sekaligus, mulai dari keluarga, teman, sampai lingkungan terdekat.

Bukan Aib, Tapi Butuh Ruang untuk Bicara

Selama ini, kesehatan mental sering dianggap sebagai "urusan pribadi" yang bisa ditunda-tunda, berbeda jauh dengan sakit fisik yang langsung direspons cepat. Padahal keduanya berjalan beriringan, pikiran yang terus tertekan pada akhirnya bisa memengaruhi tubuh, begitu pula sebaliknya. Cara pandang semacam inilah yang coba diubah lewat peringatan Suicide Prevention Month yang jatuh setiap bulan September, sebuah momentum global untuk mengingatkan bahwa masalah kejiwaan bukan aib yang harus disembunyikan, melainkan kondisi yang butuh ruang untuk dibicarakan secara terbuka.

Sayangnya, budaya "baik-baik saja di depan orang lain" masih kuat mengakar di masyarakat Indonesia. Banyak yang memilih memendam sendiri ketimbang mencari bantuan, sampai akhirnya semuanya memburuk tanpa sempat ada yang menyadari.

Mengenal SEJIWA, Ruang Aman yang Sering Terlupakan

SEJIWA bukan layanan yang muncul begitu saja, melainkan hasil kolaborasi lintas lembaga sejak masa pandemi Covid-19, mulai dari Kantor Staf Presiden, Kementerian Kesehatan, Kementerian PPPA, Telkom, hingga Himpunan Psikologi Indonesia. Caranya sederhana: hubungi 119, pilih ekstensi 8, dan panggilan akan tersambung ke relawan psikolog yang siap mendengarkan tanpa menghakimi, gratis, rahasia, dan bisa diakses 24 jam oleh siapa saja, termasuk orang tua yang khawatir melihat perubahan sikap pada anaknya.

Namun perannya berhenti di dukungan psikologis awal, bukan penanganan medis darurat. Begitu kondisi sudah mengancam nyawa secara fisik, jalurnya berubah, langsung ke 119 tanpa ekstensi, agar pertolongan medis seperti ambulans bisa segera dikirim. Sayangnya, perbedaan kecil ini masih jarang dipahami, layanan seperti ini justru baru ramai dibicarakan setelah tragedi terjadi, bukan dikenal luas sejak awal sebagai langkah pencegahan.

Davina Isabel Sutanto, Mahasiswi aktif program studi Ilmu Komunikasi.