Konten dari Pengguna

Kuliah Sambil Bekerja: Pilihan Realistis Mahasiswa Saat Ini

google
Ikuti kumparan di Google
info
Jadikan kumparan sebagai preferensi terpercayamu di Google
comment
0
sosmed-whatsapp-white
copy-circle
more-vertical

Tulisan dari Dea Arlia Agustina tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

sumber : foto pribadi (kampus UNPAM VIKTOR)
zoom-in-whitePerbesar
sumber : foto pribadi (kampus UNPAM VIKTOR)

Di tengah biaya pendidikan dan kebutuhan hidup yang terus meningkat, kuliah sambil bekerja kini menjadi pilihan realistis bagi banyak mahasiswa. Bagi sebagian orang, keputusan ini bukan lagi soal ambisi untuk mencuri start mencari pengalaman kerja lebih cepat, melainkan sebuah keharusan agar roda pendidikan tetap bisa berputar. Memilih perguruan tinggi dengan biaya terjangkau serta sistem perkuliahan yang fleksibel akhirnya menjadi strategi utama agar kuliah tidak harus berhenti di tengah jalan.

Sebagai salah satu mahasiswa di Universitas Pamulang (UNPAM), saya merasakan betul bagaimana atmosfer perjuangan ini setiap harinya. Dengan fasilitas Gedung Viktor yang modern namun tetap ramah di kantong, kampus ini telah menjadi rumah sekaligus saksi bisu bagi ribuan mahasiswa seperti saya, mereka yang memilih berjuang membagi waktu antara shift kerja dan jam kuliah demi masa depan yang lebih baik.

Tamparan Realitas: Waktu dan Energi yang Terkuras

Namun, romantisasi kuliah sambil bekerja tidak selalu seindah kenyatannya. Realitas di lapangan justru kerap berjalan penuh lika-liku. Tantangan terbesar yang setiap hari menghadang adalah keterbatasan waktu dan energi.

Ketika beban pekerjaan sedang padat, tugas-tugas perkuliahan terpaksa harus mengalah dan tertunda. Skenario kepulangan setelah seharian bekerja pun sering kali tidak berujung pada istirahat. Dalam kondisi fisik yang lelah, mahasiswa dipaksa memeras sisa-sisa fokus demi menyelesaikan tugas akademik, meski tubuh dan pikiran mereka sebenarnya sudah menjerit meminta haknya untuk tidur.

Tuntutan Akademik yang "Tutup Mata"

Situasi pelik ini sayangnya sering kali tidak terlihat dari luar. Di ruang kelas, mahasiswa yang bekerja tetap dituntut untuk memenuhi standar akademik yang sama persis dengan mahasiswa reguler. Sistem seolah menutup mata dan menganggap kondisi hidup semua mahasiswa itu seragam.

Padahal, kelelahan fisik dan mental (burnout) sudah menjadi bagian dari keseharian yang jarang dibicarakan di bangku kuliah. Meski begitu, di tengah gempuran rasa lelah tersebut, banyak mahasiswa yang memilih tetap bertahan demi satu tujuan: menyelesaikan pendidikan dan memperoleh gelar yang layak.

Strategi Bertahan Saat Kuliah Sambil Bekerja.

Agar perjuangan ini tidak berakhir dengan putus asa atau drop out, ada beberapa strategi realistis yang bisa diterapkan:

  • Komunikasi Terbuka: Jangan ragu mengomunikasikan kondisi kerja kepada dosen jika ada kendala mendesak, atau sebaliknya, komunikasikan jadwal ujian kepada atasan di tempat kerja jauh-jauh hari.

  • Pemanfaatan Slot Waktu Mikro: Manfaatkan waktu-waktu kecil, seperti saat di perjalanan atau jam istirahat kerja, untuk sekadar membaca materi atau mencatat poin penting tugas.

  • Maksimalkan Fleksibilitas Kampus: Memilih sistem shift kuliah yang tepat di UNPAM adalah kunci utama agar kedua dunia—profesional dan akademis—bisa berjalan beriringan tanpa harus mengorbankan salah satunya.

Menemukan Makna di Tengah Keterbatasan

Pada akhirnya, kuliah sambil bekerja bukan sekadar soal kuat atau tidaknya seseorang menjalani dua peran sekaligus. Ini tentang bagaimana seseorang bertahan di tengah keterbatasan dan berani mengambil pilihan hidup yang paling mungkin dilakukan.

Pendidikan memang tidak selalu bisa dijalani dalam kondisi yang ideal. Namun, bagi banyak mahasiswa, perjuangan berdarah-darah inilah yang justru memberi makna mendalam pada proses belajar itu sendiri. Mereka tidak hanya lulus membawa ijazah, tetapi juga mental baja yang sudah teruji oleh kerasnya realitas kehidupan.