Saat Antibiotik Tidak Lagi Ampuh: Menelusuri Akar dan Solusinya

Saat ini mahasiswa semester 2 Jurusan Farmasi Universitas Islam Negeri Syarif Hidayatullah Jakarta
·waktu baca 6 menit
Tulisan dari Diana Lathifah tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

Antibiotik yang digunakan sebagai obat untuk mengatasi penyakit yang disebabkan oleh bakteri justru dapat menimbulkan resistensi terhadap bakteri itu sendiri. Banyak dari masyarakat yang sakit menggunakan antibiotik sebagai obat yang biasa mereka gunakan tanpa adanya konsultasi atau saran dari dokter. Hal ini merupakan pemikiran yang salah, sebab tanpa mereka ketahui penggunaan antibiotik yang kurang tepat akan menyebabkan resistensi bakteri terhadap antibiotik. Pemakaian antibiotik yang menyebabkan dampak resistensi adalah pemakaian antibiotik yang tidak rasional. Resistensi terjadi saat bakteri secara genetik mengembangkan kemampuan dalam menginfeksi tubuh. Bakteri akan menjadi kurang peka terhadap antibiotik yang pernah digunakan, sehingga dibutuhkan antibiotik yang lebih efektif untuk membunuh atau menghambat bakteri yang sudah memperkuat diri secara genetik tersebut. Fenomena resistensi akibat pemakaian antibiotik yang kurang rasional salah satunya disebabkan oleh penggunaan yang tidak sesuai dengan kondisi klinis pasien dan penggunaan tanpa resep dokter (Hugo et al, 2004; Ihsan et al, 2016).
Apa itu antibiotik bagaimana terjadi resistensi?
Antibiotik merupakan senyawa kimia yang dihasikan oleh mikroorganisme dan memiliki efek mematikan atau menghambat pertumbuhan dari bakteri patogen. Terdapat dua tipe antibiotik, yaitu antibakteri dengan aktivitas menghambat (bakteriostatik) dan antibakteri dengan aktivitas membunuh (bakterisidal). Sedangkan, berdasarkan mekanisme kerjanya, antibiotik dikelompokkan menjadi lima, yaitu dengan memecah enzim dinding sel dan mengambat enzim, mengganggu sintesis protein, mengubah permeabilitas membran sel, menghambat sintesa asam folat, dan menganggu sintesis DNA. Sementara itu, resistensi dipahami sebagai kurangnya efek antibiotik terhadap bakteri, dengan kata lain, antibiotik tidak mampu menghambat atau membunuh bakteri patogen target. Penyebab utama munculnya resistensi ini adalah karena adanya mutasi atau transfer gen dengan spesies yang sama sehingga bakteri memperoleh gen resisten. Gen resisten itu didapat dari bakteri yang sebelumnya menginfeksi inang, dalam hal ini adalah manusia, dan telah mengenali senyawa antibiotik tersebut sehingga dapat membuat gen resisten yang tahan terhadap aktivitas senyawa antibakteri. Dari gen resisten tersebut, bakteri dapat mengenali senyawa antibiotik dan melakukan modifikasi pada sistem kekebalannya sehingga efek antibiotik tersebut tidak berfungsi (Anggita et al, 2022; Pratiwi, 2017; Wulandari et al, 2022)
Faktor penyebab resistensi terkait pola penggunaan
Resistensi didapat dari mutasi yang diturunkan secara genetic atau transfer gen dengan spesies yang sama sehingga diperoleh gen resisten. Gen resisten tersebut didapat bakteri karena pemakaian antibiotik yang kurang rasional. Menurut Mahbub et al (2016), Peningkatan angka resistensi bakteri terhadap antibiotik dapat terjadi karena kurangnya edukasi kepada masyarakat sehingga masyarakat tidak mengetahui bagaimana penggunaan antibiotik yang rasional. Faktor ini menyebabkan banyaknya masyarakat yang melakukan pemakaian antibiotik yang kurang tepat. Selain itu, perilaku kesadaran untuk menjaga kesehatan yang kurang juga menjadi faktor dalam peningkatan angka resistensi antibiotik. Kemudian, adanya swamedikasi yang dilakukan oleh sebagian masyarakat Indonesia yang didasarkan pada hasil yang memuaskan dari pengalaman sebelumnya atau pengalaman orang yang dikenal. Swamedikasi sendiri merupakan pengobatan yang dilakukan diri sendiri dengan membeli obat obatan yang tersedia di apotek tanpa adanya saran dari dokter (Ihsan et al, 2016; Pratiwi, 2020; Yulia et al, 2022).
Dampak penggunaan tidak rasional terhadap antibiotik
Dampak utama penggunaan yang tidak rasional terhadap antibiotik adalah munculnya resistensi bakteri. Namun, dampak selanjutnya dari resistensi bakteri tersebut adalah munculnya bakteri dengan resistensi yang besar sehingga tidak dapat dihambat atau dimatikan menggunakan antibiotik mana pun. Dengan resistensi tersebut, antibiotik yang ada tidak memiliki pengaruh apa pun sehingga dianggap tidak efektif. Oleh karena itu, dibutuhkan pengembangan untuk membuat antibiotik yang lebih kuat untuk membunuh bakteri yang memiliki resistensi. Namun, selama masih ada mutasi atau transfer gen antar spesies yang sama, maka dibutuhkan pengembangan antibiotik untuk menghambat dan membunuh bakteri resisten. Pola ini akan terus berulang selama masih adanya kemungkinan bakteri mengalami resistensi, terutama akibat penggunaan antibiotik yang kurang tepat. Selain itu, infeksi oleh bakteri resisten menyebabkan penyembuhan yang harus dilakukan menjadi sulit diobati dan akan berpengaruh terhadap biaya pelayanan yang ditanggung oleh pasien (Desrini, 2015).
Solusi dan pendekatan pengendalian
Solusi paling utama dalam pengendalian penggunaan antibiotik di masyarakat adalah edukasi terkait penggunaan obat antibiotik karena masyarakat masih memiliki pengetahuan yang kurang terkait dampak penggunaan antibiotik yang kurang tepat. Edukasi dapat dilakukan secara langsung atau pun berbasis digital dengan video edukasi menarik di sosial media. Masyarakat tidak boleh menganggap sepele penggunaan antibiotik, karena ada dampak buruk yang besar akibat menyepelekan masalah tersebut. Selain itu, perlu adanya pengendalian yang dilakukan oleh tenaga kesehatan sendiri, khususnya farmasis. Masyarakat yang melakukan swamedikasi menggunakan antibiotik dapat dicegah apabila terdapat tindakan tegas dari apoteker yang harus melakukan pembelian obat antibiotik menggunakan resep dokter. Seorang apoteker juga harus menjelaskan penggunaan antibiotik sampai habis sesuai yang diresepkan agar mencegah terjadinya resistensi antibiotik (Aniyah et al, 2025; Yuliana et al, 2024).
DAFTAR PUSTAKA
Anggita, D., Nurisyah, S., & Wiriansya, E. P. (2022). Mekanisme kerja antibiotik. UMI Medical Journal, 7(1), 46-58.
Aniyah, A. A. N., Wulandari, S., & Rangkuty, S. M. (2025). DAMPAK DAN SOLUSI RESISTENSI ANTIBIOTIK DALAM DUNIA MEDIA. Jurnal Kesehatan dan Teknologi Medis (JKTM), 7(2).
Buamona, R. A. (2023). Studi Penggunaan Antibiotik Non Resep di Kecamatan Malalayang Kota Manado. PHARMACON, 12(2), 215-222.
Desrini, S. (2015). Resistensi antibiotik, akankah dapat dikendalikan?. JKKI: Jurnal Kedokteran dan Kesehatan Indonesia, i-iii.
Hugo, W. B., Denyer, S. P., Hodges, N. A., & Gorman, S. P. (Ed.). (2004). Hugo and Russell’s pharmaceutical microbiology (7th ed). Blackwell Science.
Ihsan, S., Kartina, K., & Akib, N. I. (2016). Studi penggunaan antibiotik non resep di Apotek Komunitas Kota Kendari. Media Farmasi, 13(2), 272-284.
Mahbub, K., Anhar, M., Kartika, D., Tsuroya, A., & Putri, E. O. (2023). Edukasi Penggunaan Antibiotik Untuk Mencegah Resiko Resistensi di Desa Bebel, Kabupaten
Pekalongan. Jurnal Pengabdian Masyarakat Farmasi: Pharmacare Society, 2(2), 83-89. https://doi.org/10.37905/phar.soc.v2i2.19132
Pratiwi, A. I., Wiyono, W. I., & Jayanto, I. (2020). Pengetahuan dan penggunaan antibiotik secara swamedikasi pada masyarakat Kota. Jurnal Biomedik: JBM, 12(3), 176-185. https://doi.org/10.35790/jbm.12.3.2020.31492
Pratiwi, R. H. (2017). Mekanisme pertahanan bakteri patogen terhadap antibiotik. Jurnal pro life, 4(3), 418-429.
Wulandari, A., & Rahmawardany, C. Y. (2022). Perilaku penggunaan antibiotik di masyarakat. Sainstech Farma: Jurnal Ilmu Kefarmasian, 15(1), 9-16.
Yulia, M., Parsono, R., & Armal, K. (2022). Perilaku Penggunaan Antibiotik Tanpa Resep Di Apotek X Di Kota Payakumbuh Sumatera Barat. Jurnal Riset Kefarmasian Indonesia, 4(3), 397-413. https://doi.org/10.33759/jrki.v4i3.264
Yuliana, A., Shaleha, R. R., Pebiansyah, A., Rahmiyani, I., Amin, S., Hidayat, T., & Alifiar, I. (2024). PENYULUHAN PENCEGAHAN RESISTENSI ANTIBIOTIK PADA
TENAGA TEKNIS KEFARMASIAN. JMM (Jurnal Masyarakat Mandiri), 8(1), 1453-1460. https://doi.org/10.31764/jmm.v8i1.20841
Diana Lathifah
Mahasiswa program studi farmasi Universitas Islam Negeri Syarif Hidayatullah Jakarta
