Kesehatan Lansia Terdampak, Kader Posbindu Lansia Meruya Utara Bersuara
Tulisan dari Dear Gracia Garingging tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

Beberapa waktu lalu, saya dan tim melakukan penyuluhan di Posbindu Lansia Meruya Utara. Awalnya kami datang membawa materi kesehatan, namun percakapan dengan para kader mengubah arah kunjungan itu. Dari wawancara, terungkap bahwa posbindu ini berjalan nyaris tanpa dukungan seperti tidak ada subsidi untuk sarana dan prasarana, sehingga kegiatan bertumpu sepenuhnya pada swadaya warga, bukan program yang dibiayai dan dijalankan oleh pemerintah. Asupan gizi yang disediakan pun belum memenuhi standar kesehatan, sehingga kondisi kesehatan sebagian lansia yang rutin hadir dilaporkan menurun. Kenyataan ini bertolak belakang dengan semangat SDG 3 (Kehidupan Sehat dan Sejahtera), yang menargetkan layanan kesehatan bermutu dan terjangkau bagi semua kelompok usia, termasuk lansia.
Para kader ternyata sudah lama memendam keluhan tanpa banyak yang mendengar. Mereka tetap setia melayani, padahal posbindu adalah garda terdepan kesehatan lansia di tingkat komunitas. Dalam kerangka SDGs, persoalan gizi yang belum memenuhi standar beririsan dengan SDG 2 (Tanpa Kelaparan), yang menekankan pemenuhan gizi bagi kelompok rentan, sedangkan minimnya dukungan pemerintah setempat menunjukkan perlunya penguatan SDG 17 (Kemitraan untuk Mencapai Tujuan) agar kader, pemerintah, tenaga kesehatan, dan akademisi bisa bergerak bersama. Setelah wawancara selesai, kami punya gambaran jelas tentang bentuk bantuan yang paling dibutuhkan. Kami berharap tulisan ini membuka mata banyak pihak bahwa lansia yang sehat tidak lahir dari semangat saja, tetapi dari sarana yang layak, gizi yang tercukupi, dan kolaborasi yang nyata.

