Kenapa Brand Sering Ciptakan Persona Fiktif? Strategi atau Gimmick?

Kontributor opini ringan, berbagi sudut pandang atas isu yang dekat dengan keseharian
·waktu baca 3 menit
Tulisan dari Dewi Husna tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

Beberapa waktu lalu, warganet Indonesia ramai memperbincangkan “Kak Rani”, sosok fiktif yang dikenal sebagai admin media sosial dari brand minuman Es Teh Indonesia. Karakter ini bukan sekadar membalas komentar konsumen, melainkan membangun persona yang centil, akrab, dan bahkan menghibur. Meskipun bukan sosok nyata, Kak Rani terasa seperti seseorang yang benar-benar hadir dan hidup di tengah para pengikutnya.
Contoh lain datang dari “Bu Tejo”, karakter dalam film pendek Tilik yang kini menjadi wajah promosi dari produk diet WRP. Meskipun keduanya tokoh fiktif, keduanya berhasil menciptakan hubungan yang akrab dengan konsumen sehingga terasa seperti sosok nyata.
Tren ini ternyata semakin meluas. Beberapa brand lain turut menghadirkan “admin persona” dengan gaya bicara khas. Ada yang terkesan akrab, ada pula yang menyindir dengan humor, bahkan terasa seperti sahabat dekat. Di TikTok, tidak sedikit UMKM juga menciptakan persona lucu untuk mempromosikan produknya. Tujuan utamanya sama, yakni menjadikan brand terasa lebih hidup dan dekat dengan konsumen.
Mengapa Persona Fiktif Brand Jadi Strategi Populer?
Survei Populix (2023) menunjukkan bahwa 70% anak muda Indonesia lebih menyukai brand yang berinteraksi dengan gaya kasual. Hal ini sejalan dengan tren global yang mencatat meningkatnya ketertarikan konsumen terhadap brand yang mampu menjalin interaksi secara personal. Konsumen masa kini tidak hanya membeli produk, tetapi juga menginginkan hubungan yang terasa nyata dengan brand yang mereka dukung.
Seperti yang dijelaskan oleh pakar pemasaran Philip Kotler, "A brand is not just a product, it is the total experience that it provides to the customer, including emotional associations." Artinya, brand bukan hanya soal barang yang dijual, tapi juga persepsi dan keterikatan emosional yang dibangun bersama konsumen. Dalam konteks ini, persona fiktif menjadi salah satu cara efektif menciptakan pengalaman emosional itu.
Strategi Efektif Membangun Persona Fiktif Brand
Secara strategi, persona fiktif dapat menjadi alat yang efektif untuk membuat brand lebih mudah dikenali dan meningkatkan keterlibatan audiens terutama jika karakter yang dibangun konsisten dan relevan. Katadata Insight (2023) mencatat brand yang aktif berinteraksi dengan gaya unik di media sosial bisa meningkatkan engagement hingga 40%.
Namun, tidak semua strategi penggunaan persona fiktif menghasilkan dampak positif. Jika karakter yang dibentuk terkesan tidak autentik atau bertentangan dengan identitas produk. Misalnya, brand yang terlalu fokus membuat konten lucu tapi mengabaikan keluhan pelanggan membuat kepercayaan konsumen bisa menurun.
Fenomena ini menunjukkan bahwa sekuat apa pun karakter persona yang dibangun, hal itu tidak akan berarti jika tidak didukung oleh nilai utama brand yang konsisten. Generasi muda, terutama Gen Z, kini semakin kritis dalam menilai bukan hanya gaya komunikasi, tetapi juga bagaimana brand merespons kritik, berinovasi, dan menjalankan tanggung jawab sosial.
Persona fiktif dapat menjadi strategi komunikasi yang efektif asal dikelola dengan cermat. Keberhasilan pendekatan ini bergantung pada konsistensi karakter, kesesuaian dengan nilai brand, serta kemampuan untuk merespons konsumen secara empatik dan manusiawi. Ketika semua elemen ini terpenuhi, persona bukan lagi sekadar tokoh rekaan, melainkan jembatan yang mempererat hubungan antara brand dan konsumennya.
Lalu, apakah persona fiktif benar-benar efektif atau hanya gimmick semata? Jawabannya bergantung pada bagaimana brand memaknainya. Jika diciptakan sekadar demi sensasi, hasilnya kemungkinan hanya akan bersifat sementara. Namun jika dibangun dari pemahaman yang mendalam terhadap audiens, persona justru bisa menjadi suara yang menghidupkan brand bukan sekadar topeng sementara.
