Cendera Mata Pembawa Petaka

Mahasiswa Pasca Sarjana Universitas Airlangga Surabaya
Konten dari Pengguna
9 Agustus 2022 19:57
·
waktu baca 4 menit
sosmed-whatsapp-whitecopy-link-circlemore-vertical
Tulisan dari Nurhidayatullah tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan
ADVERTISEMENT
Kita hidup di planet biru yang didominasi oleh lautan, dan Indonesia merupakan negara kepulauan terbesar di dunia yang terletak antara Samudra Hindia dan Pasifik. Dengan lebih dari 17.000 pulau Indonesia merupakan negara bahari, jadi seharusnya kita sepantasnya tahu tentang ciri utama dari negara kita, namun sayangnya kita lebih tahu tentang drakor dari pada keanekaragaman hayati di Indonesia.
ADVERTISEMENT

Seashells yang Menakjubkan

Salah satu kekayaan Indonesia dari laut yakni adalah seashells, seashells adalah cangkang luar yang kuat yang biasanya dibuat oleh molusca yang hidup di laut. Cangkang ini merupakan bagian dari tubuh hewan tersebut, yang akan tumbuh besar bersama penghuninya. Ketika penghuninya mati tubuh yang lain akan membusuk atau di makan oleh makhluk hidup lainnya, setelah itu cangkang tersebut akan mengendap di dasar laut atau terdampar ke tepi pantai.
Seashells bisa bertahan lama karena terbuat dari kalsium karbonat, cangkang moluska ini seperti eksoskeleton, sebab mereka tidak dibuat oleh sel melainkan dibuat oleh jaringan mantel yang mensrekresikan protein dan mineral secara extraseluler.
seashells dipantai by pixabay
zoom-in-whitePerbesar
seashells dipantai by pixabay
Pada beberapa spesies seringkali di temukan duri – duri atau struktur kasar dan tajam, bagaimana bentuk ini bisa terjadi masih dalam proses penelitian namun dugaan sementara mereka mengembangkan sebagai perlindungan terhadap predator. Di bagian dalam sangat licin yang berfungsi untuk melindungi tubuhnya yang lunak.
ADVERTISEMENT

Nilai Seashells bagi manusia

Sebelum adanya uang koin dan kertas manusia menggunakan seashells sebagai uang komoditas yang umum dikarenakan bentuknya yang unik dan bisa bertahan lama, alat tukar kerang ini biasanya berbentuk kerang utuh atau sebagian bahkan ditemukan dalam bentuk manik manik. Cangkang yang paling banyak ditemukan sebagai mata uang adalah cangkang Cyprea moneta.
Pada saat ini kerang banyak digunakan sebagai hiasan dinding ataupun gantungan kunci yang dijual di tempat wisata. Namun perlu di ketahui mengambil seasheels di laut dapat merusak ekosistem di laut. Dalam penelitian ekosistem pantai dan pesisir dunia, para peneliti menemukan bahwa pengambilan cangkang di laut dapat merusak ekosistem di laut salah satunya penurunan jumlah spesies yang membutuhkan seashells sebagai tempat berlindungnya salah satunya adalah kelomang.
ADVERTISEMENT
Menurut Michal Kowalewki pakar Paleobiologi “ sulit untuk tidak memandang manusia sebagai penyebab utama hilangnya keanekaragaman seashells di seluruh dunia. Dalam perbandingan studi, perbandingan keragaman seasheels pada daerah non wisata dan wisata membuktikan bahwa pengunjung wisata memiliki andil dalam mengurangi keragaman seashells di alam liar.
Seashells adalah bagian penting dari ekosistem pesisir, mereka menyediakan bahan sarang untuk burung di laut, menjadi rumah atau pijakan untuk alga, rumput laut dan spons. Ikan di laut menggunakannya untuk bersembunyi dari pemangsa. Dan kelomang menggunakannya untuk rumah. Selain itu hamparan cangkang seashells di pantai mampu mengurangi laju erosi di garis pantai.

Acidifikasi Air Laut

Kita tahu bahwa rumus kimia dari air adalah H2O yakni terdiri dari dua bagian unsur atom hydrogen dan oksigen namun kebanyakan air mengandung unsur lainnya contohnya garam maupun mineral mineral lainnya.
ADVERTISEMENT
Acidity adalah sifat keasamaan yang berada di air yang di mana keseimbangan dari kadar asam dapat mempengaruhi makhluk hidup di dalamnya, idealnya air laut dengan keadaan netral yakni dengan nilai Phnya adalah 8, namun dalam 100 tahun terakhir para ilmuwan menilai air laut menjadi 30 % lebih asam.
Hal ini terjadi sebagian besar akibat aktivitas manusia, seperti asap dari knalpot kendaraan dan kegiatan industry yang melepaskan zat CO2 di udara. Zat karbon dioksida yang berlebihan di udara akan turun ke laut yang membuat air laut menjadi asam. Dampak dari ini yakni menyebabkan kerang dan makhluk lainnya akan kesulitan dalam membuat cangkang karena terkikis oleh keasaman laut.
Lebih parahnya acidity pada laut dapat menyebabkan terumbu karang akan melemah hingga bleaching (pemutihan terumbu karang), padahal terumbu karang merupakan rumah penting bagi makhluk hidup. Kerusakan terumbu karang juga akan berdampak fatal bagi ekosistem laut. Satelit NASA di sebuah Orbiting Carbon Observatory mengumpulkan informasi tentang carbon dioksida di atmosfer ketika mengelilingi bumi, dan dari sini para ilmuwan menemukan hubungan antara karbondioksida dan perubahan keasaman laut,
ADVERTISEMENT
sebuah studi baru juga menemukan bahwa botol air laut yang 3 minggu di laut mengandung bakteri yang merugikan untuk air laut sehingga menciptakan kondisi yang memperparah pengasaman air laut. Dalam studi yang di terbitkan di journal Marine Polution Bulletin para ilmuwan menyimpulkan bahwa bakteri yang di temukan di sampah plastik khususnya botol plastik mengumpulkan bakteri dan mikro organisme berbahaya yang mudah berkembang di lingkungan yang kaya akan karbon dioksida. Bakteri organisme ini mengancam bakteri lain yang justru berguna mendaur ulang karbon dioksida di laut.

Kesimpulan

Seharusnya kita tahu dampak membuang sampah sembarangan karena akan berdampak besar bukan hanya di saat kita masih hidup namun nanti kelak di zaman anak cucu kita nanti. Dengan menahan diri tidak membuang sampah dan polusi lainnya kita sudah menghormati bumi dan makhluk hidup lainnya.
ADVERTISEMENT
Dari seashells kita belajar bahwa tidak selamanya kita harus membawa pulang sesuatu untuk dipajang, adakalanya sesuatu yang sangat berkesan cukup disimpan sebagai kenangan dalam ingatan, karena kenangan akan melekat dalam ingatan untuk waktu yang sangat panjang.
Baca Lainnya
Sedang memuat...
S
Sedang memuat...
·
Sedang memuat...
S
Sedang memuat...
·
Sedang memuat...
S
Sedang memuat...
·
Sedang memuat...
S
Sedang memuat...
comment0 01 April 2020
Sedang memuat...
S
Sedang memuat...
comment0 01 April 2020
Sedang memuat...
S
Sedang memuat...
comment0 01 April 2020
Sedang memuat...
S
Sedang memuat...
comment0 01 April 2020
Sedang memuat...
S
Sedang memuat...
comment0 01 April 2020