Konten dari Pengguna

Simulasi MUN, Cara Mahasiswa Belajar Isu Dunia Tanpa ke Forum Internasional

comment
0
sosmed-whatsapp-white
copy-circle
more-vertical

Tulisan dari Dear Gracia Garingging tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

Sumber Foto : Dokumentasi pribadi penulis
zoom-in-whitePerbesar
Sumber Foto : Dokumentasi pribadi penulis

Simulasi Model United Nations (MUN) kembali digelar di kampus saya, kali ini mengangkat topik keterkaitan pertumbuhan ekonomi, kerentanan sosial, dan human trafficking di Kamboja dari perspektif hak asasi manusia. Saya berperan sebagai delegasi Amerika Serikat, menyampaikan keprihatinan atas meningkatnya kasus perdagangan manusia di Asia Tenggara akibat pertumbuhan ekonomi yang tidak merata. Kegiatan ini dibimbing langsung oleh pembina kami yaitu Ibu Mauly Arzak Julika, S.I.Kom., M.I.Kom., yang mengarahkan saya dan rekan-rekan mahasiswa untuk dapat memahami isu global secara kritis lewat forum bergaya sidang PBB.

Dalam opening speech, saya sebagai delegasi Amerika Serikat menegaskan bahwa human trafficking merupakan bentuk perbudakan modern yang bertentangan dengan Deklarasi Universal HAM dan Protokol Palermo, sekaligus mengusulkan pendekatan 4P Framework (Prevention, Protection, Prosecution, and Partnership). Empat agenda prioritas itu turut diajukan, mulai dari penguatan penegakan hukum, perlindungan dan pemberdayaan korban, penguatan ketahanan ekonomi masyarakat rentan, hingga transparansi rantai pasok dan tanggung jawab korporasi. Saya sebagai delegasi Amerika Serikat juga mengangkat instrumen Trafficking in Persons (TIP) sebagai alat transparansi, serta melontarkan sejumlah pertanyaan kritis kepada delegasi Kamboja soal tingkat penuntutan pelaku dan keterbukaan terhadap pemantau internasional independen.

Sesi ini berlangsung dinamis, apalagi ketika delegasi lain menyudutkan Amerika Serikat dengan isu seperti masalah trafficking di dalam negerinya sendiri hingga tudingan intervensi urusan negara lain, yang harus dijawab secara diplomatis dan berbasis data. Dari simulasi ini, mahasiswa belajar teknik negosiasi, menyusun argumen berbasis bukti, dan mempertahankan posisi di tengah tekanan forum internasional. Melalui bimbingan Ibu Mauly Arzak Julika, S.I.Kom., M.I.Kom. saya dan rekan-rekan saya turut dibekali untuk berpikir sistematis dan berempati terhadap isu kemanusiaan global.