LDKO HMSI UNPAM: Ketika Organisasi Menjadi Ruang Belajar Kepemimpinan

Information Systems student at Universitas Pamulang, writing about anxiety, social media, and the perpectives of the younger generation.
·waktu baca 4 menit
Tulisan dari Dea Nurfadilah tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

Bagi sebagian mahasiswa, organisasi mungkin hanya dianggap sebagai tempat untuk berkegiatan di luar perkuliahan. Padahal, jika dijalani dengan serius, organisasi bisa menjadi salah satu ruang belajar yang cukup besar. Di sana mahasiswa tidak hanya belajar menjalankan sebuah program, tetapi juga belajar berkomunikasi, bekerja sama, menghadapi perbedaan, mengambil keputusan, hingga bertanggung jawab atas pilihan yang dibuat.
Hal tersebut menjadi salah satu hal yang saya lihat dalam pelaksanaan Latihan Dasar Kepemimpinan Organisasi (LDKO) HMSI Universitas Pamulang kampus Viktor. Sebagai agenda tahunan Himpunan Mahasiswa Sistem Informasi (HMSI), LDKO bukan hanya menjadi kegiatan yang berulang setiap tahun, tetapi juga menjadi bagian dari proses membentuk dan mempersiapkan anggota untuk melanjutkan perjalanan organisasi.
Tahun ini, LDKO HMSI mengangkat tema “Terbinanya Anggota HMSI yang Berkualitas Akademis serta Membentuk Pemimpin yang Berkarakter untuk Terwujudnya Tri Dharma Perguruan Tinggi.” Menurut saya, tema tersebut cukup menggambarkan tantangan yang dihadapi mahasiswa saat ini.
Mahasiswa dituntut untuk memiliki kemampuan akademik yang baik, tetapi pada saat yang sama juga perlu memiliki kemampuan untuk berinteraksi dan berkontribusi di lingkungan sosial. Memiliki nilai yang bagus tentu penting, tetapi kemampuan bekerja dalam tim, menyampaikan pendapat, menghargai orang lain, dan bertanggung jawab juga merupakan bekal yang tidak kalah penting.
Di sinilah organisasi memiliki perannya sendiri.
Melalui LDKO, mahasiswa diberikan kesempatan untuk mengenal lebih jauh bagaimana sebuah organisasi berjalan dan bagaimana seseorang seharusnya menempatkan dirinya di dalam sebuah kelompok. Menjadi bagian dari organisasi berarti siap untuk mendengarkan pendapat orang lain, menerima kritik, menyelesaikan persoalan bersama, dan terkadang mengesampingkan kepentingan pribadi demi tujuan yang lebih besar.
Menurut saya, proses seperti inilah yang sering kali tidak kita dapatkan secara langsung hanya dari kegiatan perkuliahan.
Berbicara tentang kepemimpinan juga tidak seharusnya selalu dikaitkan dengan jabatan. Seseorang tidak otomatis menjadi pemimpin hanya karena memiliki posisi tertentu dalam organisasi. Kepemimpinan justru terlihat dari bagaimana seseorang bersikap ketika diberikan tanggung jawab.
Seorang pemimpin harus mampu mengambil keputusan, tetapi juga harus bersedia mendengarkan. Harus memiliki keyakinan terhadap keputusan yang diambil, tetapi tetap terbuka terhadap masukan. Dan yang paling penting, mampu bertanggung jawab ketika sesuatu tidak berjalan sesuai dengan harapan.
Karakter seperti itu tentu tidak terbentuk dalam satu malam.
Karena itu, saya melihat LDKO sebagai salah satu tahapan awal yang cukup penting dalam proses tersebut. Kegiatan ini memberikan ruang bagi anggota untuk belajar mengenal dirinya sendiri sekaligus belajar memahami orang lain. Ada proses membangun kedisiplinan, kekompakan, rasa percaya, dan keberanian untuk keluar dari zona nyaman.
Hal lain yang menurut saya menarik dari tema LDKO tahun ini adalah keterkaitannya dengan Tri Dharma Perguruan Tinggi. Sebagai mahasiswa, kita tidak hanya memiliki tanggung jawab untuk belajar. Ada pula penelitian dan pengembangan, serta pengabdian kepada masyarakat yang menjadi bagian dari peran mahasiswa di perguruan tinggi.
Artinya, kemampuan yang kita miliki seharusnya tidak berhenti untuk kepentingan diri sendiri. Pengetahuan dan pengalaman yang diperoleh selama menjadi mahasiswa juga perlu diarahkan agar dapat memberikan manfaat bagi lingkungan sekitar.
Dalam konteks tersebut, organisasi mahasiswa dapat menjadi tempat yang cukup baik untuk belajar menerapkan nilai-nilai tersebut. Mahasiswa bisa belajar mengelola kegiatan, menyelesaikan persoalan, bekerja bersama orang lain, sekaligus membangun kepedulian terhadap lingkungan.
LDKO sebagai agenda tahunan HMSI juga memiliki arti penting dari sisi regenerasi. Sebuah organisasi tentu tidak bisa terus berjalan hanya dengan orang-orang yang sama. Akan selalu ada masa ketika kepengurusan berganti dan tanggung jawab harus diteruskan kepada generasi berikutnya.
Namun, regenerasi menurut saya bukan sekadar mencari siapa yang akan menggantikan posisi tertentu. Lebih dari itu, regenerasi adalah tentang mempersiapkan orang-orang yang mampu membawa nilai dan tujuan organisasi tetap berjalan, bahkan ketika orang-orang di dalamnya sudah berganti.
Dari situlah LDKO menjadi lebih dari sekadar sebuah kegiatan tahunan.
Ada harapan agar anggota HMSI yang mengikuti proses ini nantinya mampu menjadi pribadi yang lebih percaya diri, bertanggung jawab, dan memiliki karakter dalam menjalankan perannya. Tidak harus langsung menjadi pemimpin besar, tetapi setidaknya mampu memimpin dirinya sendiri sebelum dipercaya untuk memimpin orang lain.
Pada akhirnya, menurut saya, keberhasilan sebuah LDKO tidak hanya dapat dilihat dari seberapa meriah kegiatannya atau seberapa banyak materi yang disampaikan. Hal yang lebih penting adalah apa yang dibawa pulang oleh setiap peserta setelah kegiatan selesai.
Apakah mereka menjadi lebih berani untuk bertanggung jawab? Apakah mereka menjadi lebih mampu bekerja sama? Apakah mereka mulai memahami bahwa menjadi pemimpin bukan tentang mendapatkan kekuasaan, tetapi tentang kesediaan untuk memberikan waktu, tenaga, dan pikiran bagi orang lain?
Jika hal-hal tersebut mulai tumbuh dalam diri anggota, maka LDKO telah memberikan makna yang lebih besar daripada sekadar memenuhi agenda tahunan organisasi.
Sebab pada akhirnya, organisasi bukan hanya tempat untuk mencari pengalaman, dan kepemimpinan bukan sekadar tentang memimpin orang lain. Keduanya adalah proses untuk membentuk manusia agar mampu belajar, bertanggung jawab, menghargai sesama, dan memberikan manfaat bagi lingkungan di sekitarnya.
