Interferensi Bahasa dalam Percakapan Sehari-hari

Mahasiswa Sastra Indonesia Universitas Pamulang
·waktu baca 2 menit
Tulisan dari Dea Novianti tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

Interferensi bahasa bisa dikatakan sebagai kekacauan bahasa, yang mana banyak sekali pelaku tindak tutur yang masih melakukan kesalahan ini. Kekacauan bahasa ini bisa terjadi di susunan kalimat seperti sintaksis, pelafalan kata, susunan kata, maupun kekacauan pada makna.
Biasanya interferensi terjadi dikegiatan tindak tutur sehari-hari dan non-formal. Seperti percakapan sehari-hari dengan teman maupun keluarga. Apalagi terjadinya tindak tutur ini di dalam sebuah percakapan di media sosial. Karena tidak ingin mengetik terlalu panjang, biasanya pengguna akan menggunakan bahasa alternatif yaitu menyingkat sebuah kata atau menggunakan kata yang tidak baku.
Biasanya yang mempengaruhi terjadinya sebuah interferensi adalah lingkungan dan juga pengguna yang dwibahasa. Karena mereka akan mencampurkan dialek bahasa lain terhadap bahasa Indonesia yang ia gunakan. Sehingga sering terjadi susunan kalimat yang tidak sesuai dengan kaidah bahasa Indonesia.
Saat ini banyak masyarakat yang tidak tahu bahwa terjadi sebuah kekacauan dari bahasa yang mereka gunakan. Bahkan mereka merasa kata-kata yang mereka ucapkan adalah benar. Mereka tidak tahu kata baku itu seperti apa dan bagaimana susunan kalimat yang benar.
Banyak masyarakat yang melakukan pengurangan huruf atau mengubah huruf pada sebuah kata. Bahkan itu sudah menjadi sebuah kebiasaan. Seperti beberapa contoh ini:
1. Ga kerasa 1 tahun ngomong gini, sampe sekarang belum mulai.
Kalimat diatas terjadi pengurangan huruf pada kata "ga" yang merupakan dari kata "engga (tidak baku)" dan berasal dari kata " tidak (baku)". Lalu pada kata "gini" yang berasal dari kata "begini (tidak baku)" yang berawal dari kata " seperti ini (baku)".
Lalu terjadi perubahan huruf pada kata "sampe" yang seharusnya adalah "sampai". Lalu terjadi juga pada kata "kerasa" yang seharusnya adalah "terasa". Kalimat diatas memiliki banyak kekacauan dalam susunan kalimat.
2. Ngga sengaja denger ada yang bertanya sama ibuku kenapa aku belum nikah.
Pada kalimat diatas terjadi kekacauan bahasa pada kata " ngga" yang merupakan kata tidak baku yang seharusnya adalah "tidak". Dan mengubah huruf pada kata " denger" yang seharusnya adalah "dengar".
Dari contoh diatas kita bisa melihat bahwa bahasa yang sering kita gunakan sehari-hari memiliki banyak kekacauan. Mungkin hal itu menjadi biasa saja saat digunakan di kegiatan non-formal. Tapi kekacauan bahasa sangat fatal jika digunakan di kegiatan formal seperti di lingkungan pendidikan. Kita sebagai masyarakat Indonesia seharusnya sadar akan kekacauan ini dan belajar menggunakan bahasa Indonesia yang baik juga benar.
