Mahasiswa Brawijaya Kenalkan QRIS & Pemetaan Administrasi di Desa Nogosari
Tulisan dari Dea Amanda tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

Lumajang, 11 Juli 2025 — Mahasiswa Universitas Brawijaya yang mengikuti Program Mahasiswa Membangun Desa (MMD) UB 2025 berhasil mengadakan kegiatan sosialisasi dan praktik penggunaan sistem pembayaran digital QRIS (Quick Response Code Indonesian Standard) serta pemetaan administrasi pelayanan publik di Desa Nogosari, Kecamatan Rowokangkung, Kabupaten Lumajang. Kegiatan ini dibimbing langsung oleh Dosen Pembimbing Lapangan (DPL), Saparila Worokinasih, S.Sos., M.Si., Ph.D.
Kegiatan ini bertujuan untuk meningkatkan kemampuan literasi digital masyarakat sekaligus mendorong pelaku usaha lokal agar dapat beradaptasi dengan perkembangan teknologi. Melalui penerapan QRIS, transaksi keuangan diharapkan menjadi lebih cepat, aman, dan efisien,mendukung upaya menuju digitalisasi ekonomi desa.
Nidaurrohmah, penanggung jawab program digitalisasi UMKM, menyampaikan pentingnya sistem pembayaran nontunai dalam mendorong pertumbuhan ekonomi lokal. “Kami ingin UMKM di Nogosari tidak tertinggal dalam era digital. QRIS bukan hanya soal teknologi, tapi juga strategi agar usaha mereka lebih berkembang,” ungkapnya dalam sosialisasi tersebut.
Sebelum sosialisasi, tim mahasiswa melakukan survei door-to-door kepada masyarakat untuk mengetahui minat mereka terhadap penggunaan QRIS. Hasil awal menunjukkan hanya 1 dari 20 pelaku UMKM yang berminat. Namun, pasca sosialisasi, terjadi peningkatan yang lumayan signifikan yaitu 1 dari 7 pelaku usaha menunjukkan ketertarikan untuk mulai menggunakan QRIS. Salah satu pelaku UMKM mengatakan, “Sistem pembayaran ini memudahkan kami menerima transaksi tanpa bergantung pada uang tunai. Ini saatnya kita tidak ketinggalan zaman.”
Selain mendorong digitalisasi UMKM, mahasiswa juga melaksanakan program pemetaan administrasi pelayanan publik, yang dipimpin oleh Dea Amanda. Pemetaan ini dilakukan untuk mendukung efisiensi layanan dan perencanaan pembangunan desa. Kegiatan berlangsung melalui beberapa tahap: dimulai dari koordinasi dengan perangkat desa, dilanjutkan dengan survei lapangan untuk mengumpulkan data terkait titik-titik penting seperti sekolah, posyandu, balai desa, jalan, dan batas wilayah. Data kemudian diolah menjadi peta digital berbasis Sistem Informasi Geografis (SIG) dan dikonsultasikan kembali kepada pihak desa untuk dilakukan fiksasi dan validasi akhir.
“Pemetaan ini kami lakukan agar pemerintah desa memiliki gambaran visual yang akurat untuk merancang pembangunan dan meningkatkan pelayanan publik secara lebih terstruktur,” ungkap Dea Amanda.
Antusiasme peserta sangat tinggi, terlihat dari banyaknya pertanyaan yang diajukan terkait manfaat QRIS dan pemanfaatan hasil pemetaan. Keterlibatan aktif masyarakat menjadi indikator keberhasilan kegiatan ini dalam meningkatkan kesadaran akan pentingnya inovasi digital di desa.
Kepala Desa Nogosari, Bapak Edi Supeno, menyampaikan apresiasinya atas kontribusi mahasiswa MMD. “Kami sangat terbantu. Inovasi dari adik-adik mahasiswa membuka jalan bagi desa kami menuju pelayanan publik yang lebih baik dan ekonomi yang lebih maju,” ungkapnya.
Program ini merupakan bentuk nyata komitmen Universitas Brawijaya dalam mendukung pembangunan desa berbasis teknologi, sejalan dengan tujuan pembangunan berkelanjutan (SDGs), khususnya poin 8 (Pekerjaan Layak dan Pertumbuhan Ekonomi) dan poin 9 (Industri, Inovasi, dan Infrastruktur).
Melalui kegiatan ini, mahasiswa tidak hanya mengimplementasikan ilmu di lapangan, tetapi juga memberikan kontribusi nyata bagi masyarakat, sekaligus menjadi penggerak perubahan di tingkat desa.
Penulis:
Dea Amanda
Nidaurrohmah

