Konten dari Pengguna

Makna Hari Guru Nasional di Tengah Krisis Pendidikan: Apakah Guru Cukup Dihargai

Day Alvares Jull Polin Gulo
Mahasiswa Hukum Fakultas Hukum Universitas Katolik Santo Thomas
4 Desember 2025 14:24 WIB
·
waktu baca 4 menit
comment
0
sosmed-whatsapp-white
copy-circle
more-vertical
Kiriman Pengguna
Makna Hari Guru Nasional di Tengah Krisis Pendidikan: Apakah Guru Cukup Dihargai
Guru sangat penting bagi masa depan bangsa, namun kesejahteraan dan penghargaan terhadap mereka masih belum memadai.
Day Alvares Jull Polin Gulo
Tulisan dari Day Alvares Jull Polin Gulo tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan
ilustrasi guru dan murid (sumber : https://www.pexels.com)
zoom-in-whitePerbesar
ilustrasi guru dan murid (sumber : https://www.pexels.com)
ADVERTISEMENT
Setiap tahun, 25 November diperingati sebagai Hari Guru Nasional. Tema tahun ini, “Guru Hebat, Indonesia Kuat”, mengandung pesan optimistis bahwa kualitas pendidikan suatu bangsa tak akan pernah melampaui kualitas gurunya. Namun, ketika kita menengok kondisi pendidikan di lapangan, terasa ada jurang besar antara slogan yang digaungkan dan kenyataan sehari-hari. Pertanyaannya, apakah guru di Indonesia benar-benar sudah dihargai, ataukah hari ini hanya menjadi formalitas seremonial yang tidak menyentuh akar persoalan?
ADVERTISEMENT
Guru adalah pilar utama dalam pendidikan. Mereka bukan sekadar penyampai materi, tetapi pembentuk karakter, penggerak perubahan sosial, hingga penjaga masa depan generasi bangsa. Namun, selama bertahun-tahun, penghormatan terhadap guru di Indonesia sering berhenti pada ucapan terima kasih dan upacara peringatan. Sementara itu, tantangan yang mereka hadapi semakin berat: kurikulum yang terus berubah, beban administratif menumpuk, ketimpangan fasilitas, serta tekanan ekonomi yang masih menghimpit sebagian besar pendidik di daerah.
Fakta bahwa banyak guru honorer masih menerima gaji yang tidak layak menjadi ironi tersendiri. Di berbagai daerah, masih ada guru yang digaji jauh di bawah Upah Minimum Regional, sementara tugas dan tanggung jawab mereka sama beratnya dengan guru berstatus ASN. Tidak sedikit yang harus mencari pekerjaan sampingan untuk mencukupi kebutuhan keluarga. Kondisi ini tidak hanya menggerus kesejahteraan, tetapi juga memengaruhi motivasi dan fokus mereka dalam mengajar. Bagaimana mungkin kita berharap “Guru Hebat” lahir dari sistem yang bahkan belum menjamin kesejahteraan dasar mereka?
ADVERTISEMENT
Lebih jauh, masalah pemerataan kualitas pendidikan masih menjadi pekerjaan rumah yang tak kunjung selesai. Sekolah-sekolah di perkotaan cenderung memiliki akses lebih baik kepada teknologi, fasilitas pembelajaran modern, dan pelatihan guru. Di sisi lain, guru yang mengajar di pelosok sering berjuang dengan kondisi minim: ruang kelas yang rusak, kekurangan buku, jaringan internet terbatas, bahkan akses transportasi sulit. Padahal, mereka adalah garda terdepan dalam memastikan bahwa semua anak Indonesia, tanpa kecuali, mendapatkan hak pendidikan yang sama. Jika ketimpangan ini terus dibiarkan, tema “Indonesia Kuat” hanya akan menjadi jargon kosong.
Tidak hanya itu, beban administratif masih menjadi keluhan klasik. Banyak guru mengaku lebih sering menghabiskan waktu mengisi laporan, evaluasi, dan berbagai dokumen digital daripada melakukan refleksi pedagogis atau memperkaya metode pembelajaran. Mestinya, teknologi hadir untuk mempermudah, bukan memperberat. Administrasi memang penting, tetapi sistem yang memaksa guru menjadi “staf administrasi” ketimbang pendidik akan mengurangi kualitas interaksi mereka dengan siswa. Peningkatan kapasitas guru tidak cukup dengan pelatihan, tetapi harus disertai reformasi manajemen pekerjaan yang memberi ruang bagi guru untuk fokus pada inti tugasnya: mengajar.
ADVERTISEMENT
Di sisi lain, kita juga harus jujur bahwa sebagian masyarakat masih memandang profesi guru sebagai pekerjaan yang “seadanya”. Ketika guru berjuang meminta penghargaan dan kesejahteraan lebih baik, tidak jarang muncul komentar meremehkan. Padahal, negara-negara dengan pendidikan terbaik di dunia seperti Finlandia, Korea Selatan, dan Jepang menempatkan guru sebagai profesi bergengsi dengan standar tinggi, kompensasi memadai, dan kepercayaan penuh dari masyarakat. Mereka memahami bahwa guru adalah investasi jangka panjang, bukan biaya yang harus ditekan.
Namun, tentu saja tidak semua keluhan harus diarahkan ke pemerintah. Guru juga perlu terus beradaptasi dengan perkembangan zaman. Mengajar di era digital menuntut kreativitas, inovasi, dan kemampuan memanfaatkan teknologi secara efektif. Ada guru yang mampu bertransformasi dengan cepat, tetapi ada juga yang masih kesulitan mengikuti perubahan. Karena itu, pembinaan dan pelatihan berkelanjutan harus menjadi agenda prioritas, bukan program musiman. Selain itu, peran organisasi profesi dan komunitas pendidikan juga penting untuk memperkuat jejaring, berbagi praktik baik, serta meningkatkan solidaritas antarpendidik.
ADVERTISEMENT
Hari Guru Nasional mestinya menjadi momentum refleksi bersama secara serius. Bagi pemerintah, ini saatnya mengakselerasi perbaikan sistemik: mempercepat reformasi status guru honorer, memberikan penghargaan yang lebih layak, dan memperbaiki alokasi anggaran pendidikan agar benar-benar menyentuh kebutuhan nyata. Bagi sekolah, ini momentum memperkuat budaya apresiasi dan membangun lingkungan belajar yang lebih manusiawi. Bagi masyarakat, ini saatnya mengubah cara pandang: guru bukan pelengkap, melainkan fondasi masa depan anak-anak kita. Dan bagi guru sendiri, ini adalah pengingat bahwa profesi mereka tetap mulia, sekalipun sering tidak mudah dijalani.
Pada akhirnya, pertanyaan “Apakah guru cukup dihargai?” hanya bisa dijawab dengan melihat tindakan nyata, bukan sekadar slogan tahunan. Jika kita benar-benar ingin mewujudkan Indonesia yang kuat, maka menghargai guru bukan pilihan, melainkan keharusan. Menghargai bukan hanya melalui ucapan, tetapi melalui kebijakan, dukungan, dan perubahan sistem yang memungkinkan mereka bekerja secara bermartabat. Karena di tangan gurulah generasi penerus bangsa ditempa dan di pundak mereka masa depan Indonesia disandarkan.
ADVERTISEMENT
Hari Guru Nasional bukan sekadar perayaan, tetapi ajakan untuk bergerak bersama. Sudah saatnya kita membayar utang penghormatan kepada mereka yang telah lebih dulu berjuang: para guru, cahaya yang tak pernah padam dalam perjalanan panjang bangsa ini.