Konten dari Pengguna

Misi Diplomasi Galang Mitra di Papua Nugini, Dapat Keluarga

Dea Pradana

Dea Pradana

Peserta Diklat Sekolah Staf Dinas Luar Negeri Angkatan ke-75, Kementerian Luar Negeri RI

comment
0
sosmed-whatsapp-white
copy-circle
more-vertical

Tulisan dari Dea Pradana tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

Berbeda 180 derajat dengan berbagai info horor yang ada di jagat maya mengenai situasi Papua Nugini, pengalaman saya berdiplomasi di Port Moresby (Ibukota Papua Nugini) selama 4 setengah tahun justru menjadi sebuah cerita yang penuh kebahagiaan. Agar kamu bisa ikut bahagia, baca sampai akhir ya.

Pengalaman hidup di Papua Nugini tersebut merupakan bagian dari perjalanan karir saya sebagai ASN di Kementerian Luar Negeri dengan jabatan fungsional diplomat. Betul sekali, sebagai seorang diplomat Indonesia.

Ketika saya diberangkatkan ke Papua Nugini, saya ditugaskan menangani fungsi Penerangan, Sosial dan Budaya (Pensosbud) di Kedutaan Besar Republik Indonesia (KBRI). Misi utama yang diberikan bagi saya adalah meningkatkan citra positif Indonesia di mata masyarakat Papua Nugini.

Dalam menjalankan misi tersebut, hampir 70 persen dari program dan kegiatan yang saya laksanakan berkaitan dengan masyarakat Papua Nugini sebagai mitra utama. Karena itu, hubungan baik dan komunikasi yang terbuka kepada mitra kerja merupakan aspek penting dalam kesuksesan misi yang diemban.

Adanya perbedaan kondisi sosial di Papua Nugini jika dibandingkan dengan Indonesia, menuntut kemampuan adaptasi serta pemahaman yang baik agar kita dapat diterima oleh komunitas setempat. Dalam setiap kesempatan saya selalu menempatkan para mitra kerja sebagai rekan yang setara serta mengedepankan prinsip menghormati mereka sebagai tuan rumah di negerinya sendiri.

Saya cukup senang bahwa apa yang saya lakukan telah memperluas kemitraan dengan berbagai pihak di Papua Nugini. Namun demikian saya tidak menyangka bahwa masyarakat Papua Nugini merupakan komunitas yang sangat menghargai persaudaraan. Masyarakat Papua Nugini sangat menghargai keinginan untuk saling mengenal dan bersahabat secara tulus.

Bahkan bagi saya yang merupakan "orang luar", ketika mereka menganggap saya sudah menjadi bagian dari komunitasnya, mereka menjaga saya dan keluarga saya. Baik dalam komitmen kemitraan profesional ataupun dalam kehidupan sosial kemasyarakatan.

Salah satu mitra terdekat saya adalah Wari Ila yang bekerja pada media nasional di Papua Nugini. Sosoknyalah yang banyak mengajarkan saya mengenai berbagai hal di Papua Nugini. Wari juga menunjukkan saya berbagai sisi di Kota Port Moresby yang umumnya tidak akan didatangi oleh orang asing.

Bagi saya beserta istri dan anak-anak kami, Wari Ila merupakan paman. Keluarga Ila merupakan keluarga kami juga. Bahkan setelah penugasan saya berakhir dan harus kembali ke Jakarta, Wari sempat mengunjungi saya disela perjalanannya ke Indonesia.

Wari tengah meliput kegiatan Duta Besar RI bersama komunitas setempat di Papua Nugini

Mitra lain yang juga sangat mewarnai perjalanan saya di Port Moresby adalah Hennah Joku. Hennah merupakan diaspora Indonesia yang sejak lahir telah menjadi warga negara Papua Nugini. Dalam berbagai kesempatan kami bertukar pandangan mengenai banyak hal, termasuk juga kesukaan kami akan kuliner Indonesia.

Hennah juga memiliki wawasan yang luas dan konstruktif dalam mempererat hubungan Indonesia dengan Papua Nugini. Latar belakangnya sebagai wartawan dan mengadvokasi gerakan anti kekerasan berbasis gender menjadikannya sosok yang bijak dalam memandang berbagai isu yang berkembang.

Foto bersama Hennah Joku dan komunitas diaspora Indonesia di Papua Nugini

Persahabatan tak melulu soal diplomasi, hal ini juga berlaku pada kehidupan saya di Papua Nugini. Salah satu teman saya yang sangat baik adalah David. Ia adalah seorang pedagang kaki lima yang jarak lapaknya hanya 100 meter dari kompleks kediaman saya.

David pernah bilang bahwa saya satu-satunya orang dari kompleks Indonesia yang pernah mampir ke warungnya, entah sejak kapan. David juga sangat tersentuh bahwa seorang diplomat negara asing mau bolak balik duduk di warungnya sambil bercerita santai dengan pengunjung setempat.

Bagi saya, David adalah sosok yang sangat tulus. Dalam keterbatasannya, David bahkan masih ingin memberikan biskuit secara cuma-cuma bagi anak saya. David juga memastikan bahwa saya dan keluarga saya selalu aman dalam beraktivitas di lingkungan tempat tinggal kami di Papua Nugini.

David memberikan biskuit untuk anak saya

Saat kepulangan saya bersama istri dan anak-anak ke Indonesia, mereka merupakan keluarga yang hadir untuk melepas kami. Keluarga yang telah saling berbagi selama 4 setengah tahun kehidupan kami di Papua Nugini.

Bagi saya saat ini, pengalaman tersebut tentunya bukan sekedar kenangan. Namun menjadi sebuah motivasi untuk terus berkiprah dan berkarya dalam mempererat hubungan Indonesia dan Papua Nugini sebagai negara yang bertetangga dan bersahabat baik.

Banyak pandangan bahwa kehidupan diplomat adalah mengenai keluar masuk sidang internasional ataupun menghadiri resepsi dan gala dinner kelas atas. Anggapan tersebut tidak salah, namun hanya mewakili sebagian kecil dari penugasan para diplomat Indonesia di 131 Kantor Perwakilan Republik Indonesia di luar negeri.

Faktanya para diplomat harus siap untuk berjibaku dengan hampir seluruh aspek diplomasi, termasuk bidang prioritas terkait dengan menjaga kedaulatan NKRI, pelindungan warga negara Indonesia serta kerja sama politik, keamanan, ekonomi, pembangunan, pendidikan, sosial dan budaya.

Bersedia menjadi diplomat juga berarti siap untuk ditugaskan ke berbagai tempat sesuai dengan kepentingan negara. Antara dikirim ke Amerika atau Afrika, Eropa atau Pasifik, sejauh Kolombia atau sedekat Malaysia sudah menjadi hal yang umum dihadapi oleh para diplomat Indonesia. Dalam pengalaman saya, Papua Nugini.